Kacamata pintar Anko AI Camera Glasses dari Kmart Australia di atas meja

Kacamata AI Murah Anko Kmart Ludes Terjual, Picu Kekhawatiran Privasi

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️3 menit membaca
Bagikan:
  • Kmart Australia menjual kacamata AI Anko seharga AU$89 dan langsung ludes terjual
  • Fitur utama: foto, video HD, asisten AI, musik, dan panggilan hands-free
  • Menggunakan software HeyCyan yang dipakai banyak kacamata pintar murah
  • Tom Sulston dari Digital Rights Watch menyebutnya "mimpi buruk privasi"
  • Meta telah menjual 7 juta unit Ray-Ban smart glasses dan merespons kritik dengan pembaruan software
  • Otoritas privasi Australia memantau perkembangan teknologi ini
  • Sebagian pemilik kacamata pintar merasa tidak nyaman memakainya di tempat umum

Telset.id – Kacamata pintar bertenaga AI kini bukan lagi barang mahal yang hanya dimiliki segelintir orang. Buktinya, Kmart Australia baru saja kehabisan stok Anko AI Camera Glasses yang dibanderol hanya AU$89, jauh lebih murah dibandingkan Ray-Ban Meta, namun menawarkan fitur serupa seperti foto, video HD, asisten AI, hingga panggilan hands-free. Penjualan yang cepat habis ini menunjukkan minat publik terhadap kacamata pintar terjangkau sangat tinggi, sekaligus memicu kembali perdebatan soal privasi di ruang publik.

Fenomena ini menarik karena menandai pergeseran besar: perangkat perekam yang sebelumnya identik dengan harga premium kini bisa masuk keranjang belanja bersamaan dengan perlengkapan dapur. Anko AI Camera Glasses menggunakan software HeyCyan, platform yang sudah dipakai banyak kacamata pintar murah di marketplace online. Meski sejumlah pengguna Reddit menilai kinerjanya lebih lambat dari Meta, fungsi intinya tetap sama.

## Ledakan Pasar Kacamata Pintar Murah

Kesuksesan Meta menjadi pemicu utama kategori ini. Meta telah menjual lebih dari 7 juta unit Ray-Ban smart glasses di seluruh dunia, mengubah produk yang sempat dianggap niche menjadi kategori konsumen yang berkembang. Kampanye pemasaran selebriti dan pembaruan software yang konsisten semakin mempercepat momentum tersebut.

Namun, harga murah justru menimbulkan kekhawatiran baru. Tom Sulston, kepala kebijakan Digital Rights Watch, menyebut kacamata pintar berkamera sebagai “mimpi buruk privasi”. Ia berpendapat hukum privasi yang ada belum mengikuti perkembangan teknologi wearable yang bergerak cepat. Sulston juga menyoroti kasus kreator media sosial yang diduga memakai perangkat serupa untuk mengganggu orang di ruang publik.

Kekhawatiran utama bukan sekadar kemampuan merekam video di tempat umum. Masalahnya, teknologi ini semakin tidak mencolok, membuat orang di sekitar sulit mengetahui apakah mereka sedang difilmkan atau difoto. Meski perangkat dilengkapi indikator LED yang dirancang untuk menunjukkan saat perekaman berlangsung, para kritikus berulang kali mempertanyakan efektivitas pengamanan tersebut.

## Respons Regulator dan Langkah Meta

Otoritas privasi Australia telah mengakui kekhawatiran publik terhadap teknologi ini dan menyatakan sedang memantau perkembangannya seiring meningkatnya adopsi. Sementara itu, Meta juga merespons kritik dengan sejumlah perubahan. Perubahan software terbaru dikabarkan mencegah perekaman jika LED privasi perangkat terhalang. Meta juga mengambil tindakan terhadap video yang menampilkan pengguna yang diduga mengganggu orang asing saat memakai kacamata tersebut.

Beberapa organisasi, termasuk lembaga pemerintah dan konferensi, telah membatasi atau melarang penggunaan perangkat ini karena masalah keamanan dan privasi. Kmart sendiri menyatakan kacamata Anko termasuk dalam kategori teknologi wearable yang semakin umum dan berharap pelanggan menggunakannya secara bertanggung jawab sesuai hukum setempat.

Ray Ban Meta Gen 1 on white

Menariknya, dampak negatif tidak hanya dirasakan orang yang terekam. Sebagian pemilik kacamata pintar justru merasa tidak nyaman memakainya di tempat umum karena khawatir dinilai atau dihadapi orang lain hanya karena memiliki kamera di wajah mereka.

Situasi ini menciptakan paradoks: semakin murah dan mudah diakses teknologi ini, semakin besar pula ketegangan sosial yang menyertainya. Australia Juni 2026 menjadi saksi bagaimana pasar konsumen merespons produk semacam ini dengan antusias, sementara regulator berusaha mengejar ketertinggalan.

Kekhawatiran privasi ini bukan isu yang berdiri sendiri. Gagal blokir media sosial untuk remaja di Australia menunjukkan bahwa regulasi teknologi seringkali tertinggal dari inovasi. Begitu pula dengan solusi transportasi modern yang membutuhkan keseimbangan antara efisiensi dan regulasi.

Ke depan, pertanyaan besar yang menggantung adalah apakah langkah-langkah pengamanan yang ada saat ini cukup untuk melindungi privasi publik. Yang jelas, kacamata pintar murah seperti Anko AI Camera Glasses telah membuka pintu bagi adopsi massal, dan konsekuensinya akan terus menjadi bahan diskusi hangat di tengah masyarakat.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.