📑 Daftar Isi

Sapa: Cat Cat Village, Stone Church, dan Detail yang Biasanya Luput

#YouandAICan: Lima Hari Bersama Galaxy S26 Ultra di Vietnam — Ini yang Kami Temukan

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️9 menit membaca
Bagikan:

Ada yang berbeda dari press trip kali ini. Bukan hotelnya — meski Hotel de la Coupole di Sapa dan Dolce by Wyndham di Hanoi adalah dua properti yang sulit dilupakan. Bukan rutenya — meski Fansipan dan Train Street Hanoi adalah kombinasi itinerary yang tidak biasa untuk sebuah peluncuran produk.

Yang berbeda adalah Galaxy S26 Ultra itu sendiri.

Setelah lima hari menggunakannya di kondisi yang tidak bisa lebih bervariasi — dari lobi hotel bergaya Prancis kolonial, cable car di ketinggian tanpa sinyal, lintasan Alpine Coaster yang miring ekstrem, sampai gang sempit Train Street Hanoi yang padat di malam hari — saya pulang dengan kesimpulan yang lebih kompleks dari sekadar “kameranya bagus.”

Ini catatannya, hari per hari.

Hanoi: Tiba, Workshop, dan Kesan Pertama

Batch 2 mendarat di Noi Bai International Airport pukul 17.40 waktu setempat. Tidak ada perbedaan zona waktu dengan Jakarta — Vietnam dan Indonesia sama-sama GMT+7, detail kecil yang terasa besar ketika jet lag tidak menjadi variabel perjalanan. Transfer ke Dolce by Wyndham memakan waktu sekitar satu jam. Hanoi di sore hari adalah kota yang bergerak dalam frekuensi tersendiri — motor yang tidak berhenti, klakson yang berbicara dalam bahasa sendiri, infrastruktur kota lama yang hidup berdampingan dengan bangunan baru tanpa terlihat canggung.

Hanoi: Tiba, Workshop, dan Kesan PertamaMalam pertama diisi dengan workshop — presentasi resmi dari Ilham Indrawan, MX Product Marketing Senior Manager Samsung Electronics Indonesia, dan sesi bersama Andy Garcia, content creator dan anggota Team Galaxy. Di sinilah Galaxy S26 Ultra diperkenalkan secara formal sebagai subjek perjalanan ini.Dua hal yang langsung menarik perhatian dari presentasi malam itu.

Pertama, Samsung tidak lagi menjual kamera — mereka menjual sistem. Kamera utama 200MP dengan aperture f/1.4 bukan angka untuk dibanggakan di atas kertas, melainkan infrastruktur yang memungkinkan fleksibilitas komposisi dan detail yang baru terasa manfaatnya di lapangan. Aperture f/1.4 sendiri adalah lompatan signifikan dari f/1.7 di generasi sebelumnya — secara matematis berarti sensor menerima 47% lebih banyak cahaya, sebuah perbedaan yang tidak kecil dalam kondisi low-light.

Kedua, Privacy Display diposisikan bukan sebagai fitur tambahan, melainkan sebagai inovasi arsitektur yang fundamental. Ini bukan software filter atau film pelindung yang ditempel di atas layar — ini teknologi yang diimplementasikan di level panel selama proses manufaktur, menjadikan Galaxy S26 Ultra sebagai smartphone pertama di dunia yang memiliki Privacy Display built-in di level hardware.
Klaim yang ambisius. Dan klaim yang akan saya uji keesokan harinya.

Sapa: Cat Cat Village, Stone Church, dan Detail yang Biasanya Luput

Perjalanan darat Hanoi–Sapa memakan waktu sekitar lima jam. Galaxy Buds4 Pro menjadi teman perjalanan yang legitimate — Active Noise Cancellation meredam suara mesin bus dengan konsisten, dan audio playback yang dihasilkan dari pairing seamless dengan S26 Ultra terasa jauh lebih natural dari yang biasanya saya ekspektasikan dari TWS di kelas ini.

Cat Cat Village: Ketika 200MP Bukan Soal Megapixel

Cat Cat Village adalah desa komunitas H’Mong yang sudah berdiri ratusan tahun. Hari kami datang, desa ini sedang dikunjungi ratusan turis — termasuk rombongan tiga puluh lebih jurnalis dengan kamera terbaik tahun ini. Di sinilah 200MP pertama kali membuktikan nilainya secara konkret — bukan di angkanya, tapi di kemampuan yang diberikannya.

Kemampuan untuk mengabadikan detail dari jarak yang tidak mengganggu subjek. Bordir di kerah pakaian tradisional H’Mong yang rumit, dari jarak tiga meter. Tekstur kain tenun yang dikerjakan tangan selama berjam-jam, tanpa perlu berdiri tepat di depan pengrajinnya. Ekspresi wajah yang tidak dibuat untuk kamera — yang biasanya hanya bisa ditangkap dengan proximity yang menginterupsi momen — kini bisa didapat dari jarak yang respectful.

Itu kemampuan yang genuinely berguna. Bukan hanya untuk jurnalis, tapi untuk siapapun yang ingin mengabadikan sesuatu yang nyata tanpa mengubahnya dengan kehadiran kamera yang terlalu dekat.

Stone Church: Nightography di Kondisi yang Tidak Dikondisikan

Sore harinya, kami bergeser ke Sapa Stone Church — gereja batu bersejarah yang menjadi landmark kota Sapa. Semua orang akan menunggu kondisi ideal untuk menguji Nightography. Saya memilih pendekatan sebaliknya: gereja di bawah kabut tipis, pencahayaan jalan yang tidak merata, dan kabut yang masuk dari arah barat — kombinasi yang paling tidak menguntungkan untuk fotografi malam.

Hasilnya justru lebih informatif dari kondisi ideal manapun. Nightography Galaxy S26 Ultra dalam kondisi tersebut menunjukkan tiga hal yang layak dicatat: noise dikelola dengan baik di area shadow, detail batu dinding gereja tetap terbaca dalam pencahayaan sangat rendah, dan dynamic range antara area gelap dan sumber cahaya langsung tidak collapse menjadi highlight yang terbakar. Ini bukan magic. Ini kombinasi sensor besar, aperture f/1.4 yang membiarkan masuk lebih banyak cahaya, dan AI processing on-device yang bekerja pada level yang sudah melampaui kemampuan manual dalam kondisi yang sama.

Fansipan: “Atap Indochina” dan Horizontal Lock

Hari ketiga adalah hari yang paling banyak menguji Galaxy S26 Ultra secara teknis. Fansipan Cable Car: On-Device AI Bukan Lagi Sekadar Klaim. Fansipan, dengan ketinggian 3.147,3 mdpl, adalah puncak tertinggi di Semenanjung Indochina — meliputi Vietnam, Laos, dan Kamboja — sehingga mendapat julukan “Atap Indochina.” Di dalam gondola cable car yang membawa kami ke atas: tidak ada sinyal (saya sengaja mematikan sinyal).
Di sinilah arsitektur Galaxy S26 Ultra membuktikan sesuatu yang selama ini lebih sering menjadi poin presentasi daripada pengalaman nyata.

Snapdragon 8 Elite Gen 5 for Galaxy yang mentenagai S26 Ultra hadir dengan Neural Processing Unit yang 39% lebih cepat dari generasi sebelumnya, dibangun di arsitektur 3nm. Seluruh komputasi AI — scene optimization, noise reduction, detail enhancement — terjadi langsung di chipset, sepenuhnya independen dari koneksi internet. Foto yang diambil di ketinggian lebih dari 3.000 mdpl tanpa satu bar sinyal pun menghasilkan kualitas yang identik dengan foto yang diambil di hotel dengan koneksi penuh. Itu bukan klaim. Itu hasil yang bisa diverifikasi — dan saya verifikasi.

Optical Zoom 10x dari dalam cable car menghasilkan sesuatu yang sulit tidak terkesan: detail puncak gunung yang sebelumnya hanya terlihat sebagai siluet kabur kini terbaca sebagai struktur yang jelas — batu, vegetasi, dan garis-garis topografi yang tidak terlihat dengan mata telanjang dari jarak yang sama.

Alpine Coaster: Dua Take, Satu Kesimpulan

Horizontal Lock adalah fitur yang mudah diklaim tapi sulit diverifikasi tanpa kontrol yang tepat. Saya merekam dua take di lintasan yang sama — satu dengan Horizontal Lock OFF, satu dengan ON. Bukan untuk benchmark melawan kompetitor, tapi untuk menjawab pertanyaan sederhana: apakah fitur ini bekerja dalam kondisi yang tidak dikondisikan?

Take pertama, Horizontal Lock OFF: di tikungan yang miring ekstrem, horizon di footage ikut miring. Tidak secara dramatis — tapi cukup untuk membuat footage terlihat tidak stabil dan tidak nyaman ditonton.

Take kedua, Horizontal Lock ON: horizon tetap rata sepanjang lintasan. Di tikungan paling tajam, saat badan dan tangan dan HP semuanya miring bersama coaster — gyroscope membaca deviasi, AI mengoreksi setiap frame sebelum tersimpan, dan hasilnya adalah footage yang terlihat seperti direkam dari rig stabil.

Hasilnya tidak memerlukan narasi tambahan. Footage-nya berbicara sendiri.

Hotel de la Coupole: LOG Video dan Demokratisasi Workflow Sinematografi

Sore harinya, sesi content creation di Hotel de la Coupole — properti bergaya Prancis kolonial dengan interior yang seolah memang dirancang untuk direkam. Di sinilah Galaxy S26 Ultra menunjukkan kemampuan yang menurut saya paling underrated dari seluruh feature set-nya: RAW Video dalam format LOG dengan preset LUT bawaan. Workflow-nya sederhana secara konsep tapi profound secara implikasi: rekam dalam format LOG yang flat untuk menyimpan semua informasi warna di setiap pixel, kemudian aplikasikan LUT untuk menentukan tone akhir sesuai kebutuhan kreatif.\

Ini adalah workflow yang sama dengan yang digunakan sinematografer profesional. Gap kualitas antara sensor cinema camera dan HP tentu masih ada — dalam dynamic range dan low-light performance. Tapi untuk distribusi di platform digital, gap perceptual-nya semakin kecil dengan setiap generasi. Dan akses ke workflow ini — yang sebelumnya membutuhkan investasi peralatan signifikan — kini ada di dalam satu perangkat yang masuk ke saku.

Itu demokratisasi yang genuine.

Hanoi: Train Street, Old Quarter, dan Dua Fitur dalam Satu Frame

Hari keempat adalah pergeseran dari alam terbuka ke urban — dari kabut Sapa ke kepadatan Hanoi yang berenergi berbeda.

Train Street: Ketika Dua Fitur Menemukan Koneksinya

Train Street adalah salah satu spot paling ikonik sekaligus paling padat di Hanoi. Gang sempit di mana rel kereta aktif berjarak kurang dari satu meter dari meja kafe — dan di mana kerumunan turis berdesakan dalam jarak yang membuat konsep personal space menjadi relatif. Di sinilah dua fitur Galaxy S26 Ultra yang sebelumnya terlihat tidak berhubungan menemukan koneksinya.

Photo Assist adalah fitur pengeditan berbasis AI yang memungkinkan pengguna menghapus objek dari foto langsung dari Gallery — tanpa aplikasi tambahan, tanpa langganan, tanpa mengirim foto ke server eksternal. Untuk foto di Train Street yang selalu penuh orang di background, ini adalah solusi yang langsung terasa relevan.

Privacy Display — yang diimplementasikan di level panel, bukan software — membatasi sudut pandang layar secara hardware. Di keramaian Train Street di mana jarak antar orang bisa kurang dari 30 sentimeter, ini bukan fitur paranoid. Ini fitur pragmatis.

Koneksi antara keduanya terwujud dalam satu konsep visual: satu subjek berdiri di tengah keramaian Train Street, memegang HP. Foto before: subjek dikelilingi kerumunan. Foto after dengan Photo Assist: semua orang di sekitarnya hilang — background Train Street tetap ada.

Photo Assist menghapus mereka dari foto. Privacy Display mencegah mereka melihat layar sejak awal. Satu filosofi yang sama dalam dua implementasi berbeda: di keramaian manapun, kamu yang menentukan siapa yang boleh melihat.

Old Quarter: Circle to Search sebagai Navigation Tool yang Legitimate

Di Old Quarter Hanoi, papan nama toko dan menu restoran dalam aksara Vietnam bukan hambatan lagi dengan Circle to Search. Lingkari teks, hasil pencarian muncul tanpa perlu keluar dari aplikasi apapun yang sedang dibuka — identifikasi, terjemahan, dan konteks dalam satu gesture. Untuk navigasi di kota asing dengan sistem tulisan non-Latin, ini adalah kemampuan yang mengubah cara berjalan kaki menjadi sesuatu yang jauh lebih confident dan informatif.

Pulang: Lima Hari, Satu Kesimpulan

Check-out dari Dolce by Wyndham. Transfer ke bandara. Penerbangan HAN–CGK dengan transit Singapura. Di Changi, sambil menunggu connecting flight, saya membuka Gallery dan melihat semua foto dan video yang terakumulasi selama lima hari.

Beberapa observasi yang baru terasa jelas dari jarak ini:

  • Tentang 200MP dan f/1.4: Nilai sesungguhnya bukan di angkanya, tapi di fleksibilitas yang diberikannya — kemampuan crop agresif post-shoot tanpa kehilangan resolusi berarti, zoom yang tajam tanpa perlu fisik mendekati subjek, dan penerimaan cahaya 47% lebih banyak dari generasi sebelumnya yang terasa nyata di kondisi low-light.
  • Tentang Nightography: Bekerja paling impressive di kondisi yang tidak ideal. Gerimis di Stone Church adalah test yang lebih valid dari golden hour yang sudah diatur sebelumnya.
  • Tentang Horizontal Lock: Satu-satunya cara membuktikan fitur ini adalah merekam footage tanpa fitur tersebut terlebih dahulu. Kontrol adalah satu-satunya antidot untuk klaim yang tidak terverifikasi.
  • Tentang LOG + LUT: Fitur yang paling sering dilewatkan karena kurva belajarnya lebih curam dari fitur lain. Tapi untuk siapapun yang mau meluangkan waktu memahami workflow-nya, ini adalah kemampuan yang mengubah HP menjadi alat produksi yang legitimate.
  • Tentang Privacy Display: Implementasi di level hardware — bukan software, bukan film tambahan — adalah perbedaan yang fundamental. Ini bukan fitur yang bisa di-retrofit ke HP lain dengan update software. Ini arsitektur.
  • Tentang on-device AI via Snapdragon 8 Elite Gen 5: Di ketinggian Fansipan tanpa sinyal, kemampuan memproses semua komputasi secara lokal bukan klaim — ini desain yang terbukti di kondisi ekstrem.
  • Kesimpulan: Melampaui Angka di Atas Kertas

Lima hari. Dua kota. Tiga ekosistem berbeda — urban Hanoi, pegunungan Sapa, dan ketinggian ekstrem Fansipan. Galaxy S26 Ultra adalah produk yang layak mendapat perhatian serius — bukan karena spesifikasinya impressive di atas kertas, tapi karena kemampuannya yang konsisten di kondisi yang tidak dikondisikan untuk terlihat bagus. Itu standar yang lebih tinggi dari benchmark di ruang terkontrol.
Di Cat Cat Village dalam overcast. Di Stone Church dalam gerimis. Di cable car tanpa sinyal. Di Alpine Coaster dalam kemiringan ekstrem. Di Train Street yang padat di malam hari.

Galaxy S26 Ultra tidak kehilangan kemampuannya di satupun kondisi tersebut.

Itu cukup untuk menjadi kesimpulan yang jujur — dan kesimpulan yang tidak perlu dibesar-besarkan karena faktanya sudah cukup berbicara sendiri.

Komentar

Belum ada komentar.