πŸ“‘ Daftar Isi

Ilustrasi ponsel yang sedang mengisi daya dengan berbagai standar fast charging

Mengenal Standar Fast Charging USB-C dan Bedanya

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️4 menit membaca
Bagikan:
  • USB PD menjadi standar fast charging paling universal, didukung iPhone 17, Samsung, dan Google
  • PPS memungkinkan pengisian daya lebih presisi dan efisien dengan manajemen panas lebih baik
  • Quick Charge mulai ditinggalkan karena USB PD lebih banyak diadopsi industri
  • SuperVOOC (OnePlus/Oppo) dan HyperCharge (Xiaomi) butuh charger proprietary untuk kecepatan maksimal
  • Klaim kecepatan 80W-100W hanya berlaku saat baterai rendah, bukan terus-menerus
  • Fast charging tidak selalu merusak baterai karena ponsel modern punya manajemen suhu
  • Fitur perlindungan baterai tersedia di iPhone, Samsung, dan Pixel untuk menjaga umur baterai
  • Rekomendasi charger: USB-C PD dengan PPS dan watt cukup untuk perangkat paling boros daya

Telset.id – Standar fast charging saat ini sangat beragam, mulai dari USB Power Delivery (PD), PPS, hingga SuperVOOC. Keragaman ini kerap membuat pengguna bingung menentukan charger yang tepat. Padahal, prinsip dasarnya cukup sederhana: kecepatan pengisian daya tidak ditentukan oleh port USB-C semata, melainkan oleh teknologi di dalam perangkat dan charger yang digunakan.

Kecepatan pengisian daya terbaik biasanya didapat dengan mencocokkan perangkat dengan kabel dan charger yang tepat. Sebagai contoh, ponsel dengan dukungan maksimal 20W tidak akan otomatis menerima daya 100W meski dicolokkan ke charger 100W. Sebaliknya, jika ponsel mendukung protokol fast charging tertentu tetapi charger tidak mendukung protokol tersebut, kecepatan pengisian tidak akan maksimal.

Striking black-and-white photo of a phone charging

Standar Fast Charging Utama

Saat ini, USB Power Delivery (USB PD) menjadi standar yang paling mendekati universal. Standar ini digunakan secara luas di ponsel, tablet, laptop, dan sebagian perangkat gaming portabel. Versi terbaru USB PD terus mendorong batas kemampuannya, dengan USB PD 3.1 yang menaikkan daya maksimum hingga 240W, sementara USB PD 3.2 menjadi revisi spesifikasi terbaru.

Tingkat daya tinggi tersebut ditujukan untuk perangkat yang lebih menuntut seperti laptop dan monitor. Sementara itu, ponsel pada umumnya tidak membutuhkan daya mendekati batas maksimum tersebut. Selain itu, batasan termal membuat daya 240W menjadi tidak praktis dan tidak diperlukan untuk perangkat genggam.

Seri iPhone 17 termasuk perangkat yang mendukung USB PD. Sementara itu, ponsel Samsung dan Google menggunakan sistem fast charging yang dibangun di atas USB PD dan fitur PPS (Programmable Power Supply). PPS merupakan salah satu fitur USB PD paling canggih yang tersedia di ponsel, yang memungkinkan perangkat meminta perubahan voltase dan arus yang lebih kecil dan presisi saat pengisian daya berlangsung. Hal ini dapat meningkatkan efisiensi dan membantu manajemen panas.

Samsung Galaxy S26 Ultra menggunakan PPS sebagai bagian dari sistem β€œSuper Fast Charging 3.0” 60W. Adapun Google Pixel 11 menggunakan pengisian daya USB-C PPS untuk mencapai kecepatan tercepat yang diiklankan, dengan Pixel 11 Pro dirancang untuk charger PPS 45W. Bagi pengguna flagship Android yang menginginkan charger USB-C serbaguna, PD dengan PPS adalah pilihan utama.

An Anker USB PD wall plug

Di sisi lain, Qualcomm Quick Charge yang pernah menjadi salah satu sistem fast charging pertama untuk ponsel Android kini mulai ditinggalkan. USB PD telah menjadi standar yang lebih banyak diadopsi di industri mobile, bahkan versi Quick Charge terbaru juga mendukung USB PD. Yang menarik, kehadiran chip Qualcomm tidak menjamin perangkat menggunakan Quick Charge, karena produsen ponsel dapat memilih sistem fast charging lain.

Beberapa produsen ponsel Android justru menggunakan sistem fast charging proprietary mereka sendiri. OnePlus dan Oppo menggunakan teknologi berbasis SuperVOOC, sementara Xiaomi menggunakan HyperCharge pada sebagian modelnya. Kendalanya, mencapai kecepatan tertinggi yang diiklankan biasanya membutuhkan charger proprietary yang kompatibel dan, dalam banyak kasus, kabel yang tepat juga.

Meski demikian, banyak ponsel tersebut juga mendukung pengisian daya USB-C PD, meskipun kecepatannya mungkin tidak mendekati angka yang diiklankan untuk sistem proprietary. Perlu dicatat pula bahwa klaim produsen sebaiknya disikapi dengan bijak. Ponsel yang dipasarkan dengan dukungan pengisian daya 80W atau 100W tidak menarik daya tersebut secara terus-menerus dari kosong hingga penuh. Sebaliknya, pengisian daya cenderung paling cepat saat baterai cukup rendah, kemudian menurun drastis seiring baterai terisi.

Fast Charging dan Kesehatan Baterai

Banyak pengguna khawatir fast charging merusak baterai, namun anggapan tersebut tidak sepenuhnya benar. Baterai lithium-ion memang mengalami degradasi seiring waktu, dan panas yang dihasilkan fast charging dapat mempercepat proses tersebut. Namun, ponsel masa kini dirancang untuk mengelola hal ini.

Screenshots showing battery protection / optimization settings on a Samsung phone (left) and iPhone

Ponsel modern dapat memantau suhu, mengurangi daya saat diperlukan, dan menurunkan kecepatan pengisian saat baterai mendekati penuh. Jadi, pengguna tidak perlu terlalu khawatir fast charging merusak kesehatan baterai jangka panjang. Namun, jika tidak sedang terburu-buru mengisi baterai, tidak ada keuntungan jangka panjang dari menggunakan fast charging. Pengisian daya yang lebih lambat dengan suhu terkendali bisa lebih ramah bagi baterai.

Dalam praktiknya, manajemen suhu dan kebiasaan pengisian daya memiliki pengaruh lebih besar terhadap umur baterai dibandingkan protokol fast charging spesifik yang digunakan. Pengguna disarankan menghindari membiarkan perangkat terisi penuh sepanjang waktu atau mengisi ponsel yang sudah panas di bawah sinar matahari langsung. Bermain game berat sambil mengisi daya juga sebaiknya dihindari.

Beberapa ponsel seperti keluarga Galaxy S26 memiliki pengaturan yang memungkinkan pengguna menjeda pengisian daya saat bermain game dan menggunakan arus dari stopkontak untuk menyalakan perangkat saja. Fitur ini menjaga level baterai tetap stabil tanpa memberi tekanan pada ponsel.

Cara terbaik menjaga baterai adalah memanfaatkan fitur perlindungan baterai bawaan ponsel. Apple memiliki Optimized Battery Charging yang mempelajari kebiasaan pengguna dan dapat menunda pengisian daya di atas 80 persen ketika ponsel diperkirakan akan tetap terhubung dalam waktu lama. iPhone 15 dan model yang lebih baru juga memungkinkan pengguna menyesuaikan batas pengisian antara 80 hingga 100 persen.

Samsung dan Google juga memiliki fitur serupa: Battery Protection pada ponsel Samsung, dan Charging Optimization (termasuk Adaptive Charging dan batas 80 persen) pada ponsel Pixel.

Bagi pengguna yang membutuhkan satu charger untuk semua perangkat, carilah charger dengan USB-C Power Delivery beserta PPS dan watt yang cukup untuk perangkat paling boros daya. Charger semacam ini kompatibel dengan banyak ponsel modern serta tablet dan laptop. Meskipun tidak selalu membuka kecepatan pengisian proprietary maksimum pada ponsel OnePlus, Oppo, atau Xiaomi, charger ini adalah pilihan paling aman untuk kompatibilitas luas.

Keragaman nama standar pengisian daya memang membingungkan, tetapi saran pembeliannya cukup sederhana: pilih charger USB-C PD dengan dukungan PPS yang sesuai kebutuhan daya perangkat Anda.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.