Evan Spiegel mengenakan kacamata AR Snap Specs yang berukuran sangat besar dengan lensa reflektif

Snap Specs AR: Kacamata Mahal yang Diolok-olok Publik

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️3 menit membaca
Bagikan:
  • Snap Inc. luncurkan kacamata AR Specs seharga USD 2.195 (Rp40 juta)
  • Desain kacamata sangat besar dan menuai cemoohan publik di media sosial
  • Saham Snap anjlok hampir 30% setelah pengumuman produk
  • Baterai hanya bertahan 4 jam untuk penggunaan campuran
  • Analis meragukan produk ini bisa menggantikan smartphone
  • Peluncuran bertepatan dengan krisis privasi yang dihadapi Meta
  • CEO Snap janjikan privasi terintegrasi namun tanpa detail teknis
  • Produk ini dianggap bakal gagal total oleh banyak pihak

Telset.id – Snap Inc., induk perusahaan Snapchat, kembali meluncurkan kacamata augmented reality (AR) bernama Specs dengan harga selangit USD 2.195 atau sekitar Rp40 juta. Namun, produk anyar ini langsung menuai cemoohan karena desainnya yang dinilai konyol dan terlalu besar, serta respons negatif dari investor yang membuat saham Snap anjlok hampir 30 persen.

Kacamata AR Specs diperkenalkan langsung oleh CEO Snap, Evan Spiegel, dalam sebuah presentasi pada Selasa lalu. Produk ini merupakan upaya terbaru Snap setelah sebelumnya mengalami kegagalan besar, termasuk kerugian USD 40 juta pada peluncuran kacamata perekam video hampir satu dekade lalu. Beberapa iterasi berikutnya juga gagal menarik minat pasar.

Yang menjadi sorotan utama adalah desain fisik Specs yang sangat besar dan mencolok. Dalam sebuah konvensi teknologi di California, Spiegel terlihat mengenakan kacamata dengan bingkai raksasa dan lensa reflektif yang membuat pemakainya tampak seperti sedang dibombardir informasi visual. Penampilan ini langsung menjadi bulan-bulanan warganet di media sosial.

“I can feel the headache and ear pain by just looking at these,” tulis seorang pengguna Twitter. “Looks like 3D glasses at an IMAX theater,” komentar yang lain. “Who the hell designed this monstrosity?” sindir pengguna lainnya.

Reaksi negatif tidak hanya datang dari publik. Investor pun menunjukkan kekecewaan berat. Saham Snap tercatat ambles hampir 30 persen setelah pengumuman tersebut, menjadi pukulan telak bagi perusahaan media sosial yang sedang berjuang.

Snap mengklaim kacamata Specs dirancang untuk “membantu orang terhubung lebih dalam satu sama lain.” Spiegel bahkan menyebutnya sebagai “awal era baru dalam komputasi.” Fitur yang ditawarkan termasuk kemampuan menampilkan petunjuk arah atau menjawab pertanyaan tentang objek yang dilihat pengguna. Namun, pendekatan ini dinilai sudah lazim dan tidak inovatif.

Analis pasar dari CCS Insight, Ben Hatton, meragukan potensi mainstream produk ini. “Despite the impressive features and experiences available through Specs, glasses with a 4-hour mixed-use battery life and bulky design are not going to replace the smartphone any time soon,” ujarnya kepada BBC.

Daya tahan baterai yang hanya empat jam untuk penggunaan campuran dan desain yang besar disebut sebagai kelemahan utama. Hal ini membuat Specs sulit bersaing dengan perangkat sehari-hari seperti ponsel pintar.

Timing peluncuran Specs juga dinilai kurang tepat. Pengumuman ini datang saat Meta sedang menghadapi krisis PR besar terkait masalah privasi pada kacamata pintarnya dan upaya kontroversial mengintegrasikan teknologi pengenalan wajah.

Menanggapi kekhawatiran tersebut, Spiegel menegaskan bahwa “privasi harus dibangun dari awal” dan bahwa “Specs hanya akan berfungsi jika orang mempercayainya.” Namun, ia tidak memberikan detail bagaimana mekanisme privasi tersebut akan bekerja.

A photo illustration featuring Evan Spiegel, Co-Founder and CEO of Snap Inc., wearing AR Glasses that are far too large.

Setelah beberapa kali gagal meluncurkan kacamata pintar, Snap kini menghadapi tantangan berat. Dengan reaksi keras dari publik dan ketidakpuasan investor, Specs dinilai banyak pihak bakal gagal total.

Bagi konsumen yang penasaran dengan tren terbaru, produk ini bisa dibandingkan dengan AR Glasses Rp40 Juta dari kompetitor. Namun, dengan segala kontroversi yang ada, masa depan Specs di pasar konsumen masih sangat suram.

Komentar

Belum ada komentar.