Ilustrasi rambu penyeberangan di Manhattan dengan sensor AI untuk melacak pejalan kaki dan kendaraan

New York Pasang 100 Sensor AI Lacak Pejalan Kaki dan Kendaraan

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️3 menit membaca
Bagikan:
  • New York Department of Transportation memasang 100 sensor AI di berbagai titik jalan kota
  • Sensor menggunakan machine learning untuk melacak pejalan kaki, sepeda, dan kendaraan
  • Data dianonimkan - wajah dan plat nomor tidak direkam untuk melindungi privasi
  • Inisiatif perluasan dari uji coba 20 sensor pada tahun 2023
  • Tujuan utama: memperbaiki desain penyeberangan dan infrastruktur sepeda
  • DOT berjanji bagikan sebagian data ke publik, kelompok pengawas minta semua data dirilis

Telset.id – New York Department of Transportation (DOT) resmi memasang 100 sensor berbasis machine learning di berbagai titik jalan untuk melacak pergerakan pejalan kaki, sepeda, dan kendaraan. Langkah ini merupakan perluasan dari uji coba sensor pada 2023 yang hanya melibatkan 20 perangkat.

Menurut laporan Gothamist, inisiatif ini bertujuan mengumpulkan data lalu lintas yang lebih kaya guna memperbaiki desain jalan, khususnya untuk penyeberangan pejalan kaki dan infrastruktur sepeda. Sensor tersebut dipasang di tiang-tiang rambu di berbagai lokasi strategis di kota New York.

Deputy Commissioner DOT, Eric Beaton, menjelaskan bahwa sensor-sensor tersebut dirancang untuk menganonimkan wajah dan plat nomor kendaraan. Algoritma machine learning memastikan setiap pejalan kaki dan kendaraan dilacak secara visual dalam kotak berwarna yang diberi label, tanpa menyimpan data identitas pribadi.

Ilustrasi rambu penyeberangan di Manhattan yang menjadi lokasi pemasangan sensor lalu lintas AI.

“Tidak ada data yang kami sentuh atau bisa disentuh oleh siapa pun yang dapat mengidentifikasi seseorang atau kendaraan,” klaim Beaton kepada Gothamist. Ia menambahkan bahwa sensor ini menyediakan kumpulan data yang jauh lebih kaya untuk dianalisis dibandingkan metode konvensional.

Sebagai bagian dari kebijakan transparansi, DOT berjanji akan membagikan sebagian data yang dikumpulkan kepada publik. Namun, kelompok pengawas akuntabilitas menuntut seluruh data dirilis secara penuh. Mantan direktur kebijakan DOT, Jon Orcutt, menekankan pentingnya keterbukaan informasi karena lembaga tersebut didanai oleh pajak masyarakat.

“Jika mereka mengumpulkan data ini atas nama publik, sebagai lembaga yang didanai wajib pajak, kita berhak tahu apa yang dikatakannya,” ujar Orcutt. Ia mencontohkan, saat ini hanya ada 20-25 titik penghitungan sepeda di seluruh New York yang memiliki 6.000 mil jalan raya, sehingga data yang terkumpul sangat terbatas.

Inisiatif ini menyoroti posisi sulit pejabat kota: mengumpulkan data yang cukup untuk membuat keputusan berbasis bukti tentang transportasi umum memerlukan perluasan pengawasan kota. Situasi ini menimbulkan dilema antara kebutuhan data akurat dengan privasi warga.

Tampilan dari sensor lalu lintas DOT New York yang menandai berbagai elemen lalu lintas dalam kotak berwarna.

Sensor machine learning ini diharapkan dapat memberikan gambaran yang lebih komprehensif tentang pola pergerakan di jalan-jalan New York. Data yang terkumpul akan digunakan untuk merancang ulang persimpangan, jalur sepeda, dan area pejalan kaki yang lebih aman dan efisien.

Meskipun demikian, kekhawatiran tentang potensi penyalahgunaan data tetap mengemuka. Kelompok advokasi privasi meminta jaminan bahwa data anonim tidak dapat direkonstruksi menjadi informasi identitas pribadi di kemudian hari.

Langkah New York ini sejalan dengan tren global penggunaan AI untuk manajemen lalu lintas perkotaan. Beberapa kota besar lain seperti London dan Singapura juga telah menerapkan sistem serupa dengan tingkat pengawasan yang bervariasi.

DOT menegaskan bahwa data yang dikumpulkan hanya akan digunakan untuk perencanaan transportasi dan tidak akan dibagikan kepada lembaga penegak hukum tanpa perintah pengadilan. Namun, para kritikus meragukan efektivitas jaminan tersebut mengingat sejarah pelanggaran data oleh instansi pemerintah.

Ke depannya, New York berencana memperluas jaringan sensor ini jika hasil awal menunjukkan manfaat yang signifikan. Keputusan akhir akan bergantung pada respons publik dan efektivitas sistem dalam mengumpulkan data yang dapat ditindaklanjuti.

Inisiatif ini menjadi contoh bagaimana teknologi pengawasan dapat digunakan untuk kepentingan publik, namun tetap memicu perdebatan tentang keseimbangan antara keamanan, efisiensi, dan hak privasi warga kota.

Komentar

Belum ada komentar.