Telset.id – Ketua ADATA, Simon Chen, memberikan peringatan serius terkait masa depan industri memori global. Ia menyatakan bahwa kelangkaan pasokan DRAM akan berlangsung selama 10 tahun ke depan, dan anggapan tentang adanya gelembung AI (AI bubble) dinilai terlalu dini.
Pernyataan ini disampaikan Chen di tengah gejolak pasar saham Taiwan setelah rilis rekor pendapatan kuartal kedua TSMC. Aksi jual besar-besaran yang terjadi memicu kembali kekhawatiran investor mengenai investasi AI yang dinilai terlalu panas. Namun, Chen justru melihat situasi dari perspektif yang berbeda.
Dalam laporan yang dikutip dari Commercial Times, Chen menegaskan bahwa listrik, terutama energi hijau, dan memori akan menjadi dua sumber daya paling langka di dunia dalam satu dekade mendatang. Ia membantah argumen bahwa penyewaan kapasitas komputasi berlebih oleh Meta dan penyedia cloud lain merupakan bukti bahwa investasi telah melampaui permintaan.
“Aplikasi AI akan menyebar ke seluruh sektor bisnis, pemerintahan, dan pasar konsumen,” ujar Chen. Ia menambahkan bahwa analis yang menilai siklus industri hanya dari belanja modal jangka pendek atau tingkat utilisasi satu perusahaan telah meremehkan permintaan jangka panjang.
Chen juga menyoroti potensi besar perangkat edge (edge devices) di luar pusat data. Ia menyebut robot, kendaraan otonom, pabrik dan toko tanpa awak, rumah pintar, hingga satelit orbit rendah Bumi sebagai pasar yang bisa mencapai puluhan miliar unit.
Ia bahkan menantang industri untuk meninjau kembali pertanyaan tentang gelembung AI setelah tahun 2030. “Diskusikan apakah gelembung AI akan terjadi pada tahun 2040 atau 2050,” katanya, seperti dilaporkan oleh Commercial Times.
Baca Juga:
Kenaikan Harga DRAM dan NAND Flash pada Kuartal Ketiga
ADATA juga merilis proyeksi harga yang cukup agresif. Perusahaan memperkirakan harga kontrak DRAM akan naik 20% hingga 30% pada kuartal ketiga tahun ini. Sementara itu, harga NAND flash diprediksi akan melonjak lebih tinggi lagi, yaitu 35% hingga 40% pada periode yang sama.
Proyeksi ini sejalan dengan strategi ADATA yang telah menimbun inventaris chip senilai lebih dari NT$30 miliar pada akhir Februari lalu. Perusahaan ini juga termasuk di antara modul-maker Taiwan yang berhasil mengumpulkan dana sekitar $880 juta melalui utang dan penempatan saham untuk terus membeli chip.
Dengan strategi ini, setiap kenaikan harga kontrak akan langsung meningkatkan nilai inventaris yang sudah dimiliki ADATA. Sejak Oktober lalu, harga kontrak DRAM telah naik hingga 171% secara tahunan, menandai periode kelangkaan yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Produsen Memori Berekspansi, Namun Pasokan Tetap Ketat
Meskipun ada ekspansi besar-besaran dari para produsen memori, Chen berpendapat bahwa hal itu tidak akan melonggarkan pasar. SK hynix, misalnya, berhasil mengumpulkan dana rekor sebesar $26,5 miliar dalam IPO di AS bulan ini untuk mendanai ekspansi manufaktur HBM. Nanya berencana melipatgandakan belanja modal menjadi $6,2 miliar pada tahun 2027. Sementara itu, CXMT dari China dilaporkan mendekati output DRAM setara Micron tahun ini.
Namun, Chen berargumen bahwa tiga pemasok besar (Samsung, SK hynix, Micron) telah belajar dari krisis masa lalu. Mereka akan berekspansi secara hati-hati dan tidak akan mengulangi perlombaan kapasitas yang tidak teratur yang pernah menghancurkan harga di siklus sebelumnya. Di sisi lain, produsen China masih terkendala akses terbatas ke peralatan semikonduktor dan jadwal pembangunan pabrik yang memakan waktu bertahun-tahun.
Atas dasar itu, Chen menegaskan bahwa pembicaraan tentang pelonggaran pasokan dan permintaan saat ini tidak memiliki landasan yang kokoh. Ia memperkirakan harga dan keuntungan modul-maker akan terus meningkat hingga paruh kedua tahun ini.
Pernyataan Chen ini sejalan dengan peringatan dari raksasa memori lainnya. Samsung dan SK hynix sebelumnya telah memperingatkan bahwa kelangkaan memori yang didorong oleh AI bisa berlangsung hingga 2027 dan seterusnya. Bahkan, SK Hynix menyebut tahun 2027 akan menjadi ‘tahun terburuk’ untuk kelangkaan memori, dengan memperkirakan krisis akan berlangsung hingga 2030.
Dengan proyeksi ini, industri memori global diprediksi akan terus berada dalam tekanan pasokan yang ketat. Para pelaku pasar dan konsumen harus bersiap menghadapi harga komponen yang terus merangkak naik dalam jangka panjang. Investasi AI yang masif dari perusahaan teknologi besar menjadi pendorong utama permintaan yang tak kunjung reda.





Komentar
Belum ada komentar.