šŸ“‘ Daftar Isi

Ilustrasi panggilan telepon penipuan yang mengaku sebagai polisi dan pejabat pemerintah

FBI Ungkap Kerugian Rp26 Triliun dari Penipuan Mengaku Polisi

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
ā±ļø4 menit membaca
Bagikan:
  • FBI mencatat hampir 61.000 pengaduan penipuan mengaku polisi dan pejabat pemerintah antara Januari 2025 dan Juli 2026
  • Kerugian korban mencapai sekitar $1,6 miliar atau setara Rp26 triliun
  • Rata-rata kerugian per insiden sekitar $26.000, dan 10% total kerugian berasal dari satu skema tunggal
  • Korban utama meliputi mahasiswa internasional, warga asing, dan imigran yang diancam ekstradisi serta kehilangan paspor
  • Pelaku membangun set studio, mengenakan seragam, dan tampil dalam panggilan video untuk meyakinkan korban
  • FBI menyarankan tetap tenang, meminta kredensial, memverifikasinya, dan mengingat bahwa aparat resmi tidak pernah meminta uang

Telset.id – FBI mengungkap bahwa penipuan yang mengaku sebagai polisi dan pejabat pemerintah telah merugikan korban hingga sekitar $1,6 miliar atau setara Rp26 triliun. Pusat Pengaduan Kejahatan Internet (IC3) FBI menerima hampir 61.000 pengaduan terkait modus ini sepanjang periode Januari 2025 hingga Juli 2026. Temuan ini menunjukkan skala kerugian yang masif dari penipuan mengaku polisi yang menyasar berbagai kalangan, termasuk warga negara asing dan imigran.

Angka tersebut mencerminkan rata-rata kerugian sekitar $26.000 per insiden penipuan. Yang lebih mengkhawatirkan, sekitar 10% dari seluruh kerugian dilaporkan berasal dari satu skema penipuan tunggal, meskipun skema itu hanya menyasar kurang dari 3% dari total korban. Data ini menegaskan bahwa pelaku tidak hanya mengandalkan volume, tetapi juga mampu menargetkan korban tertentu dengan kerugian yang jauh lebih besar.

Modus yang digunakan pelaku cukup beragam. Menurut FBI, penipuan ini mencakup tuduhan melewatkan tugas juri (jury duty) hingga ancaman penangkapan karena keterkaitan tidak langsung dengan dugaan tindak pidana. Dalam setiap kasus, permintaan pelaku pada akhirnya sama, yaitu pembayaran dari korban. Pelaku juga dilaporkan menggunakan panggilan telepon tak diminta dan dalam beberapa kasus panggilan video untuk meyakinkan target mereka.

Kelompok korban yang menjadi sasaran khusus adalah mahasiswa internasional, warga negara asing yang sedang berkunjung, serta imigran. Mereka tidak hanya diancam dengan ekstradisi, tetapi juga dihadapkan pada ancaman kehilangan paspor negara asal mereka. Untuk memperkuat ilusi, pelaku bahkan membangun set studio sungguhan, mengenakan seragam atau jas, dan tampil dalam panggilan video sehingga korban yakin sedang berbicara dengan aparat penegak hukum asing atau diplomat yang berbasis di Amerika Serikat.

Rekayasa sosial yang dibangun pelaku bertujuan menciptakan kesan resmi demi melancarkan aksi mereka. Korban yang percaya bahwa mereka tengah berurusan dengan otoritas resmi akhirnya membayar sejumlah uang agar dapat tetap tinggal di negara adopsi mereka. Pola ini menunjukkan bahwa penipuan mengaku polisi tidak hanya mengandalkan tekanan psikologis, tetapi juga kemampuan pelaku membangun panggung kepercayaan yang meyakinkan.

FBI menekankan bahwa tidak semua penipuan jenis ini terjadi di Amerika Serikat. Praktik ini dapat berlangsung secara online maupun offline, dan dikenal sebagai fenomena kriminal internasional. Karena itu, kewaspadaan terhadap modus serupa tetap relevan bagi pengguna di berbagai negara, termasuk Indonesia, terutama seiring meningkatnya pemanfaatan teknologi dalam aksi penipuan digital seperti yang dibahas dalam AI Agen di Iklan Digital.

Phone scam- vishing

Cara Mengenali dan Menghindari Penipuan Mengaku Polisi

FBI memberikan sejumlah langkah praktis untuk menghindari modus penipuan ini. Langkah pertama adalah tetap tenang. Situasi semacam ini dirancang untuk menimbulkan stres dan kecemasan tinggi. Pelaku mengandalkan faktor-faktor tersebut untuk mengaburkan penilaian korban dan memaksakan narasi yang mereka jual, misalnya klaim bahwa korban melewatkan tugas juri atau keberadaan korban di suatu negara adalah ilegal.

Langkah kedua, penting untuk meminta kredensial atau identitas resmi dari pihak yang menghubungi. Kegagalan memberikan kredensial menjadi tanda bahaya pertama bahwa orang yang berkomunikasi bukanlah seperti yang mereka klaim. Jika hal ini terjadi, itu adalah sinyal untuk mengakhiri percakapan.

Langkah ketiga adalah memverifikasi kredensial tersebut. Tidak masalah berapa lama proses pengecekan berlangsung, karena pemanggil yang sah tidak akan keberatan menunggu selama korban melakukan pengecekan latar belakang yang diperlukan, bahkan jika harus menelepon kembali. Pendekatan berhati-hati ini sejalan dengan pentingnya keamanan data yang juga menjadi sorotan dalam kasus Meta Digugat.

Langkah keempat sekaligus yang paling penting: aparat penegak hukum, layanan keamanan, maupun FBI tidak akan pernah meminta uang. Jika permintaan pembayaran muncul, itu adalah saat yang tepat untuk mengakhiri panggilan. Prinsip ini menjadi pembeda utama antara komunikasi resmi dan upaya penipuan.

FBI juga mengingatkan bahwa pengguna sebaiknya memblokir panggilan spam sebagai langkah pencegahan dasar. Namun, jika panggilan tetap masuk tanpa sengaja, langkah-langkah di atas dapat menjadi panduan untuk melindungi diri. Kewaspadaan terhadap modus kejahatan digital menjadi semakin penting seiring beragamnya taktik yang digunakan pelaku, termasuk dalam ranah teknologi yang terus berkembang seperti yang tercermin dari Rekap Ponsel.

Kasus ini menunjukkan bahwa penipuan mengaku polisi dan pejabat pemerintah bukan sekadar gangguan kecil, melainkan ancaman serius dengan kerugian finansial yang sangat besar. Dengan memahami modus, mengenali tanda-tanda bahaya, dan menerapkan langkah pencegahan yang tepat, pengguna dapat mengurangi risiko menjadi korban. FBI menegaskan bahwa verifikasi kredensial dan penolakan terhadap permintaan uang adalah kunci utama dalam menghadapi situasi semacam ini.

[ META_DESCRIPTION]
FBI mengungkap penipuan mengaku polisi dan pejabat pemerintah merugikan korban hingga $1,6 miliar dengan hampir 61.000 pengaduan antara Januari 2025 dan Juli 2026.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.