Telset.id â Musisi sekaligus pengusaha Tom Vek kembali menghadirkan Sleevenote, pemutar musik digital yang terinspirasi dari kemasan vinyl. Versi terbaru dari perangkat ini hadir dengan ukuran lebih kecil, harga lebih terjangkau, dan kini tersedia untuk publik dalam jumlah terbatas.
Tom Vek yang dikenal lewat album debutnya âWe Have Soundâ pada 2005 ini mulai mengembangkan ide Sleevenote pada 2020. Gagasan awalnya adalah menghadirkan keindahan cover art dan liner notes ke dalam format audio digital. Sleevenote versi Day One Edition saat ini dijual dengan harga USD 349 atau sekitar Rp 5,6 jutaan.
Perangkat ini merupakan proyek passion Tom Vek di sela karier bermusiknya. Sejak debutnya, Vek telah merilis beberapa album seperti âLeisure Seizureâ pada 2011 yang berhasil menembus posisi 79 di UK charts, serta âNewer Symbolsâ pada 2022. Kini ia berfokus mengembangkan Sleevenote sebagai produk teknologi independen.
Dalam wawancara eksklusif, Vek mengungkapkan berbagai hal tentang kebiasaan digitalnya, pandangannya terhadap tren teknologi, hingga obsesinya terhadap desain arsitektur. Berikut rangkuman lengkapnya.
Perjalanan Pengembangan Sleevenote
Pengembangan Sleevenote tidak berjalan mulus. Vek mengakui kesulitan mendapatkan komponen seperti layar persegi. Prototipe awal perangkat ini juga berukuran sangat besar, hampir seukuran piringan hitam 7 inci namun lebih tebal dan berat.
Setelah melalui berbagai penyempurnaan, Sleevenote versi baru kini hadir dengan dimensi yang lebih ringkas. Vek menyebut perangkat ini sebagai âKindle untuk musikâ, sebuah analogi yang menggambarkan fungsinya sebagai perangkat khusus untuk menikmati koleksi musik digital.
Menariknya, Vek mengaku tidak terlalu menyukai ide buku digital meski ia menggunakan analogi tersebut untuk Sleevenote. Menurutnya, kebanyakan orang hanya membaca satu buku dalam satu waktu, sedangkan akses ke seluruh koleksi musik secara bersamaan menjadi alasan kuat untuk digitalisasi koleksi musik.
Baca Juga:
Pandangan Vek tentang Industri Musik Digital
Vek menyampaikan kritik terhadap tren pemutar musik retro seperti CD player dan cassette player gaya baru. Meski ia mengapresiasi minat masyarakat terhadap pengalaman mendengarkan musik offline, ia berharap muncul inovasi baru yang tidak sekadar mengulang format lama.
Menurut Vek, pembelian musik digital menjadi cara terbaik untuk mendukung musisi dibandingkan membeli CD bekas. Ia ingin generasi anaknya tidak terjebak dalam siklus retro atau siklus teknologi besar yang ia sebut âdoomed big tech cycleâ. Ia mendorong lahirnya produk teknologi indie yang hanya bisa eksis di zaman sekarang.
Vek juga menekankan pentingnya investasi pada unduhan musik digital. Menurutnya, membeli musik secara digital memberikan dukungan finansial yang jauh lebih besar bagi para seniman. Selain itu, format digital memberi akses offline dan stempel waktu pada karya seni berkualitas.
Melalui Sleevenote, Vek berharap bisa mendorong pendengar untuk meluangkan waktu menikmati koleksi musik yang telah dikurasi dengan baik. Ia percaya kebiasaan ini baik untuk kesehatan mental dan jiwa. Vek juga mengkritik kualitas kaset yang menurutnya âterdengar mengerikanâ.
Vek mengaku sebagai pengguna setia MacBook dan menyebut perangkat tersebut sebagai âmotor bagi pikirannyaâ. Ia menggunakan MacBook untuk berbagai keperluan mulai dari desain UI, desain grafis, retouching foto, hingga pembuatan video. Ia juga mengaku penggemar MacBook generasi âMâ terbaru.
Kebiasaan digital Vek lainnya adalah membuka banyak tab browser sekaligus dalam beberapa profil Chrome. Kebiasaan ini sering menjadi bahan ledekan dari rekan pendiri Sleevenote, Chris. Vek mengaku cara tersebut membantunya mengingat berbagai platform media sosial untuk mempromosikan Sleevenote.
Di tengah maraknya konten dan produk digital, Vek justru menginginkan produk teknologi yang lahir dari ide segar. Ia mencontohkan ketertarikannya pada carport dalam arsitektur sebagai bentuk obsesi desain. Baginya, mobil adalah ekspresi emosional dari pergerakan yang patut ditampilkan, bukan disembunyikan.
Vek juga mengungkapkan kekagumannya pada lagu âJump In The Poolâ dari Friendly Fires. Ia menyesali tidak menciptakan lagu tersebut, terutama karena ia pernah mendorong dirinya dan manajernya ke kolam renang tanpa berpikir untuk menulis lagu tentang kejadian itu.
Soal koleksi fisik, Vek mengaku gemar membeli buku fiksi. Ia baru saja membeli buku berjudul âThe Cowardsâ berdasarkan sampulnya saja setelah menyelesaikan karya-karya Steinbeck. Kebiasaan ini menunjukkan kecintaannya pada media fisik yang juga menjadi inspirasi Sleevenote.
Kehadiran Sleevenote Day One Edition menjadi bukti bahwa musisi bisa berkarya di luar industri musik. Perangkat ini juga sejalan dengan tren perangkat audio khusus yang sedang berkembang. Sleevenote menawarkan alternatif bagi pendengar yang ingin memiliki koleksi musik digital secara permanen.
Bagi pengguna yang tertarik, Sleevenote Day One Edition masih tersedia dalam jumlah terbatas. Harga USD 349 menjadikannya produk premium untuk pasar penggemar musik dan teknologi. Vek menyebut edisi ini sebagai babak awal sebelum ia beralih ke pengembangan Sleevenote generasi berikutnya.
Dengan segala keterbatasan komponen dan tantangan produksi, Sleevenote tetap berhasil hadir sebagai produk nyata. Perangkat ini menjadi contoh bagaimana seorang kreator bisa mewujudkan gagasannya menjadi produk teknologi yang bermanfaat bagi industri musik.





Komentar
Belum ada komentar.