Samsung Mau Bikin Chip Sendiri Lagi? Bocoran Eksklusif Soal Exynos 2800

REKOMENDASI
ARTIKEL TERKAIT

Pernahkah Anda merasa ponsel Samsung yang Anda pekan panas seperti wajan? Atau baterainya habis lebih cepat dari gosip terbaru di media sosial? Selama bertahun-tahun, performa chipset Exynos, khususnya di segmen flagship, menjadi bahan perdebatan hangat di kalangan penggemar teknologi. Kini, sebuah gelombang rumor baru mengindikasikan Samsung mungkin akan mengambil langkah paling berani dalam satu dekade terakhir: kembali ke jalur desain chip sepenuhnya mandiri.

Latar belakangnya penuh dengan lika-liku. Setelah proyek “Mongoose”—upaya Samsung menciptakan CPU custom—gagal memenuhi harapan dan akhirnya ditutup pada 2020, raksasa Korea itu memilih jalan yang lebih aman. Mereka mengandalkan desain inti standar dari ARM untuk CPU dan bermitra dengan AMD untuk menyuntikkan kekuatan grafis RDNA ke dalam chip Exynos. Namun, langkah ini seperti menyewa rumah mewah alih-alih membangunnya sendiri; Anda mendapatkan fasilitas, tetapi kontrol penuh atas fondasi dan renovasi tetap di tangan orang lain.

Bocoran terbaru dari tipster ternama Smart Chip Guide di Weibo mengungkapkan bahwa Samsung sedang mempertimbangkan untuk membangun rumahnya sendiri dari nol. Sasaran utamanya adalah Exynos 2800, yang diprediksi meluncur beberapa tahun ke depan. Jika rencana ini benar-benar dijalankan, ini bukan sekadar pembaruan generasi, melainkan perubahan filosofi yang radikal. Samsung akan meninggalkan “bahan baku” dari ARM dan AMD, lalu meracik resep prosesornya sendiri. Apakah ini langkah jenius menuju kemandirian, atau pengulangan sejarah yang kelam?

Mengulang Sejarah? Pelajaran Pahit dari Era “Mongoose”

Sebelum kita larut dalam antusiasme, ada baiknya menengok ke belakang. Antara 2016 dan 2020, tim Samsung di Austin, AS, bekerja mati-matian mengembangkan seri inti CPU custom bernama “Mongoose”. Hasilnya? Chip seperti Exynos 9820 dan 990 memang mampu menunjukkan angka benchmark yang mengesankan, bahkan menyaingi puncak performa Snapdragon dari Qualcomm. Namun, di dunia nyata, ceritanya berbeda.

Chip-chip tersebut terkenal rakus energi dan mudah sekali kepanasan. Dalam penggunaan sehari-hari, seperti bermain game atau merekam video panjang, ponsel sering kali melakukan thermal throttling—memelankan diri agar tidak meleleh. Pengalaman pengguna pun terganggu. Akhirnya, Samsung memutuskan untuk mengubur proyek ambisius itu dan kembali menjadi “pelanggan setia” ARM. Keputusan ini menjadi pengakuan bahwa menciptakan arsitektur CPU yang efisien itu jauh lebih sulit daripada sekadar membeli desain yang sudah jadi.

Lalu, mengapa sekarang Samsung berani mencoba lagi? Konteksnya telah berubah drastis. Teknologi fabrikasi semikonduktor telah melompat maju. Samsung sendiri sedang mempersiapkan proses manufaktur 2nm dengan teknologi Gate-All-Around (GAA) yang revolusioner. Teknologi ini menjanjikan efisiensi daya yang jauh lebih baik dan kebocoran listrik yang lebih kecil—persis dua masalah utama yang membunuh chip Mongoose dulu. Dengan senjata baru ini, Samsung mungkin merasa sudah waktunya untuk mencoba lagi, dengan keyakinan bahwa “rumah” yang akan mereka bangun kali ini memiliki fondasi yang lebih kokoh.

GPU Mandiri: Kunci Menuju Integrasi Ala Apple?

Lepas dari AMD? Itu bagian lain dari rumor yang tak kalah menggemparkan. Sejak 2022, kolaborasi Samsung-AMD telah menghadirkan GPU RDNA ke dalam Exynos, seperti pada Exynos 2200. Meskipun Samsung dikabarkan sudah menangani sebagian besar implementasinya sendiri, lisensi desain inti grafis dari AMD tetap menjadi ketergantungan. Mengembangkan GPU custom sepenuhnya akan membebaskan Samsung dari ketergantungan itu.

Mengapa ini penting? Kontrol penuh atas CPU dan GPU membuka pintu menuju optimisasi sistem yang lebih dalam dan holistik. Inilah yang dilakukan Apple dengan chip M-series dan A-series mereka. Mereka mendesain semua komponen agar bekerja selaras sempurna dengan perangkat keras dan perangkat lunak (iOS/iPadOS/macOS). Hasilnya adalah efisiensi yang luar biasa dan performa yang konsisten. Dengan memiliki GPU sendiri, Samsung dapat mengoptimalkannya khusus untuk tugas-tugas AI, rendering antarmuka One UI, dan tentu saja, gaming—sektor yang selalu menjadi perhatian para pencari HP gaming terbaik.

Ambisi ini juga selaras dengan lini produk Samsung yang semakin luas. Bayangkan sebuah chip yang tidak hanya dipasang di ponsel Galaxy S28, tetapi juga di tablet flagship seperti seri Galaxy Tab S di masa depan, atau bahkan perangkat wearable. Optimisasi yang sama dapat diterapkan di semua lini, menciptakan ekosistem yang lebih kohesif. Bagi Anda yang mengandalkan tablet Samsung untuk WFH, konsistensi performa antara perangkat bisa menjadi nilai jual yang kuat.

Jalan Panjang Menuju Galaxy S28

Bocoran mengisyaratkan bahwa Exynos 2800 dengan desain custom ini baru akan debut di seri Galaxy S28, yang diperkirakan meluncur pada 2028. Itu artinya Samsung masih memiliki waktu sekitar empat tahun untuk menyempurnakan arsitektur barunya. Periode pengembangan yang panjang ini menunjukkan keseriusan dan kemungkinan besar juga kehati-hatian Samsung, belajar dari kesalahan masa lalu.

Lalu, apa yang akan terjadi pada generasi-chip sebelum S28? Exynos 2600, yang diprediksi menghidupi Galaxy S26, kemungkinan akan menjadi perpisahan manis dengan GPU AMD RDNA. Chip ini bisa dilihat sebagai jembatan menuju era baru. Meski masih menggunakan “blok bangunan” dari pihak ketiga, Samsung akan terus mematangkan kemampuan desain dan integrasinya. Bagi konsumen yang menantikan lompatan teknologi, periode transisi ini layak untuk diikuti, mirip dengan antusiasme saat pre-order Samsung Galaxy S22 dibuka dulu.

Strategi jangka panjang ini juga punya implikasi pada pasar. Jika berhasil, Samsung tidak hanya akan mengurangi ketergantungan pada ARM dan AMD, tetapi juga menantikan dominasi Qualcomm di pasar chip Android premium. Mereka akan memiliki cerita yang mirip dengan Apple: kontrol vertikal dari chip hingga perangkat. Namun, pertanyaan besarnya tetap: apakah Samsung bisa mengulangi kesuksesan Apple, atau justru mengulangi kegagalannya sendiri?

Keputusan Samsung untuk (kemungkinan) kembali ke desain chip penuh custom adalah sebuah taruhan besar. Di satu sisi, ada potensi hadiah besar: kemandirian, diferensiasi produk yang tajam, dan kontrol penuh atas roadmap teknologi. Di sisi lain, risiko kegagalan dan reputasi yang kembali tercoreng selalu mengintai. Keberhasilan proyek ini akan sangat bergantung pada kemampuan tim engineering Samsung dan keunggulan proses fabrikasi 2nm GAA mereka. Bagi kita sebagai pengguna, kompetisi yang lebih ketat di pasar chip high-end selalu membawa angin segar: lebih banyak inovasi, lebih banyak pilihan, dan siapa tahu, akhir dari cerita ponsel yang cepat panas. Kita tinggal menunggu dan menyaksikan, apakah Samsung akan membangun istana atau kembali menemui reruntuhan.

TINGGALKAN KOMENTAR
Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ARTIKEL TERKINI
HARGA DAN SPESIFIKASI