šŸ“‘ Daftar Isi

Ilustrasi model AI seperti ChatGPT, Claude, dan Gemini yang serempak mengkritik konformitas manusia

12 Model AI Serempak Sebut Manusia Utamakan Kelompok Ketimbang Kebenaran

Penulis:Ida Farida
Terbit:
Diperbarui:
ā±ļø4 menit membaca
Bagikan:
  • 12 model AI termasuk ChatGPT, Claude, Gemini, Grok, dan DeepSeek diminta menyampaikan opini paling kontroversial tentang manusia
  • 29 dari 35 respons menyebut manusia lebih peduli rasa memiliki kelompok ketimbang kebenaran
  • Grok 4.7: manusia lebih memilih salah bersama-sama ketimbang benar sendirian
  • Claude Opus 5.5 jadi pengecualian dengan pandangan bahwa manusia lebih baik dari yang mereka akui
  • 6 generator gambar AI justru mengkritik manusia sebagai konsumen terobsesi teknologi yang merusak planet
  • Hasil bukan bukti ilmiah, melainkan cerminan pola yang dipelajari AI selama pelatihan

Telset.id – Sebanyak 12 model AI terkemuka, termasuk ChatGPT, Claude, Gemini, Grok, dan DeepSeek, diminta menyampaikan opini paling kontroversial tentang manusia. Hasilnya nyaris seragam: 29 dari 35 respons menegaskan bahwa manusia lebih peduli pada rasa memiliki kelompok ketimbang menemukan kebenaran. Temuan ini menjadi sorotan karena kritik soal konformitas justru muncul dari mesin yang dilatih dengan pola serupa.

Eksperimen tersebut dipublikasikan ModelCompare pada 22 Oktober. Peneliti mengajukan pertanyaan yang sama tiga kali kepada setiap model, dengan instruksi agar masing-masing memberikan pandangan sendiri, bukan merangkum opini pihak lain. Dari 35 respons yang terkumpul, mayoritas mengarah pada satu gagasan inti yang sama.

Ironi yang mencuat, seperti dilaporkan dalam pembahasan kritik konformitas, para model AI tampak memperlihatkan versi konformitas mereka sendiri saat mengkritik kecenderungan serupa pada manusia. Jawaban yang seharusnya bersifat individual malah mengerucut pada kesimpulan yang hampir identik.

AI robot hand touching human hand

Dari Grok hingga DeepSeek

Beberapa respons tergolong blak-blakan. GPT-6.1 Sol berargumen bahwa manusia memprioritaskan rasa memiliki di atas kebenaran, dan menyiratkan bahwa kecerdasan kerap dipakai untuk membuat pembenaran terdengar lebih meyakinkan. Grok 4.7 memberikan salah satu jawaban paling mudah diingat: manusia lebih memilih salah bersama-sama ketimbang benar sendirian.

Gemini 4 Argon melangkah lebih jauh dengan menyebut bahwa orang memakai kecerdasannya untuk membela keputusan yang diambil berdasarkan insting, bukan untuk mencapai kesimpulan objektif. Sementara DeepSeek V4 Pro menilai manusia lebih mahir merasionalisasi keyakinannya ketimbang memeriksanya kembali.

Yang menarik, tujuh model memberikan variasi kritik serupa di ketiga responsnya. Setiap model setidaknya menyampaikan gagasan itu satu kali. Meski pilihan kata berbeda, pesannya tetap sama: keinginan untuk diterima diduga memengaruhi keyakinan seseorang lebih besar daripada yang disadari.

Claude dan Pengecualian Lain

Tidak semua jawaban bernada pesimistis. Claude Opus 5.5 menghadirkan pandangan yang paling tak terduga dalam eksperimen ini, dengan menyebut bahwa manusia sebenarnya lebih baik dan lebih bermoral daripada yang mereka akui sendiri. Alih-alih mengkritik sifat egois atau konformitas, Claude menyoroti jarak antara cara orang memandang sesamanya secara buruk dan betapa dermawannya orang asing bisa bersikap.

Jawaban itu menjadi pembeda yang mencolok, meski Claude juga menggemakan kritik yang lebih luas di dua jawaban lainnya. Pengecualian lain justru lebih gelap. Mistral Large 4 menggambarkan kesadaran manusia sebagai kerusakan evolusi, sementara model lain menyebut orang mungkin mengorbankan kebahagiaan hanya demi merasa penting.

Pengecualian tersebut menunjukkan bahwa para model sebenarnya mampu menghasilkan opini yang berbeda. Mereka hanya cenderung bergerak menuju kritik yang sangat mirip ketika diminta menyampaikan pandangan kontroversial.

Claude vs ChatGPT vs Gemini vs DeepSeek

Eksperimen ini juga tidak berhenti pada chatbot. ModelCompare meminta enam generator gambar AI mengilustrasikan opini paling kontroversial mereka tentang manusia. Sepuluh dari 12 gambar yang dihasilkan berpusat pada tema berbeda: manusia sebagai konsumen yang terobsesi teknologi dan merusak planet. Gambar-gambar itu menampilkan orang yang asyik menggulir ponsel sambil mengabaikan bahaya, mengonsumsi sumber daya, dan tetap teralihkan ketika dunia di sekitarnya memburuk.

Yang mengejutkan, tidak satu pun dari 35 respons model teks menyebut ponsel atau kerusakan lingkungan sebagai kritik utamanya. Perbedaan itu diduga berkaitan dengan informasi yang dipelajari masing-masing jenis AI. Model bahasa dilatih dengan materi tertulis dalam jumlah besar, termasuk argumen soal psikologi dan perilaku manusia, sedangkan generator gambar mempelajari pola visual yang bisa mencakup kartun editorial dan komentar sosial yang familier.

AI will be part of our everyday lives in future

Meski demikian, hasil ini bukan bukti ilmiah bahwa manusia menilai rasa memiliki lebih tinggi daripada kebenaran. Ada konsep psikologis nyata di balik respons tersebut, yakni motivated reasoning, yang menggambarkan bagaimana preferensi, keyakinan yang sudah ada, dan identitas sosial dapat memengaruhi cara seseorang menafsirkan informasi. Riset juga telah menelaah seberapa kuat identitas kelompok membentuk keyakinan, meski para psikolog masih memperdebatkan cara kerja efek tersebut.

Perlu dicatat, model diberi prompt yang sengaja provokatif, dan peneliti mengelompokkan jawaban secara manual ke dalam kategori luas. Eksperimen ini melibatkan jumlah respons yang relatif kecil serta tidak menguji bagaimana hasilnya berubah jika instruksi diberikan secara berbeda. Model AI tidak membutuhkan keyakinan pribadi untuk menghasilkan opini yang tegas, karena mereka dapat mereproduksi argumen dan pola yang dipelajari selama pelatihan.

Dengan kata lain, jawaban tersebut mungkin lebih banyak bercerita tentang cara manusia menulis dan membicarakan dirinya sendiri ketimbang tentang hakikat manusia. Bagi pengguna yang mengandalkan model AI untuk mencari nasihat, temuan ini relevan: penting untuk mempertanyakan jawaban yang terdengar meyakinkan hanya karena banyak pihak tampak setuju.

Eksperimen ModelCompare setidaknya menangkap ironi tersebut dengan rapi. Ketika diminta menyampaikan sesuatu yang kontroversial, banyak model berbeda justru meraih kritik yang familier tentang kecenderungan manusia untuk konformis. Itulah yang mungkin menjadi pelajaran terbesar dari pengujian ini.

[ META_DESCRIPTION]
Eksperimen ModelCompare: 12 model AI termasuk ChatGPT, Claude, dan Gemini serempak sebut manusia lebih peduli kelompok ketimbang kebenaran.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.