Telset.id – Jika Anda berniat membeli konsol handheld besutan Valve hari ini, bersiaplah untuk menelan kekecewaan. Fenomena yang disebut sebagai “Great RAMaggedon of 2026” tampaknya bukan sekadar isapan jempol belaka. Laporan terbaru mengonfirmasi bahwa stok Steam Deck habis di berbagai varian, sebuah sinyal mengkhawatirkan yang mengindikasikan bahwa krisis komponen global mulai memukul telak industri perangkat keras gaming.
Situasi ini terjadi kurang dari seminggu setelah Valve secara terbuka mengakui bahwa kelangkaan RAM—yang disertai dengan lonjakan harga komponen memori tersebut—telah mempengaruhi rencana perangkat keras mereka. Kini, dampak dari pengakuan tersebut bermanifestasi nyata di etalase toko digital mereka. Steam Deck, yang biasanya tersedia meski kadang terbatas, kini menghilang sepenuhnya dari peredaran, memicu spekulasi liar di kalangan pengamat teknologi dan gamer.
Waktu kejadian ini menimbulkan pertanyaan besar. Seperti yang dicatat oleh Kotaku, momen hilangnya stok ini sangat mencurigakan karena bertepatan dengan memburuknya masalah pasokan RAM global. Apakah Valve sedang menahan stok untuk penyesuaian harga, atau memang rantai pasok mereka benar-benar lumpuh? Analisis mendalam diperlukan untuk memahami apakah ini sekadar gangguan sementara atau awal dari kenaikan harga konsol yang signifikan, mengingat rumor mengenai Steam Deck 2 juga mulai santer terdengar.
Anomali Hilangnya Varian OLED
Berdasarkan pantauan langsung di platform Steam, varian Steam Deck LCD 256GB, serta kedua model premium Steam Deck OLED (512GB dan 1TB), semuanya berstatus sold out. Untuk model LCD, hal ini mungkin masih bisa dimaklumi. Valve sebelumnya memang telah mengumumkan rencana untuk menghentikan produksi versi LCD dan hanya menghabiskan sisa inventaris pada Desember 2025. Jadi, habisnya stok model 256GB bukanlah kejutan besar bagi pasar.
Namun, cerita berbeda datang dari lini OLED. Fakta bahwa kedua versi OLED—yang merupakan produk unggulan utama Valve saat ini—juga tidak tersedia pada waktu yang bersamaan adalah sebuah anomali. Ini adalah kejadian yang tidak biasa, mengingat Valve biasanya menjaga ketersediaan model flagship mereka dengan cukup ketat. Kelangkaan total pada seluruh lini produk ini memperkuat dugaan bahwa masalahnya bukan pada manajemen gudang biasa, melainkan pada krisis komponen di tingkat hulu yang menghambat produksi.
Engadget telah mencoba menghubungi Valve untuk meminta klarifikasi lebih lanjut mengenai ketersediaan Steam Deck ini, namun hingga berita ini diturunkan, belum ada tanggapan resmi. Keheningan ini justru menambah ketidakpastian, terutama bagi konsumen yang sedang membandingkan perangkat ini dengan kompetitor seperti Nintendo Switch 2.
Baca Juga:
Dampak Domino Industri AI dan Kenaikan Harga
Krisis ini tidak berdiri sendiri. Saat Valve mengumumkan proyek perangkat keras lainnya seperti Steam Controller, Steam Frame, dan Konsol PC Valve (Steam Machine), mereka secara mencolok tidak mencantumkan detail harga dan ketersediaan. Keputusan tersebut kemungkinan besar diambil karena ketidakpastian tarif dan akses terhadap pasokan RAM yang harganya terus meroket. Pengumuman perusahaan minggu lalu, yang menyebutkan bahwa kekurangan memori dan penyimpanan telah menunda rencana mereka, seolah menjadi konfirmasi tak tertulis.
Meskipun Valve belum secara eksplisit menyatakan bahwa Steam Deck akan mengalami kenaikan harga, indikator pasar menunjukkan arah ke sana. Lonjakan biaya RAM telah memaksa produsen PC lain untuk melakukan penyesuaian harga yang drastis. Sebagai contoh nyata, Framework mengumumkan pada bulan Januari bahwa mereka menaikkan harga Framework Desktop hingga US$ 460 (sekitar Rp 7 jutaan). Kenaikan setinggi itu bukanlah angka yang kecil dan mencerminkan betapa parahnya situasi di balik layar.
Para analis industri memprediksi bahwa kekurangan memori ini sebagian besar didorong oleh permintaan masif dari industri kecerdasan buatan (AI). Perusahaan teknologi besar berlomba-lomba memborong chip memori untuk server AI mereka, meninggalkan remah-remah bagi produsen elektronik konsumen. Jika tren ini berlanjut, dampaknya bisa lebih dari sekadar harga gadget yang mahal; kita mungkin menghadapi penurunan ekonomi di industri PC secara lebih luas.
Masa Depan Handheld Valve
Skenario terbaik saat ini adalah bahwa habisnya stok Steam Deck hanyalah masalah logistik sementara. Mungkin ada keterlambatan pengiriman komponen yang bisa diselesaikan dalam beberapa minggu. Namun, jika kita melihat data dari Framework dan pengakuan Valve sendiri tentang masalah RAM, skenario terburuknya adalah Valve sedang menghitung ulang struktur biaya produksi mereka.
Jika biaya produksi meningkat tajam akibat harga RAM, Valve dihadapkan pada dua pilihan sulit: memakan kerugian lebih besar per unit (sesuatu yang sudah mereka lakukan di awal rilis Steam Deck) atau menaikkan harga jual ke konsumen. Perubahan drastis pada strategi harga Steam Deck tampaknya bukan lagi hal yang mustahil jika “RAMaggedon” ini terus berlanjut sepanjang tahun 2026.
Bagi Anda yang sedang menabung untuk membeli perangkat ini, memantau perkembangan berita dalam beberapa minggu ke depan sangatlah krusial. Apakah Valve akan mengembalikan stok dengan harga lama, ataukah kita akan melihat label harga baru yang lebih tinggi? Hanya waktu yang bisa menjawabnya.

