Waduh! Hisense Paksa Pengguna TV Lihat Iklan Saat Ganti Channel

REKOMENDASI
ARTIKEL TERKAIT

Telset.id – Bayangkan Anda sedang asyik menonton film dari konsol game, lalu ingin beralih ke siaran TV kabel. Saat mengganti input, alih-alih gambar langsung muncul, Anda justru disuguhi iklan yang tidak bisa dilewati selama beberapa detik. Atau, ketika menyalakan TV, iklan muncul sebelum Anda bisa mengakses menu apa pun. Inilah kenyataan pahit yang dialami sejumlah pemilik televisi Hisense di berbagai negara, memicu gelombang protes dan mempertanyakan batas etis perangkat “smart” yang kita beli.

Laporan dari pengguna dan liputan media, termasuk investigasi mendalam oleh Tom’s Hardware, mengungkap praktik kontroversial ini. Iklan intrusif itu dilaporkan muncul dalam berbagai skenario dasar: saat menyalakan TV, beralih ke layar beranda (home screen), mengganti saluran TV, dan yang paling banyak dikeluhkan belakangan, saat berpindah antar input HDMI (misalnya dari konsol ke set-top box). Yang membuatnya semakin menjengkelkan, iklan-iklan ini dikatakan tidak dapat dilewati (non-skippable) dan muncul bahkan pada pengguna yang telah menonaktifkan semua opsi terkait iklan di pengaturan TV mereka. Perubahan ini terjadi secara sepihak setelah pembelian, layaknya sebuah pembaruan sistem yang tidak diinginkan.

Model yang terdampak sebagian besar, meski tidak eksklusif, adalah unit kelas menengah ke bawah yang menjalankan sistem operasi VIDAA milik Hisense, yang baru-baru ini berganti nama menjadi Home OS. Sistem operasi ini juga dilisensikan ke merek lain seperti Toshiba, Schneider, Akai, dan Loewe, yang berarti masalahnya berpotensi lebih luas. Satu keluhan bahkan menyasar TV Toshiba. Meski baru mendapat sorotan luas belakangan ini, akar masalahnya ternyata sudah berusia setidaknya satu tahun, bahkan mungkin tiga tahun. Laporan awal yang signifikan berasal dari tahun 2022, dan frekuensi keluhan semakin meningkat seiring waktu.

Uji Coba Terbatas atau Polusi Iklan Global?

Tanggapan resmi Hisense terhadap badai protes ini justru menimbulkan lebih banyak tanda tanya. Dalam pernyataan yang dikutip media Spanyol La Razón dan diterjemahkan oleh Tom’s Hardware, Hisense membantah bahwa iklan-iklan tersebut mengganggu penggunaan normal perangkat. Mereka menyebut ini sebagai bagian dari “spot test” atau uji coba terbatas di pasar Spanyol saja, yang bertujuan “mengevaluasi format iklan tertentu yang terkait dengan konten gratis dalam platform itu sendiri.” Hisense menegaskan uji coba ini telah berakhir dan format iklannya telah dihapus dari Spanyol.

Namun, fakta di lapangan berkata lain. Laporan pengguna datang dari berbagai negara, terutama Inggris dan Spanyol, tetapi juga ditemukan postingan dalam bahasa Jerman beserta tangkapan layar TV yang berbahasa Jerman. Lebih menarik lagi, solusi yang beredar di forum-forum pengguna adalah menghubungi dukungan pelanggan Hisense di alamat email yang tampaknya berasal dari Australia: service.tv.au@hisense.com. Pengguna yang melaporkan masalah via email mengklaim bahwa iklan kemudian dinonaktifkan pada TV mereka. Hal ini memunculkan pertanyaan kritis: apakah Hisense hanya mengontrol pengiriman iklan dari sisi server, atau mereka memiliki akses yang lebih dalam untuk memodifikasi pengaturan TV dari jarak jauh?

Kenyataan bahwa keluhan bersifat multi-negara dan berlangsung dalam rentang waktu yang panjang, ditambah dengan adanya saluran dukungan khusus di Australia yang menangani masalah ini, sangat bertolak belakang dengan klaim “uji coba terbatas di Spanyol”. Investigasi menunjukkan bahwa negara-negara asal keluhan tersebut mungkin tercakup dalam perjanjian iklan antara VIDAA dan perusahaan periklanan Teads, mengindikasikan skema yang lebih terstruktur dan luas.

Solusi Sementara dan Dilema Konsumen

Di komunitas pengguna, solusi untuk menghindari iklan yang mengganggu ini beragam. Saran yang paling umum dan mudah adalah dengan mengubah server DNS pada TV atau, yang lebih ekstrem, memutuskan TV dari internet sama sekali. Namun, ini berarti mengorbankan fungsi “smart” yang menjadi alasan banyak orang membeli TV tersebut. Solusi lain adalah melalui jalur resmi, yaitu menghubungi dukungan pelanggan dengan menyertakan ID unik TV.

Masalahnya, seperti diungkapkan dalam analisis Tom’s Hardware, hanya pengguna yang cukup motivasi atau melek teknologi yang akan bersusah payah menempuh jalur ini. Bagi konsumen rata-rata, terutama jika TV sudah berada di luar masa pengembalian toko, pilihan yang tersisa seringkali hanya pasrah dan menerima kehadiran iklan intrusif tersebut. Ini menciptakan ketidakseimbangan kekuatan yang signifikan antara produsen dan konsumen.

Pernyataan Hisense yang berulang kali menekankan bahwa iklan tidak mengganggu penggunaan normal perangkat juga patut dipertanyakan. Dalam konteks apa pun, memaksa pengguna untuk menonton iklan yang tidak diminta sebagai “gerbang” untuk melakukan fungsi dasar seperti mengganti saluran atau input, jelas merupakan gangguan. Ini mengubah TV dari sebuah perangkat hiburan menjadi sebuah platform iklan yang dipaksakan.

Insiden dengan Hisense ini bukanlah yang pertama dan mungkin bukan yang terakhir dalam tren “enshittification” perangkat terhubung, di mana pengalaman pengguna dikorbankan demi aliran pendapatan tambahan. Kasus ini menjadi pengingat keras bagi konsumen untuk lebih kritis sebelum membeli perangkat elektronik “pintar”. Membaca ulasan, meneliti kebijakan privasi dan iklan produsen, serta mempertimbangkan untuk tidak menghubungkan TV dengan internet (dan menggunakan streaming device eksternal seperti Apple TV atau Chromecast sebagai gantinya) bisa menjadi langkah bijak.

Bagi industri, kasus ini seharusnya menjadi alarm. Kepercayaan konsumen adalah aset berharga. Ketika praktik bisnis yang agresif mengikis kepercayaan itu, reputasi brand bisa rusak dalam jangka panjang. Hisense, yang dikenal sebagai merek elektronik budget yang menawarkan nilai bagus, mengambil risiko besar dengan eksperimen iklan paksa ini. Keputusan mereka untuk (menurut klaim) menghentikan uji coba dan merespons keluhan pelanggan adalah langkah positif, tetapi kesan pahit yang tertinggal di benak konsumen mungkin akan bertahan lebih lama dari durasi iklan 5 detik yang mereka paksakan.

TINGGALKAN KOMENTAR
Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ARTIKEL TERKINI
HARGA DAN SPESIFIKASI