Telset.id – Samsung Electronics memamerkan lini monitor gaming Odyssey OLED terbarunya di ajang Gamescom 2026 yang berlangsung di Cologne, Jerman. Yang menarik, dalam wawancara eksklusif dengan TechRadar, dua eksekutif kunci Samsung, Jeremy Demont (Product Management Director for TV, Sound and Monitor Samsung UK & Ireland) dan Pepe Distra (Head of Monitor Samsung Europe), mengungkap strategi di balik monitor dengan refresh rate hingga 1100Hz. Keduanya juga membahas masa depan teknologi layar, termasuk komitmen terhadap 3D tanpa kacamata.
Kehadiran monitor 1100Hz ini menjadi sorotan utama, namun Samsung justru mengambil pendekatan yang lebih hati-hati dan realistis. Distra secara blak-blakan mengakui bahwa teknologi refresh rate ultra-tinggi ini menyasar pasar yang spesifik, bukan konsumen mainstream.
Triple Mode dan Batas Refresh Rate
Salah satu inovasi yang diperkenalkan adalah fitur triple mode yang debut pada Odyssey OLED G8. Monitor ini memiliki panel 32 inci 4K tandem QD-OLED yang berjalan pada 360Hz secara native. Pengguna dapat menurunkannya ke resolusi 1440p untuk mencapai 520Hz, atau hingga Full HD untuk refresh rate 680Hz.
Distra menjelaskan bahwa fitur triple mode ini tertanam langsung di sisi panel dan tidak bisa ditambahkan melalui pembaruan firmware. Ini menjadi pembeda dari mode dual-mode yang sudah ada sebelumnya.
Ia juga mengakui adanya ketidakpastian apakah fitur ini benar-benar dibutuhkan oleh pasar. “Jika itu gamer kelas atas, mereka pasti akan diuntungkan. Tetapi jika orang kebanyakan membeli monitor gaming, apakah mereka benar-benar akan menggunakannya secara praktis?” ujarnya. Samsung akan mengevaluasi umpan balik komunitas setelah perangkat ini sampai ke pasar.
Soal angka 1100Hz yang didukung oleh Odyssey G6 G60H, sebuah panel Fast IPS 1440p yang berjalan pada 600Hz secara native dan bisa turun ke resolusi HD untuk membuka batas 1100Hz, Distra juga tidak mau berkomitmen soal masa depan. “Jika kami melaju lebih cepat di masa depan, kami harus melihatnya,” katanya.
6K Gaming dan 3D Tanpa Kacamata
Samsung juga meyakini monitor gaming 6K punya tujuan nyata, bukan sekadar gengsi. Distra menjelaskan bahwa opsi ini menawarkan refresh rate lebih tinggi dibandingkan layar profesional dengan resolusi sama yang hanya 60Hz. Ini membantu responsivitas untuk tugas produktivitas dan performa gaming.
Sementara itu, Samsung tetap berkomitmen pada teknologi 3D tanpa kacamata. Distra menilai kegagalan sebelumnya bukan masalah hardware, melainkan konten. Karena itu, fokus tim produk dialihkan untuk mengamankan dukungan game AAA, termasuk kompatibilitas 3D untuk Cyberpunk 2077 yang baru diumumkan.
Demont membandingkan ini dengan dorongan awal Samsung ke resolusi 4K. “Kami tidak bisa melakukannya sendiri, kami membutuhkan seluruh industri di belakangnya,” katanya. Ia juga melihat HDR10+ gaming akan mengikuti kurva adopsi yang sama dengan HDR10+ di TV.

Burn-in OLED dan Konvergensi Perangkat
Samsung memperkenalkan panel QD-OLED generasi kelima dengan teknologi Penta Tandem dan sub-pixel layout RGB stripe untuk efisiensi daya, umur panjang, dan ketajaman teks. Soal burn-in, Demont dan Distra menyebut masalah ini kini hampir tidak pernah dibahas lagi secara internal.
Demont menekankan pentingnya meningkatkan siklus hidup produk. “Jika kami dapat meningkatkan siklus hidup produk atau daya tahan produk, itu semua demi keuntungan pelanggan akhir,” katanya.
Dalam hal pengembangan produk, Distra mengonfirmasi Samsung menerima masukan langsung dari profesional eSports, termasuk hubungan berkelanjutan dengan juara dunia League of Legends di Korea. Strategi Samsung adalah memperkenalkan teknologi baru di kelas atas terlebih dahulu, lalu mengalirkannya ke bawah seiring waktu.
Salah satu poin paling menarik adalah penggabungan tim monitor ke dalam divisi visual display yang sama dengan TV di Inggris. Demont menyebut keputusan ini tentang menangkap tumpang tindih antara kedua produk. Beberapa TV OLED ukuran kecil kini memiliki refresh rate 165Hz, sementara beberapa monitor gaming hadir dengan sistem operasi Tizen OS.
Keduanya juga kembali menekankan skala Samsung sebagai keunggulan. Portofolio yang luas mencakup monitor ultrawide 49 inci, TV outdoor portabel, dan panel gaming 3D tanpa kacamata secara bersamaan. Contohnya, TV Movingstyle yang awalnya dirancang untuk pasar Asia Tenggara ternyata laris di seluruh dunia.
Apakah fitur seperti triple-mode refresh rate atau 3D tanpa kacamata akan menjadi fitur mainstream, Samsung sendiri mengaku masih menunggu jawaban dari konsumen.
[CONTENT_END]





Komentar
Belum ada komentar.