Ilustrasi kontroversi privasi smart glasses dengan kamera tersembunyi dan lampu indikator yang bisa dinonaktifkan

Kontroversi Privasi Smart Glasses Makin Memanas di 2026

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️5 menit membaca
Bagikan:
  • Meta menghadapi kritik atas smart glasses yang bisa merekam tanpa sepengetahuan orang lain
  • Fitur Name Tag (pengenalan wajah) terungkap lewat laporan WIRED dan dihapus Meta
  • Meta menambahkan fitur anti-rusak untuk mencegah penonaktifan lampu indikator
  • Google dan Samsung akan masuk pasar smart glasses akhir tahun ini
  • Apple dilaporkan menunda produksi smart glasses hingga 2027 untuk atasi masalah privasi
  • Penjualan smart glasses Meta tetap memecahkan rekor meski ada kontroversi
  • Even Realities dan Solos tawarkan alternatif fokus privasi tanpa kamera atau dengan pelindung
  • Consumer Reports advokasi legislasi California untuk wajibkan indikator perekaman
  • Ahli menyatakan sulit membuat smart glasses privat sekaligus tampak normal

Telset.id – Kontroversi privasi seputar smart glasses kembali menjadi sorotan utama industri teknologi di 2026. Kekhawatiran utama berpusat pada kemampuan perangkat ini merekam foto dan video tanpa sepengetahuan orang di sekitar, dengan Meta sebagai perusahaan yang paling banyak menerima kritik.

Meta, pemain terbesar di pasar smart glasses, menghadapi tekanan publik yang semakin besar. Kacamata pintar buatan perusahaan ini mampu menangkap gambar, audio, dan video dari apa pun yang dilihat penggunanya. Meskipun perangkat tersebut dilengkapi lampu indikator untuk memberi tahu orang lain saat sedang direkam, sejumlah pengguna Meta telah menemukan cara menonaktifkan fitur keamanan tersebut.

Menanggapi masalah ini, Meta telah menambahkan fitur anti-rusak yang akan menonaktifkan kacamata jika pengguna mencoba mengutak-atik perangkat. Namun, kekhawatiran lain terus bermunculan. Awal tahun ini, Meta memprogram fitur pengenalan wajah yang diberi nama Name Tag ke dalam smart glasses-nya. Fitur tersebut baru terungkap setelah laporan dari WIRED, dan Meta kemudian menghapus kode tersebut dari aplikasinya.

CTO Meta, Andrew Bosworth, membenarkan keberadaan fitur Name Tag dalam podcast The Atlantic yang berjudul The Most Interesting Thing in AI. Pada sebuah acara di bulan Juni, Meta juga mengungkapkan sedang mempertimbangkan untuk menambahkan smart glasses tanpa kamera ke lini produknya.

## Persaingan dan Tekanan Industri

Perbincangan seputar privasi dan smart glasses diprediksi akan semakin intens seiring masuknya Google dan Samsung ke pasar ini pada akhir tahun. Apple juga dilaporkan tengah mengerjakan smart glasses yang bisa hadir pada 2027, meskipun produksinya dikabarkan tertunda untuk mengatasi masalah privasi.

Di tengah kontroversi tersebut, minat konsumen terhadap smart glasses justru meningkat. Meta telah menjual puluhan juta unit, dan penjualan kacamata ini mencapai rekor tertinggi. Banyak pengguna menemukan manfaat nyata, mulai dari mengambil foto cepat hingga merekam video bergaya GoPro saat bersepeda gunung.

Ada pula kasus penggunaan aksesibilitas yang dibantu kecerdasan buatan, seperti teks real-time untuk percakapan lisan dan kemitraan Meta dengan Be My Eyes yang membantu penyandang tunanetra berinteraksi dengan dunia sekitar melalui kamera kacamata.

Beberapa merek kecil mencoba menarik konsumen yang anti-Meta dengan smart glasses yang fokus pada privasi. Even Realities, misalnya, membuat smart glasses tanpa kamera sebagai upaya diferensiasi. Sementara itu, kacamata Solos hadir dengan pelindung privasi yang bisa dipasang di atas lensa kamera di lingkungan sensitif.

“The fact that it’s even a discussion point is really great for the industry,” ujar Matt Margolis, vice president of business development di Vuzix, produsen optik enterprise. “If it didn’t matter, it wouldn’t be a point of focus, which means we’re really close to having critical mass of products into the market.”

## Perbedaan Fundamental dengan Smartphone

Smart glasses bukan produk pertama yang memicu kekhawatiran privasi. Para advokat privasi sebelumnya juga mengkritik penambahan kamera pada smartphone, laptop, dan perangkat pribadi lainnya. Namun, ada perbedaan mendasar: smartphone tetap harus dikeluarkan, diangkat, dan kamera diaktifkan untuk mengambil foto atau merekam video.

Smart glasses dengan kamera kecil bawaan dan kemampuan pengguna menyembunyikan notifikasi perekaman jauh lebih sulit terdeteksi. “The fact that they are designed to be innocuous is the biggest difference,” kata Thorin Klosowski, aktivis keamanan dan privasi senior di Electronic Frontier Foundation. “Someone pointing their phone or a camera is going to be pretty obvious. Even with a phone, you can’t totally disguise what you’re doing.”

Pertanyaan besarnya: apakah mungkin membuat smart glasses yang benar-benar privat bagi pengguna dan orang di sekitarnya? Salah satu caranya adalah membuat lampu indikator lebih terang atau desain kacamata yang lebih jelas menunjukkan adanya kamera terpasang, seperti kacamata berkamera Snapchat generasi awal. Namun, konsumen tampaknya tidak ingin memakai kacamata kamera yang mencolok. Sebagian alasan pengguna Google Glass pada 2013 diejek dan dijuluki “Glassholes” justru karena desainnya yang mencolok.

“I don’t think it’s really possible to create such a pair of smart glasses,” ujar Jitesh Ubrani, direktur riset perangkat konsumen di International Data Corporation. “There is certainly a market incentive, right? People want this kind of thing, but at the same time, they also want glasses that look normal and look like regular glasses.”

Stacey Higginbotham, policy fellow di Consumer Reports, berpendapat tidak ada alasan perangkat ini harus menjadi mimpi buruk privasi, tetapi insentif sosial dan ekonomi justru mendorong hal tersebut. Higginbotham dan rekannya, Justin Brookman, direktur kebijakan teknologi di Consumer Reports, mengadvokasi legislasi di senat California yang mewajibkan perusahaan menyertakan indikator terlihat pada perangkat yang merekam audio dan video, sekaligus melarang pengguna menonaktifkan indikator tersebut.

“As technology develops and has the capacity to increasingly collect everything about all of us all the time, then that’s where policy needs to come in,” kata Brookman.

## Gelombang Penolakan Teknologi Pengawasan

Penolakan terhadap smart glasses terjadi bersamaan dengan meningkatnya kritik terhadap teknologi pengawasan lainnya. Kamera pengawas Flock merekam aktivitas di jalan-jalan, jaringan pengawasan ketat terpasang di Madison Square Garden, dan orang-orang semakin sadar bahwa mereka terus-menerus diamati, direkam, dan dicatat.

“All of this stuff this year has been a very loud, pronounced pushback in a way that I haven’t seen in a while,” kata Klosowski. “It feels like people are starting to understand the implications of this.”

Perkembangan ini menunjukkan bahwa industri smart glasses berada di persimpangan penting. Di satu sisi, permintaan pasar terus tumbuh dengan penjualan yang memecahkan rekor. Di sisi lain, tekanan publik dan regulator semakin kuat untuk memastikan teknologi ini tidak mengorbankan privasi orang lain.

Perusahaan seperti Meta telah merespons dengan fitur anti-rusak, sementara pemain baru seperti Google dan Samsung akan memasuki pasar dengan pendekatan mereka sendiri. Apple dilaporkan menunda produksi untuk menyelesaikan masalah privasi terlebih dahulu.

Yang jelas, diskusi tentang privasi dan smart glasses tidak akan mereda dalam waktu dekat. Industri harus menemukan keseimbangan antara inovasi, keinginan konsumen akan perangkat yang tampak normal, dan tanggung jawab untuk melindungi privasi publik. Legislasi seperti yang diadvokasikan di California bisa menjadi preseden bagi regulasi serupa di wilayah lain.

Bagi konsumen Indonesia yang tertarik dengan smart glasses, penting untuk memahami risiko privasi dan fitur keamanan yang tersedia sebelum membeli. Sementara itu, perkembangan regulasi dan respons produsen akan menentukan bagaimana teknologi ini berkembang di masa depan.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.