Telset.id – Bayangkan sebuah smartphone yang tak hanya menjalankan perintah, tetapi memahami konteks hidup Anda. Yang tak sekadar merekam momen, tetapi mengeditnya sesuai imajinasi kata-kata Anda. Itulah janji yang diusung Samsung dengan peluncuran resmi Galaxy S26 Series. Setelah berbagai bocoran spekulatif, akhirnya trio flagship—S26, S26+, dan S26 Ultra—turun ke gelanggang dengan klaim sebagai smartphone AI generasi ketiga yang paling proaktif dan adaptif. Bukan lagi tentang seberapa cepat chipsetnya, melainkan seberapa cerdas perangkat ini menyelaraskan kekuatan hardware, kamera, dan kecerdasan buatan menjadi satu pengalaman yang effortless.
TM Roh, President sekaligus Head of Device eXperience (DX) Division Samsung Electronics, menegaskan filosofi di balik seri terbaru ini. “Kami percaya AI harus menjadi sesuatu yang dapat diandalkan setiap hari, dirancang untuk bekerja secara konsisten bagi semua orang tanpa memerlukan keahlian khusus,” ujarnya. Fokusnya adalah menghadirkan AI yang terasa natural, bekerja mulus di latar belakang sehingga pengguna bisa fokus pada hal yang penting, bukan pada proses teknisnya. Apakah klaim besar ini bisa dibuktikan? Mari kita selami.
Galaxy S26 Series bukan sekadar iterasi biasa. Ia adalah konvergensi dari puluhan tahun inovasi Samsung di bidang display, kamera, dan kini, komputasi AI. Seri ini hadir di tengah persaingan ketat di era pasca-smartphone, di mana diferensiasi bukan lagi pada megapixel atau kecepatan clock, tetapi pada seberapa dalam perangkat memahami dan mengantisipasi kebutuhan pengguna. Samsung sepertinya tak ingin pengguna lagi memikirkan “bagaimana cara melakukannya”, melainkan langsung menikmati “hasilnya”.
Daya Ungkit Performa: Bukan Cuma untuk Angka Benchmark
Di jantung Galaxy S26 Ultra, bertahta Snapdragon® 8 Elite Gen 5 for Galaxy. Ini adalah prosesor khusus generasi kedua hasil kolaborasi dengan Qualcomm. Namun, Samsung tak hanya membanggakan angka peningkatan CPU 19%, GPU 24%, atau NPU 39% dibanding pendahulunya. Cerita sebenarnya ada pada bagaimana peningkatan ini dialirkan untuk pengalaman nyata.
Peningkatan performa NPU yang signifikan itu memastikan fitur Galaxy AI selalu aktif dan berjalan tanpa hambatan. Tugas-tugas berbasis AI, dari pengeditan foto real-time hingga pemrosesan bahasa alami oleh asisten, dijanjikan berjalan tanpa lag. Untuk menopang kinerja tinggi ini, Samsung memperkenalkan Vapor Chamber yang didesain ulang. Material antarmuka termal dipasang di sepanjang sisi prosesor, sehingga panas menyebar lebih efisien. Hasilnya? Perangkat dijanjikan tetap dingin dan stabil bahkan saat gaming berat atau multitasking intensif, sebuah janji yang kerap diucapkan namun jarang terpenuhi sempurna.
Dukungan untuk penggunaan sepanjang hari dilengkapi dengan Super-Fast Charging 3.0 yang mampu mengisi daya baterai 5.000 mAh hingga 75% dalam 30 menit. Di balik layar, teknologi eksklusif seperti ProScaler dan Digital Natural Image (mDNIe) generasi terbaru bekerja untuk meningkatkan kualitas visual. ProScaler mempertajam teks dan detail halus, sementara mDNIe menyajikan warna dengan presisi empat kali lipat lebih baik. Performa di sini jelas ditujukan untuk menjadi fondasi yang tak terlihat, namun vital, bagi semua keajaiban AI dan kamera yang diusung.
Baca Juga:
Sistem Kamera: Kreativitas yang Dipermudah, Bukan Dikomplikasi
Jika dulu kamera smartphone berfokus menangkap momen sedekat mungkin dengan realita, Galaxy S26 Series menggeser paradigma: kamera adalah alat untuk mewujudkan kreativitas, apa pun kondisi dan keahlian pengguna. Galaxy S26 Ultra menjadi ujung tombak dengan bukaan kamera yang lebih lebar, memungkinkan sensor menangkap lebih banyak cahaya. Hasilnya, klaim Samsung, adalah foto yang lebih jernih dan detail bahkan dalam kondisi low light, termasuk saat menggunakan zoom.
Video Nightography yang disempurnakan menjanjikan rekaman yang lebih hidup dalam cahaya redup. Fitur SuperSteady juga diperbarui dengan opsi horizontal lock, yang diharapkan bisa memberikan stabilitas setara gimbal untuk pengambilan gambar yang konsisten di medan bergerak. Namun, yang paling menarik justru terjadi setelah tombol shutter ditekan.
Dengan Photo Assist yang ditingkatkan, pengeditan menjadi sesederhana memberi perintah. Ingin mengubah suasana siang menjadi malam? Cukup ketik atau ucapkan permintaan itu. Fitur ini bahkan bisa menambahkan atau mengembalikan bagian objek yang hilang, seperti menyempurnakan gigitan pada sepotong kue, atau—yang cukup berani—mengganti pakaian dalam foto untuk menghilangkan noda. Creative Studio kemudian menjadi ruang terintegrasi untuk mengubah sketsa, foto, atau sekadar prompt teks menjadi stiker, undangan, atau wallpaper. AI di sini berperan sebagai asisten kreatif yang patuh, meski tentu saja etika pengeditan foto menjadi pertanyaan yang menggelayut.
Untuk urusan yang lebih praktis, Document Scanner berbasis AI hadir untuk menghapus distorsi, kerutan, atau bayangan jari dari dokumen fisik, lalu menyusun beberapa gambar menjadi satu PDF secara otomatis. Dari seni hingga administrasi, kamera Galaxy S26 berambisi menjadi satu alat untuk semuanya.
Galaxy AI: Dari Asisten Menjadi Agen Proaktif
Inilah jiwa dari S26 Series. Galaxy AI didesain untuk mempersingkat jarak dari ide ke tindakan. Ia bekerja secara proaktif, kontekstual, dan—yang paling sulit—seolah intuitif. Now Nudge adalah contohnya: saat seorang teman meminta foto liburan, ponsel akan secara otomatis menyarankan foto-foto terkait dari Galeri. Saat pesan tentang meeting masuk, ponsel akan mengenali agenda di Kalender dan memeriksa tabrakan jadwal. Now Brief menjadi lebih personal, memberikan pengingat tepat waktu untuk reservasi atau pembaruan perjalanan berdasarkan konteks pengguna.
Fitur Circle to Search with Google kini bisa mengenali banyak objek sekaligus dalam satu gambar. Lihat gaya outfit yang Anda sukai? Lingkari jaket dan sepatunya, maka pencarian akan mengidentifikasi keduanya sekaligus. Bixby juga mengalami peningkatan signifikan sebagai “agen perangkat berbasis percakapan”, yang memungkinkan navigasi dan penyesuaian pengaturan menggunakan bahasa alami tanpa perintah spesifik.
Yang menarik, Samsung mengadopsi pendekatan pluralis untuk asisten AI. Selain Bixby, pengguna bisa memilih Gemini dari Google atau Perplexity yang baru saja digandeng. Setelah diatur, tugas multi-langkah seperti memesan taksi bisa diselesaikan hanya dengan satu permintaan, dengan asisten yang bekerja di latar belakang mengoordinasikan berbagai aplikasi. Ini adalah langkah menuju “AI yang agenik”, di mana perangkat tak lagi sekadar menunggu perintah, tetapi menjadi mitra yang memahami dan mengantisipasi.
Privasi di Era AI: Perlindungan Hingga Tingkat Piksel
Semakin personal AI, semakin krusial perlindungan privasi. Samsung menjawab kekhawatiran ini dengan pendekatan berlapis, dan salah satu inovasinya paling nyata: Privacy Display bawaan pertama di industri pada Galaxy S26 Ultra. Berbeda dengan film tempel, teknologi ini mengontrol bagaimana piksel menyebarkan cahaya. Hasilnya? Konten tetap jernih bagi pengguna, tetapi visibilitas dari samping dibatasi secara hardware saat fitur diaktifkan. Pengguna bisa mengaturnya untuk aktif otomatis saat memasukkan PIN atau membuka aplikasi tertentu.
Di lapisan software, Call Screening yang didukung AI akan mengidentifikasi dan merangkum tujuan penelepon tak dikenal. Privacy Alerts akan memberi tahu pengguna secara real-time jika ada aplikasi yang mencoba mengakses data sensitif seperti lokasi akurat atau log panggilan. Private Album di Galeri memudahkan penyembunyian foto tanpa folder terpisah. Bahkan, Samsung telah menerapkan post-quantum cryptography (PQC) pada proses sistem krusial untuk mengantisipasi ancaman komputasi masa depan.
Semua ini dibangun di atas fondasi Samsung Knox, dengan lapisan seperti Knox Vault yang mengisolasi data sensitif di hardware fisik terpisah. Untuk era di mana data adalah bahan pangan AI, langkah-langkah ini bukan lagi kemewahan, melainkan kebutuhan.
Galaxy S26 Series, yang akan tersedia mulai 25 Februari 2026 dalam pilihan warna Cobalt Violet, White, Black, dan Sky Blue (dengan pilihan eksklusif online Pink Gold dan Silver Shadow), jelas bukan sekadar upgrade spesifikasi. Ia adalah pernyataan visi Samsung tentang masa depan interaksi manusia dengan perangkat. Visi di mana teknologi menghilang ke latar belakang, menyisakan kemudahan dan hasil yang memukau.
Namun, seperti semua janji besar, buktinya ada pada pengalaman sehari-hari. Akankah AI-nya benar-benar intuitif atau justru mengganggu? Akankah kamera yang dijanjikan “terdepan” itu konsisten di berbagai kondisi? Dan yang tak kalah penting, apakah harga yang akan dibanderol sepadan dengan lompatan pengalaman yang ditawarkan? Samsung telah melempar dadu. Sekarang, giliran pasar yang akan menjawab. Satu hal yang pasti: pertarungan di papan atas smartphone kini resmi memasuki babak baru, di mana kecerdasan mengalahkan kecepatan, dan konteks menjadi raja.

