Telset.id – Jika Anda berpikir ekspansi ritel teknologi di Indonesia sudah mencapai puncaknya, pikirkan lagi. Menjelang 2026, Xiaomi Indonesia justru melakukan gebrakan yang menegaskan bahwa pengalaman fisik konsumen masih menjadi kunci utama. Bagaimana tidak, mereka baru saja meresmikan pembukaan 50 Xiaomi Store secara serentak di berbagai penjuru tanah air. Ini bukan sekadar penambahan jumlah gerai, melainkan langkah strategis untuk mendekatkan visi besar mereka, ekosistem Human × Car × Home, langsung ke ujung jari dan pengalaman nyata konsumen Indonesia.
Bayangkan, Anda bisa masuk ke sebuah toko dan tidak hanya melihat deretan smartphone terbaru. Anda bisa mencoba langsung bagaimana sebuah lemari es pintar Mijia terhubung dengan AC dan mesin cuci, membentuk sebuah ekosistem rumah cerdas yang terintegrasi. Atau, memahami bagaimana perangkat wearable berkomunikasi dengan perangkat lain dalam kehidupan sehari-hari. Inilah inti dari gerakan besar yang dilakukan Xiaomi. Pembukaan massal ini, yang diumumkan pada 26 Desember 2025, adalah pernyataan tegas: masa depan teknologi bukan tentang produk yang berdiri sendiri, tapi tentang bagaimana mereka saling bersinergi. Dan untuk memahami sinergi itu, Anda perlu merasakannya langsung.
Lalu, apa yang membuat langkah ini berbeda dari sekadar membuka toko biasa? Ini adalah komitmen jangka panjang yang dibangun di atas fondasi selama 15 tahun. Andi Renreng, Marketing Director Xiaomi Indonesia, menegaskan bahwa tujuan utamanya adalah menghadirkan teknologi yang relevan dan mudah diakses. “Melalui Xiaomi Store, kami ingin menghadirkan pengalaman langsung yang membantu konsumen memahami bagaimana seluruh ekosistem Xiaomi bekerja secara nyata dalam kehidupan sehari-hari,” ujarnya. Jadi, ini lebih dari transaksi jual beli. Ini tentang edukasi, pengalaman, dan membangun hubungan yang berkelanjutan dengan setiap konsumen yang melangkah masuk.
Xiaomi Store: Lebih Dari Sekadar Tempat Beli Smartphone
Konsep Xiaomi Store generasi terbaru ini dirancang dengan filosofi yang jauh berbeda dari toko elektronik konvensional. Bayangkan sebuah ruang eksplorasi teknologi yang intuitif, di mana Anda bebas mencoba, menyentuh, dan berinteraksi dengan berbagai produk dalam suasana yang terbuka. Pendekatan ini sengaja dibuat untuk menghilangkan kesan kaku. Setiap elemen, mulai dari tata letak, standar visual, hingga metode demo produk, dibuat konsisten di seluruh gerai baru. Tujuannya jelas: membuat teknologi yang kompleks terasa mudah, kontekstual, dan relevan dengan kebutuhan spesifik Anda.
Yang menarik, integrasi pengalaman online dan offline juga menjadi fokus. Xiaomi Store kini berperan sebagai hub yang menyambungkan dunia digital dan fisik. Anda mungkin melihat sebuah produk menarik secara online, lalu datang ke store untuk mencobanya langsung sebelum memutuskan membeli. Atau sebaliknya, Anda terpikat setelah mencoba di store, lalu menyelesaikan pembelian melalui channel online yang terintegrasi. Fleksibilitas ini menciptakan pengalaman berbelanja yang seamless, menghapus batas antara kedua dunia tersebut. Seperti yang pernah kami liput dalam ekspansi ritel sebelumnya, komitmen Xiaomi untuk mendekatkan diri ke konsumen Indonesia memang konsisten, seperti terlihat saat mereka mempersiapkan 14 Mi Store beberapa waktu lalu.
Fungsi lain yang tak kalah vital adalah sebagai pusat layanan purna jual. Kehadiran store fisik memberikan rasa aman dan kepercayaan ekstra. Konsumen kini memiliki tempat yang jelas untuk konsultasi, pendampingan teknis, atau memperbaiki perangkat mereka. Dukungan after-sales yang terintegrasi dalam satu tempat ini memperkuat hubungan jangka panjang. Ini adalah investasi pada loyalitas, sebuah langkah cerdas di era di mana pengalaman pasca-pembelian sering kali menentukan apakah seorang pelanggan akan kembali atau tidak.
Baca Juga:
Kolaborasi Strategis dan Pengalaman yang “Bisa Disentuh”
Ekspansi 50 store ini tidak dilakukan sendirian. Xiaomi menggandeng mitra-mitra strategis, dengan kolaborasi bersama Telling Group menjadi salah satu sorotan. Mereka bahkan menghadirkan store berkonsep flagship dengan area terluas yang dirancang sebagai experiential hub. Ini adalah tempat di mana ekosistem Xiaomi ditampilkan secara paling lengkap dan mendalam. Keberhasilan membangun ekosistem produk saling terkait ini juga terlihat pada lini lainnya, seperti inisiatif dari Dreame Indonesia yang meluncurkan Power Clean Collection untuk rumah modern, menunjukkan betapa pentingnya menghadirkan solusi terintegrasi.
Hal yang paling membedakan adalah kehadiran produk home appliances dalam display dan unit demo di sejumlah store terpilih. Konsumen akhirnya bisa melihat dan merasakan langsung produk seperti Mijia Front Load Washer Dryer 10.5kg, Mijia Refrigerator Cross Door 510L, dan Mijia Air Conditioner Pro Eco. Ini adalah langkah brilian. Membeli alat rumah tangga besar sering kali didasarkan pada kepercayaan dan imajinasi. Dengan membiarkan konsumen menyentuh, membuka pintu, atau melihat siklus cuci secara langsung, Xiaomi mengubah imajinasi itu menjadi pengalaman nyata. Mereka tidak hanya menjual produk, tetapi menjual gambaran tentang kehidupan pintar yang lebih mudah.
Perluasan jaringan ini juga punya cakupan geografis yang ambisius, menjangkau kota besar hingga kota berkembang, baik di Pulau Jawa maupun luar Jawa. Ini sinyal bahwa pasar teknologi Indonesia dinilai masih sangat potensial dan belum terpusat sepenuhnya. Xiaomi ingin ada di dekat konsumen, di mana pun mereka berada. Pendekatan ini mirip dengan strategi brand teknologi lain yang fokus pada aksesibilitas, seperti yang dilakukan Garmin saat meluncurkan Venu 4 untuk menjangkau penggemar kebugaran di Indonesia.
Menuju 2026: Fondasi untuk Hubungan yang Lebih Dalam
Jadi, apa arti semua ini bagi Anda sebagai konsumen dan bagi pasar teknologi Indonesia? Pembukaan 50 Xiaomi Store secara serentak ini adalah lebih dari sekadar berita korporat. Ini adalah pengingat bahwa dalam arus digitalisasi yang deras, sentuhan manusia dan pengalaman fisik tetap tak tergantikan. Xiaomi sedang membangun fondasi yang kokoh menuju 2026, dengan fokus pada tiga pilar: integrasi ekosistem, kualitas pengalaman ritel, dan hubungan jangka panjang.
Dengan hadirnya gerai-gerai baru ini, kompetisi di pasar ritel teknologi akan semakin panas. Bukan hanya soal harga atau spesifikasi yang diunggulkan di iklan, tetapi tentang siapa yang bisa memberikan pemahaman dan pengalaman terbaik tentang bagaimana teknologi tersebut hidup dan bernapas dalam keseharian. Xiaomi, dengan langkah agresif ini, jelas sedang memposisikan diri sebagai pemain utama yang tidak hanya menjual gadget, tetapi menjual sebuah ekosistem hidup. Mereka mengajak konsumen Indonesia untuk tidak sekadar memakai teknologi, tetapi memahami dan merasakan manfaat keterhubungannya. Dan sekarang, kesempatan untuk merasakannya langsung telah hadir di puluhan kota di sekitar Anda. Tinggal pertanyaan, kapan Anda akan mampir dan menjelajahinya?

