
Negara-negara berlomba membangun AI 'berdaulat', namun mayoritas proyek tetap bergantung pada mitra asing, terutama AS.
key_pointPasar Sovereign AI global diproyeksikan tumbuh 19-20% per tahun, mencapai USD 180-300 miliar pada awal 2030-an.
Mayoritas proyek Sovereign AI global masih bergantung pada mitra asing, dengan NVIDIA memasok GPU untuk 45% proyek.
Lebih dari 80% investasi Sovereign AI terkonsentrasi di Timur Tengah dan Asia Timur, dengan UEA dan Jepang mendominasi.
Model AI arus utama tidak efisien untuk bahasa non-Inggris, membutuhkan lebih banyak token dan biaya lebih tinggi.
AI Singapore memimpin pengembangan model bahasa regional untuk mengatasi minimnya sumber daya digital bahasa Asia Tenggara.
Model lokal Indonesia di-fine-tune dengan 448 ribu pasangan instruksi Bahasa Indonesia, 96 ribu Jawa, dan 98 ribu Sunda.
Peta Jalan AI Nasional telah disusun, namun RPerpres Etika AI terus tertunda dan Lembaga Pengawas Data Pribadi belum berdiri.
Ekspansi data center besar-besaran di Indonesia masih ditopang oleh listrik dari PLTU batu bara, mempertanyakan klaim 'Green'.
Indonesia kekurangan talenta digital dalam jumlah besar, dengan proyeksi bervariasi antara 3 hingga 12 juta orang hingga 2030.
Belanja riset Indonesia sangat rendah, hanya seperempat dari rata-rata ASEAN dan sepersepuluh dari rata-rata dunia.
Kedaulatan AI paling realistis bukan kemandirian total, melainkan kemampuan mengelola ketergantungan secara strategis.
conclusion