πŸ“‘ Daftar Isi

Ilustrasi paten pengenalan wajah Meta untuk kacamata pintar

Meta Patenkan Pengenalan Wajah untuk Kacamata Pintar

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️4 menit membaca
Bagikan:
  • Meta mengajukan paten pengenalan wajah untuk kacamata pintar pada Februari lalu
  • Paten menggambarkan AI untuk mengenali orang dan menggunakan informasi saat membuat media
  • Sebelumnya Meta mengembangkan fitur internal "Name Tag" untuk identifikasi real-time
  • Komponen pengenalan wajah ditemukan tidak aktif di aplikasi Meta AI pada Juni
  • Meta melisensikan teknologi dari Rank One Computing yang melayani militer AS
  • Center for Democracy and Technology memperingatkan risiko penyalahgunaan teknologi
  • Kacamata pintar dianggap berbahaya karena mirip kacamata biasa dan bisa mengidentifikasi diam-diam

Telset.id – Meta kembali memperlihatkan keseriusannya menghadirkan teknologi pengenalan wajah pada kacamata pintar. Hal ini terungkap melalui publikasi aplikasi paten terbaru yang diajukan perusahaan pada Februari lalu, yang menggambarkan penggunaan AI untuk mengenali orang dan memanfaatkan informasi terkait saat membuat konten media.

Laporan yang pertama kali diungkap oleh Patentlyze ini menunjukkan bahwa Meta belum menyerah pada ide yang sempat memicu kekhawatiran publik sepanjang tahun ini. Meski aplikasi paten tidak menjamin fitur tersebut akan sampai ke konsumen, dokumen ini menjadi bukti terbaru bahwa eksplorasi teknologi pengenalan wajah untuk perangkat wearable terus berlanjut.

Aplikasi paten yang terdaftar di US Patent and Trademark Office ini hadir setelah berbulan-bulan laporan menunjukkan upaya Meta yang berulang kali mencoba menghadirkan fitur serupa. Ini menandakan bahwa pengembangan teknologi tersebut bukan sekadar eksperimen sesaat.

Rangkaian Upaya Meta Menghadirkan Pengenalan Wajah

Pada Februari lalu, laporan internal mengungkapkan adanya fitur bernama β€œName Tag” yang dirancang memungkinkan kacamata pintar Meta mengidentifikasi orang secara real-time. Fitur ini menjadi sorotan awal atas niat Meta menghadirkan kemampuan pengenalan wajah pada perangkatnya.

Memasuki Juni, situasi menjadi lebih kompleks. Para peneliti menemukan komponen pengenalan wajah yang tidak aktif di dalam aplikasi Meta AI, termasuk sistem yang mampu mendeteksi wajah dan mengubahnya menjadi data biometrik. Meta kemudian menghapus kode tersebut dan menegaskan bahwa tidak ada fitur pengenalan wajah yang telah diluncurkan.

Pada periode yang sama, terungkap pula bahwa Meta telah melisensikan teknologi pengenalan wajah dari Rank One Computing, perusahaan yang pelanggannya mencakup militer dan lembaga penegak hukum Amerika Serikat. Perangkat lunak tersebut juga ditemukan tidak aktif di dalam aplikasi Meta AI.

Ilustrasi paten pengenalan wajah Meta untuk kacamata pintar

Pada titik ini, tidak ada keraguan bahwa Meta telah mengeksplorasi pengenalan wajah untuk kacamatanya. Yang masih menjadi pertanyaan adalah apakah pekerjaan tersebut pada akhirnya akan hadir dalam produk yang bisa dibeli konsumen. Perusahaan tampaknya terus mendorong batas-batas teknologi ini meskipun menghadapi berbagai tantangan.

Minat Meta pada teknologi ini juga terlihat dari berbagai inisiatif lain yang tengah berjalan. Perusahaan sebelumnya membagikan ribuan kacamata AI gratis untuk tunanetra di Irlandia sebagai bagian dari upaya memperluas adopsi perangkat ini. Namun, berbagai permasalahan juga muncul, termasuk masalah moderasi video yang semakin rumit di platform Instagram.

Masalah Privasi yang Belum Berubah

Paten ini telah menuai kritik sejak awal kemunculannya. Dalam pernyataan yang dikutip CNET, Center for Democracy and Technology memperingatkan bahwa teknologi tersebut dapat disalahgunakan dengan cara yang membahayakan kelompok rentan, termasuk korban stalking dan kekerasan dalam rumah tangga.

Kekhawatiran yang sama telah mengikuti fitur Name Tag sejak awal. Kacamata pintar sangat berbeda dengan pengenalan wajah yang tersembunyi di dalam pustaka foto. Kacamata adalah kamera yang dikenakan di wajah seseorang saat mereka bergerak di ruang publik.

Meta Ray-Ban Gen 2 Smart Glasses

Kacamata Meta sudah terlihat sangat mirip dengan kacamata biasa. Tambahkan pengenalan wajah, dan seseorang yang berada di dekatnya mungkin tidak memiliki cara untuk mengetahui apakah mereka hanya sedang dilihat atau secara diam-diam diidentifikasi. Ketidakmampuan untuk membedakan kedua hal ini menjadi inti persoalan privasi yang dihadapi teknologi tersebut.

Kekhawatiran privasi ini bukan hal baru bagi perangkat Meta. Sebelumnya, pengadilan Inggris melarang kacamata pintar Meta masuk ke ruang sidang untuk mencegah potensi penyalahgunaan. Sementara itu, di sisi lain, Meta terus mengembangkan ekosistem perangkatnya dengan meluncurkan aplikasi Threads untuk headset Meta Quest, menunjukkan ambisi perusahaan dalam memperluas jajaran produk wearable-nya.

Meskipun paten ini menunjukkan keseriusan Meta, masih ada jalan panjang sebelum teknologi ini benar-benar hadir di pasaran. Perusahaan harus menyeimbangkan inovasi dengan kekhawatiran privasi publik yang semakin meningkat. Regulasi di berbagai negara juga menjadi faktor yang perlu dipertimbangkan sebelum fitur semacam ini bisa diluncurkan secara luas.

Yang jelas, Meta terus bergerak maju dengan eksplorasi pengenalan wajah untuk kacamata pintarnya. Publikasi paten ini menjadi sinyal bahwa perusahaan melihat potensi besar dalam teknologi ini, meskipun harus menghadapi berbagai tantangan regulasi dan kekhawatiran publik. Pertanyaan tentang kapan dan bagaimana teknologi ini akan hadir tetap menjadi misteri yang hanya bisa dijawab oleh Meta sendiri.

Perkembangan ini juga menunjukkan bahwa persaingan di industri AI dan perangkat wearable semakin ketat. Meta harus terus berinovasi untuk mempertahankan posisinya, termasuk dalam hal teknologi pengenalan wajah yang masih kontroversial ini. Namun, keputusan akhir tetap berada di tangan konsumen dan regulator yang akan menentukan apakah teknologi semacam ini layak untuk diadopsi secara luas.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.