Telset.id – Jika Anda berpikir bahwa kenaikan harga komponen PC belakangan ini hanyalah fluktuasi pasar biasa, Anda mungkin perlu meninjau ulang strategi perakitan rig impian Anda. Situasi di pasar memori ritel kian memburuk dari hari ke hari, dengan lonjakan harga yang terjadi secara merata, terutama untuk modul berkapasitas tinggi. Di tengah kepanikan akibat kelangkaan DRAM yang mencekik ini, banyak mata mulai tertuju ke Timur, menaruh harapan besar pada produsen memori China sebagai juru selamat.
Narasi yang berkembang di kalangan konsumen dan gamer cukup sederhana: ketika raksasa Korea Selatan dan Amerika Serikat kesulitan memenuhi permintaan, pemasok dari China seperti CXMT (ChangXin Memory Technologies) dan YMTC (Yangtze Memory Technologies Corp) diharapkan hadir membanjiri pasar dengan modul DDR4 dan DDR5 murah. Harapan ini terdengar manis, seolah menjadi solusi instan bagi dompet yang menjerit. Namun, realitas rantai pasok berbicara lain. Ada tembok tebal yang memisahkan angan-angan konsumen dengan kenyataan teknis di lapangan.
Banyak dari kita yang berasumsi bahwa CXMT dan rekan-rekannya akan menjaga harga modul tetap terjangkau demi memastikan adopsi skala besar. Sayangnya, asumsi ini meleset karena berbagai alasan fundamental. Masalahnya bukan sekadar niat, melainkan kapabilitas manufaktur dan hambatan geopolitik yang nyata. Kita tidak sedang berbicara tentang sekadar merakit chip, tetapi tentang proses litografi tingkat lanjut dan validasi kualitas yang tidak bisa dikompromikan.
Untuk memahami mengapa harga RAM kemungkinan tidak akan diselamatkan oleh China dalam waktu dekat, kita perlu membedah dua aspek kunci. Pertama adalah kondisi industri memori China itu sendiri, khususnya terkait volume dan teknologi proses. Kedua, adalah pertanyaan besar mengenai apakah pemain seperti CXMT dan YMTC benar-benar bisa menembus kerangka regulasi global untuk mengirimkan modul DDR mereka ke pelanggan di seluruh dunia.
Teknologi “Jalur Tikus” yang Tidak Efisien
Mari kita fokus pada CXMT, salah satu perusahaan terdepan yang memproduksi modul DDR5 di China. Di atas kertas, spesifikasi mereka mungkin terlihat menjanjikan. Namun, ada satu fakta teknis yang tidak bisa diabaikan: produksi DDR5 standar industri saat ini sangat bergantung pada litografi EUV (Extreme Ultraviolet). Seperti yang mungkin sudah Anda duga, China tidak memiliki akses ke peralatan canggih ini akibat pembatasan ekspor teknologi.
Tanpa akses ke EUV, CXMT terpaksa menggunakan berbagai “jalan memutar” atau workaround untuk mencapai hasil yang serupa. Teknik-teknik ini mencakup penggunaan SAQP (Self-Aligned Quadruple Patterning), binning yang agresif, hingga penerapan profil voltase XMP yang lebih tinggi. Sekilas, ini terdengar seperti inovasi cerdas ala teknologi China pada umumnya, namun ada harga mahal yang harus dibayar dari sisi efisiensi manufaktur.
Konsekuensi paling fatal dari metode ini adalah ukuran die atau chip itu sendiri. Laporan menunjukkan bahwa ukuran die memori CXMT sekitar 40 hingga 50 persen lebih besar dibandingkan dengan chip berkapasitas sama milik SK Hynix. Dalam dunia semikonduktor, ukuran adalah uang. Jika satu wafer silikon menghasilkan jumlah chip yang jauh lebih sedikit karena ukurannya yang membengkak, biaya produksi per unit akan melonjak drastis.
Inilah yang menempatkan produsen China pada posisi yang sangat tidak menguntungkan secara biaya. Ketika CXMT mencoba beralih ke produksi volume tinggi, inefisiensi ini akan memakan margin keuntungan mereka. Mimpi konsumen untuk mendapatkan RAM murah menjadi mustahil ketika biaya dasar pembuatannya saja sudah jauh lebih tinggi dibandingkan kompetitor global yang menggunakan proses EUV yang lebih efisien.
Baca Juga:
Masalah Panas dan Kepercayaan Industri
Selain masalah biaya, teknik “akrobat” manufaktur yang dilakukan CXMT juga berdampak pada performa termal. Untuk mencapai kecepatan hingga 8.000 MT/s, teknik binning yang digunakan CXMT menyebabkan suhu kit memori meningkat dibandingkan alternatif dari produsen lain. Bagi gamer dan overclocker, suhu adalah musuh utama stabilitas sistem. Memori yang cepat panas bukanlah pilihan bijak untuk penggunaan jangka panjang.
Lebih jauh lagi, adopsi memori dalam industri PC bukan sekadar membeli chip lalu menyolder atau memasangnya ke motherboard. Ini adalah proses multi-tahap yang melibatkan validasi desain yang ketat, pengujian ekstensif, dan integrasi sistem. CXMT saat ini kekurangan elemen-elemen krusial ini karena status mereka yang masih “anak baru” di pasar solusi DDR5.
Profesor Shim dari Universitas Dong-A, sebagaimana dikutip dari Korea Herald, memberikan pandangan tajam mengenai hal ini. Menurutnya, akan sangat sulit bagi CXMT untuk menjadi perusahaan memori global tanpa pengalaman dalam menyelesaikan cacat teknis bersama pelanggan di berbagai bidang aplikasi, seperti CPU dan grafis seluler. Logikanya sederhana: ketika industri sudah memiliki pemasok terbukti seperti Samsung dan SK Hynix yang menawarkan kualitas dan keandalan, tidak ada alasan rasional bagi vendor besar untuk mempertaruhkan reputasi produk mereka dengan memilih perusahaan tanpa rekam jejak yang jelas.
Dari sudut pandang bisnis, vendor China tidak dapat meningkatkan volume produksi chip DDR5 tanpa menghadapi tantangan finansial dan adopsi yang berat. Bahkan jika CXMT meningkatkan produksi secara dramatis, kapasitas mereka saat ini praktis hanya cukup untuk melayani permintaan domestik China saja. Vendor raksasa seperti Apple, HP, dan Dell tidak akan mendekati modul ini kecuali mereka telah melakukan pengujian teknologi secara ekstensif—sesuatu yang memakan waktu dan biaya.
Bahkan rumor mengenai harga murah pun telah dibantah. CXMT menepis klaim bahwa mereka menjual kit RAM dengan harga di bawah pasar ritel. Menurut laporan DigiTimes, pabrikan tersebut justru ingin menaikkan harga ke level yang setara dengan vendor Korea. Jadi, tidak ada diskon eksklusif yang menanti Anda. Hal serupa terjadi pada YMTC, produsen NAND terkenal yang kini berinvestasi di lini produksi DRAM; tidak ada laporan yang menunjukkan mereka berani membanting harga di bawah kontrak DDR5/DDR4 saat ini.
Tembok Besar Regulasi Amerika
Bayangkan sebuah skenario di mana CXMT dan YMTC entah bagaimana berhasil memproduksi modul DRAM murah dalam jumlah massal. Pertanyaan selanjutnya adalah: bagaimana barang tersebut bisa sampai ke pasar Amerika Serikat atau bahkan pasar global yang terikat dengan ekosistem teknologi Barat? Ini adalah hambatan terbesar yang sering dilupakan oleh konsumen awam.
Bagi yang belum tahu, YMTC telah masuk dalam Daftar Entitas (Entity List) AS sejak Desember 2022, menyusul klaim keterlibatan mereka dengan Huawei dan militer China. Status ini praktis mematikan akses mereka ke pasar AS secara legal. Di sisi lain, meskipun CXMT belum masuk Entity List, Departemen Pertahanan AS tetap melarang perusahaan tersebut di bawah Bagian 1260H. Artinya, setiap minat arus utama terhadap produk CXMT dapat menempatkan perusahaan pembeli dalam masalah hukum yang serius.
Amerika Serikat telah lama menentang integrasi teknologi inti dari vendor China ke dalam produk komputasi, mirip dengan kewaspadaan pada komponen premium lainnya. Contoh nyata dari sikap ini terlihat jelas pada infrastruktur AI dan jaringan. Jadi, bahkan jika ada celah kecil bagi pemasok memori China untuk mengintegrasikan modul mereka ke dalam produk akhir yang dijual ke pelanggan AS, pemerintah administrasi kemungkinan besar akan segera turun tangan dan memberlakukan pembatasan yang lebih ketat.
Prospek mendapatkan stik RAM murah buatan China terdengar optimis di telinga, terutama di tengah persaingan bisnis yang terkadang memanas layaknya kasus sengketa industri hiburan. Namun, kita harus kembali berpijak pada fakta. Kendala manufaktur membuat pemain seperti CXMT dan YMTC tertinggal signifikan di belakang. Upaya apa pun untuk adopsi skala besar dari mereka akan memerlukan investasi yang, pada akhirnya, mungkin tidak sepadan dengan risikonya.
Singkatnya, jangan terlalu berharap memori China akan menyelamatkan dompet Anda dalam waktu dekat. Dinamika rantai pasok dan tembok politik terlalu tinggi untuk dipanjat, bahkan bagi naga Asia sekalipun.

