Peneliti Ubah Ponsel Bekas Jadi Server Data Center Murah

Peneliti Ubah Ponsel Bekas Jadi Server Data Center Murah

Penulis:Fernando Yehezkiel
Terbit:
Diperbarui:
⏱️3 menit membaca
Bagikan:

Telset.id – Tim peneliti dari University of California San Diego (UCSD) berkolaborasi dengan Google berhasil mendaur ulang ponsel pintar Pixel bekas menjadi server data center berbiaya rendah. Temuan ini menawarkan solusi baru untuk mengurangi limbah elektronik global.

Peneliti memanfaatkan ponsel yang sudah pensiun sebagai bagian dari “embodied carbon” yang terkait dengan proses manufaktur dan jejak karbonnya. Kebiasaan manusia mengganti perangkat seluler setiap beberapa tahun menjadi salah satu kontributor terbesar limbah elektronik. Kelompok peneliti UCSD pun merancang ulang perangkat ini menjadi “platform komputasi serbaguna.”

Studi tersebut mengungkapkan bahwa ponsel pintar dari tiga tahun lalu masih memiliki performa single-core lebih tinggi dibandingkan server seperti Asus RS720A-E11. Server itu biasa dilengkapi GPU Nvidia H200 atau Nvidia RTX Pro 6000 serta dua prosesor server AMD EPYC yang banyak ditemukan di pusat data paling canggih. Meskipun server tersebut memberikan performa yang tidak bisa dicapai perangkat seluler, fakta bahwa ponsel lama masih mencetak skor lebih tinggi di benchmark SPEC per-core membuat peneliti bisa menggunakannya untuk tugas komputasi dengan sedikit kreativitas.

Langkah pertama yang dilakukan adalah melepas komponen yang tidak esensial seperti layar, baterai, kamera, speaker, dan casing. Hanya motherboard yang tersisa karena menjadi tempat sistem-on-chip (SoC) yang diperlukan untuk menjalankan komputasi. Sistem operasi Android kemudian diganti dengan distribusi Linux umum yang digunakan di aplikasi data center. Proses ini menghilangkan bloatware yang tidak perlu pada perangkat konsumen asli dan memungkinkan penerapan perangkat lunak orkestrasi seperti Kubernetes.

old phones stacked together

Hasil benchmark menunjukkan bahwa 25 hingga 50 ponsel lama setara dengan kekuatan komputasi satu CPU kelas server dual-socket. UCSD juga menentukan bahwa klaster 20 ponsel dapat mendukung satu aplikasi yang dibutuhkan kelas dengan 75 mahasiswa atau lebih.

Dengan demikian, alih-alih dihosting di cloud yang memerlukan biaya tambahan dan penggunaan sumber daya di sisi data center, aplikasi tersebut bisa dijalankan pada penerapan lokal dari ponsel bekas ini. Tim peneliti berencana menggunakan 2.000 ponsel untuk membangun data center lokal yang dapat mendukung “seratus kelas seperti itu sekaligus.”

Selain mendapatkan keuntungan menjalankan aplikasi secara lokal dan memiliki perangkat keras sendiri, kelompok tersebut juga menyatakan bahwa biayanya hanya “sebagian kecil dari biaya biasa.” Hal ini kemungkinan merujuk pada pembangunan server lokal dari komponen baru. Kondisi ini semakin relevan dengan kenaikan harga chip memori dan penyimpanan saat ini.

Tim peneliti mengatakan bahwa mereka memperkirakan akan meluncurkan sistem penuh pada tahun ini dan tengah mengamati bagaimana komponen konsumen dapat bertahan terhadap penggunaan terus-menerus di aplikasi data center. Namun, meskipun eksperimen ini berhasil, para ahli tidak memperkirakan perusahaan AI besar akan beralih ke server dari komponen ponsel bekas. Perusahaan-perusahaan tersebut biasanya ingin bekerja dengan lebih sedikit komponen dan mengandalkan keandalan perangkat keras khusus.

Meski demikian, opsi ini menjadi pilihan bagus bagi universitas dan lembaga pendidikan, serta entitas lebih kecil yang tidak memiliki sumber daya untuk mendapatkan komponen baru dan bersaing dengan raksasa teknologi bermiliar dolar.

Ini bukan pertama kalinya para ilmuwan melihat kemungkinan memberi kehidupan baru pada ponsel lama. Kelompok peneliti lain telah mengubah ponsel lama menjadi “pusat data kecil” tahun lalu, bahkan menggunakan satu set empat perangkat lama untuk pemantauan bawah air. Meskipun SoC yang ditemukan di perangkat ini dianggap “ketinggalan zaman” menurut standar modern, SoC tersebut seharusnya masih cukup mampu untuk banyak tugas rutin.

Badan antariksa AS, NASA, bahkan menggunakan kembali SoC Qualcomm 801, chip kelas menengah dari tahun 2014 yang ditemukan di helikopter Mars Ingenuity, untuk membantu penjelajah Perseverance menemukan jalannya di Planet Merah. Untuk ponsel pintar yang tidak berfungsi lagi, orang-orang menemukan cara mengekstrak emas dan sumber daya lain yang ditemukan di papan mereka untuk didaur ulang.

Komentar

Belum ada komentar.