Ilustrasi prosesor Qualcomm Snapdragon C dengan desain futuristik di latar abu-abu

Qualcomm Luncurkan Snapdragon C untuk Laptop Windows Murah

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
ā±ļø5 menit membaca
Bagikan:
  • Qualcomm meluncurkan prosesor Snapdragon C untuk laptop Windows entry-level di Computex 2026
  • Chip berbasis ARM ini menargetkan harga mulai $300 ke atas dengan janji performa responsif dan baterai seharian
  • Dilengkapi NPU terintegrasi untuk kemampuan AI on-device yang jarang ada di laptop murah
  • Laptop perdana akan hadir akhir 2026 dari Lenovo, Acer, dan HP
  • Langkah ini merupakan respons terhadap kesuksesan Apple MacBook Neo di segmen laptop murah
  • Snapdragon C fokus pada aktivitas dasar: browsing, streaming, dan produktivitas, bukan rendering atau gaming berat

Telset.id – Qualcomm secara resmi meluncurkan prosesor Snapdragon C yang dirancang khusus untuk laptop Windows entry-level, merespons perubahan ekspektasi pasar setelah kehadiran Apple MacBook Neo seharga $599. Pengumuman ini disampaikan Qualcomm dalam ajang Computex 2026, menandai langkah baru dalam persaingan prosesor laptop murah.

Prosesor anyar ini menargetkan segmen harga mulai dari $300 ke atas, dengan janji performa responsif, desain dingin dan senyap, serta daya tahan baterai seharian penuh. Qualcomm menegaskan bahwa Snapdragon C bukanlah chip untuk rendering 3D atau editing video 8K, melainkan difokuskan pada aktivitas sehari-hari seperti browsing web yang mulus, streaming video, dan produktivitas dasar.

Salah satu keunggulan utama Snapdragon C adalah kehadiran NPU (Neural Processing Unit) terintegrasi untuk kemampuan AI. Fitur ini dinilai menjadi nilai tambah signifikan karena biasanya tidak ditemukan pada laptop entry-level. Dengan dukungan AI on-device, pengguna dapat menikmati fitur-fitur cerdas tanpa harus bergantung sepenuhnya pada koneksi cloud.

Keputusan Qualcomm untuk menghadirkan chip berbasis arsitektur ARM ini tidak terlepas dari kesuksesan Apple yang berhasil mengubah persepsi pasar terhadap laptop murah. Dengan meninggalkan prosesor Intel yang boros daya dan beralih ke chip ARM yang lebih efisien, Apple mampu menciptakan MacBook Neo yang ringkas, bertenaga, dan tetap terjangkau. Kini, produsen laptop Windows pun mengikuti jejak serupa.

Qualcomm menyebutkan bahwa performa dan efisiensi energi bukanlah ciri khas laptop Windows murah berbasis Intel selama ini. Dengan Snapdragon C, para mitra OEM seperti Lenovo, Acer, dan HP dapat menawarkan produk yang mampu bersaing langsung dengan MacBook Neo. Sistem-on-chip (SoC) baru ini memungkinkan mereka membangun laptop yang lebih tipis, lebih dingin, dan dengan daya tahan baterai lebih baik tanpa mengorbankan harga.

Laptop dengan Snapdragon C dijadwalkan hadir di pasaran pada akhir tahun 2026. Qualcomm mengonfirmasi bahwa perangkat pertama akan datang dari Acer, HP, dan Lenovo. Jika benar-benar mampu memberikan performa seperti yang dijanjikan dan mendekati harga $300, produk-produk ini berpotensi memberikan dampak besar di pasar laptop entry-level.

Persaingan di segmen prosesor ARM untuk laptop semakin memanas. Qualcomm tidak hanya bersaing dengan Apple, tetapi juga dengan MediaTek yang juga terus mengembangkan chipset untuk perangkat komputasi. Langkah Qualcomm dengan Snapdragon C ini menunjukkan keseriusan mereka dalam merebut pangsa pasar laptop murah yang selama ini didominasi oleh Intel.

Keberhasilan Snapdragon C tentu akan sangat bergantung pada harga akhir perangkat dan pengalaman pengguna yang ditawarkan. Jika para mitra mampu merilis laptop dengan harga mulai $300 hingga $400, segmen ini bisa menjadi ladang baru bagi pertumbuhan ekosistem Windows on ARM. Konsumen yang selama ini enggan membeli laptop Windows murah karena performa buruk dan baterai boros mungkin akan melirik kembali.

Snapdragon C juga menjadi bukti bahwa Qualcomm serius memperluas jangkauan bisnisnya di luar ponsel pintar. Dengan basis arsitektur ARM yang efisien, perusahaan asal San Diego ini ingin membuktikan bahwa laptop Windows murah tidak harus kompromi pada kualitas pengalaman dasar. Bagi pelajar, pekerja kantoran, atau pengguna kasual yang hanya butuh laptop untuk tugas ringan, Snapdragon C bisa menjadi alternatif menarik.

Dari sisi strategi, peluncuran ini juga memperkuat posisi Qualcomm di ekosistem komputasi Windows. Kerja sama dengan Microsoft dalam mengoptimalkan Windows on ARM terus berlanjut, dan kehadiran chip entry-level seperti Snapdragon C diharapkan dapat mempercepat adopsi platform tersebut. Jika sebelumnya Windows on ARM hanya dikenal di perangkat premium dan kelas atas, kini segmen bawah juga mulai tersentuh.

Namun, tantangan tetap ada. Ekosistem aplikasi Windows on ARM masih belum seluas x86. Meskipun emulasi telah meningkat drastis, beberapa aplikasi berat atau spesifik mungkin belum berjalan optimal. Qualcomm dan Microsoft perlu terus mendorong developer untuk mengkompilasi aplikasi secara native agar pengalaman pengguna semakin mulus.

Dari sisi teknis, kemampuan NPU pada Snapdragon C menjadi nilai jual unik. Fitur AI seperti real-time background blur pada panggilan video, voice typing yang lebih akurat, atau pengaturan daya adaptif bisa menjadi pembeda dibandingkan laptop Intel murah yang tidak memiliki akselerasi AI hardware. Ini sejalan dengan tren PC AI yang mulai digaungkan oleh berbagai vendor.

Jika laptop Snapdragon C sukses, ini bisa menjadi titik balik bagi industri laptop Windows. Produsen tidak lagi harus bergantung sepenuhnya pada Intel atau AMD untuk segmen entry-level. ARM memberikan fleksibilitas desain yang lebih besar, efisiensi yang lebih baik, dan potensi harga yang lebih kompetitif. Konsumen pun akhirnya punya lebih banyak pilihan di luar dominasi arsitektur x86.

Kehadiran Snapdragon C juga menekan Intel untuk berinovasi lebih cepat di segmen prosesor low-power. Kompetisi yang sehat pada akhirnya akan menguntungkan konsumen dengan harga lebih murah dan kualitas lebih baik. Qualcomm jelas ingin memanfaatkan momentum ini untuk merebut hati pengguna laptop murah yang selama ini mungkin kecewa dengan performa laptop Windows entry-level.

Dengan jadwal rilis akhir tahun 2026, kita masih harus menunggu beberapa bulan lagi untuk melihat implementasi nyata Snapdragon C di perangkat komersial. Namun, pengumuman di Computex ini sudah cukup memberikan sinyal bahwa pasar laptop entry-level akan segera berubah. Apple MacBook Neo mungkin akan mendapat saingan berat dari kubu Windows.

Bagi pengguna di Indonesia, laptop dengan Snapdragon C bisa menjadi pilihan menarik jika harganya masuk akal. Dengan daya tahan baterai yang dijanjikan seharian dan performa yang cukup untuk produktivitas dasar, perangkat ini cocok untuk pelajar, pekerja lepas, atau siapa pun yang membutuhkan laptop kedua yang ringkas dan irit daya.

Qualcomm juga telah menunjukkan komitmen jangka panjang di segmen ini. Dengan pengalaman mereka di chip ponsel yang sangat efisien, tidak mengherankan jika Snapdragon C mampu memberikan efisiensi daya yang lebih baik dibandingkan prosesor Intel sekelas. Pertanyaannya sekarang: apakah para mitra OEM mampu meracik laptop dengan harga $300 yang tetap berkualitas?

Jawabannya akan diketahui dalam beberapa bulan ke depan saat perangkat perdana mulai dipasarkan. Yang jelas, persaingan di pasar prosesor laptop entry-level kini memasuki babak baru. Qualcomm, dengan Snapdragon C-nya, siap menjadi pemain utama.

Ilustrasi prosesor Qualcomm Snapdragon C dengan latar abu-abu

Komentar

Belum ada komentar.