Ilustrasi ponsel pintar dengan komponen memori yang menjadi fokus utama biaya produksi

Ponsel Murah Makin Sulit Bertahan Akibat Kenaikan Biaya Memori

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️3 menit membaca
Bagikan:
  • Pengiriman ponsel di bawah USD 400 diprediksi turun lebih dari 22% pada 2026
  • Kenaikan biaya memori DRAM dan NAND menjadi penyebab utama
  • Biaya memori menyumbang hampir 60% BOM ponsel murah di Q1 2026
  • Merek seperti Transsion, OPPO, vivo, Honor, dan Xiaomi terpaksa menaikkan harga atau menurunkan spesifikasi
  • Segmen premium (di atas USD 400) justru tumbuh 5,7% karena fleksibilitas lebih besar
  • AI yang seharusnya membuat ponsel lebih canggih justru mendorong kenaikan harga
  • Konsumen mungkin akan menghadapi ponsel murah dengan upgrade spesifikasi lebih sedikit

Telset.id – Industri ponsel pintar global tengah menghadapi perubahan signifikan. Pasar ponsel murah atau budget diprediksi mengalami penurunan drastis pada 2026, dengan lonjakan biaya komponen memori sebagai dalang utamanya. Fenomena ini mengancam keberlangsungan segmen ponsel yang selama ini menjadi andalan bagi konsumen di negara berkembang, termasuk Indonesia.

Laporan terbaru dari firma riset Omdia mengungkapkan bahwa pengiriman global ponsel pintar dengan harga di bawah USD 400 diperkirakan turun lebih dari 22% pada tahun 2026. Penyebab utamanya adalah kenaikan biaya memori DRAM dan NAND yang terus berlanjut. Harga Memori Melonjak ini dipicu oleh meningkatnya kebutuhan fitur kecerdasan buatan (AI) yang membutuhkan kapasitas memori lebih besar di seluruh lini produk.

“Memori selalu menjadi salah satu komponen termahal di dalam ponsel pintar, namun kini bebannya semakin berat,” tulis Omdia dalam laporannya. Pada kuartal pertama 2026, biaya memori saja sudah menyumbang hampir 60% dari total biaya bahan baku (Bill of Materials/BOM) untuk ponsel di bawah USD 400. Angka ini bahkan melonjak hingga lebih dari 64% untuk ponsel dengan harga di bawah USD 99.

Kondisi ini membuat produsen ponsel memiliki ruang yang sangat sempit untuk menyerap kenaikan biaya produksi. Berbagai merek besar seperti Transsion, OPPO, vivo, Honor, dan Xiaomi kini berada di persimpangan jalan. Mereka terpaksa harus memilih antara menaikkan harga jual atau menurunkan spesifikasi produk demi menjaga margin keuntungan.

Upaya efisiensi di sektor lain seperti penggunaan panel layar yang lebih murah, sensor kamera yang lebih sederhana, dan komponen radio yang lebih rendah spesifikasinya sudah dilakukan. Namun, Omdia menilai bahwa ponsel kelas bawah sudah dioptimalkan secara maksimal sehingga tidak banyak lagi komponen yang bisa dipangkas.

Seseorang mengeluarkan Google Pixel 9a dari saku.

Fenomena ini menjadi ironi di tengah gencarnya kampanye AI di ponsel pintar. Alih-alih membuat ponsel semakin canggih dan terjangkau, AI justru menjadi faktor yang mendorong kenaikan harga. Produsen kini kesulitan menghadirkan ponsel budget dengan spesifikasi kompetitif tanpa mengorbankan margin yang sudah tipis.

## Segmen Premium Justru Tumbuh

Menariknya, tekanan biaya ini tidak dialami secara merata oleh seluruh segmen pasar. Omdia mencatat bahwa ponsel dengan harga di atas USD 400 justru diprediksi akan mengalami pertumbuhan pengiriman sebesar 5,7% pada 2026. Hal ini menunjukkan bahwa segmen premium memiliki fleksibilitas yang jauh lebih besar dalam menghadapi kenaikan biaya komponen.

Produsen ponsel premium memiliki lebih banyak opsi untuk mengompensasi kenaikan biaya memori. Mereka bisa melakukan penyesuaian pada komponen lain seperti layar, kamera, atau bahkan menggunakan chipset generasi sebelumnya yang lebih ekonomis. Strategi ini tidak bisa diterapkan pada ponsel murah yang sudah bekerja dengan margin sangat tipis.

Bagian belakang Google Pixel 9a berwarna putih.

Laporan Omdia juga menyertakan data visual yang menunjukkan dominasi biaya memori dalam struktur BOM ponsel murah. Grafik tersebut memperlihatkan bahwa porsi biaya memori meningkat drastis seiring dengan turunnya harga jual ponsel. Ini menjadi bukti nyata bahwa segmen entry-level adalah yang paling rentan terhadap fluktuasi harga komponen.

Grafik porsi biaya memori terhadap total BOM ponsel.

## Dampak bagi Konsumen

Jika prediksi Omdia terbukti akurat, konsumen akan merasakan dampak langsung dari perubahan ini. Ponsel murah yang selama ini menjadi andalan mungkin akan mengalami pengurangan upgrade spesifikasi yang signifikan. Dalam skenario terburuk, beberapa produsen bisa saja mengurangi atau bahkan menghentikan lini ponsel murah mereka dan beralih fokus ke perangkat yang lebih menguntungkan.

“Hal yang lucu adalah AI seharusnya membuat ponsel pintar lebih canggih. Sebaliknya, AI justru membuatnya lebih mahal, atau setidaknya membuat ponsel yang benar-benar terjangkau menjadi jauh lebih sulit untuk dibuat,” tulis laporan Omdia.

Bagi konsumen yang mengincar ponsel budget dengan spesifikasi terbaik, situasi ini menjadi tantangan tersendiri. Namun, masih ada beberapa merek yang berusaha menghadirkan inovasi di segmen ini. Contohnya, Realme baru saja meluncurkan Realme P4 Pro 5G yang mengusung DNA flagship dengan harga terjangkau.

Kenaikan biaya memori ini diperkirakan akan berlangsung hingga akhir 2027. Produsen dan konsumen sama-sama harus bersiap menghadapi era baru di mana ponsel murah mungkin tidak lagi semurah dulu. Industri sedang bergerak menuju polarisasi pasar, di mana segmen premium dan flagship terus tumbuh sementara segmen entry-level semakin tertekan.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.