📑 Daftar Isi

TinyGPU v2.0 chip silikon GPU terkecil dari Tiny Tapeout

GPU Terkecil di Dunia Kini Hidup dan Beroperasi

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️3 menit membaca
Bagikan:
  • ASIC TinyGPU v2.0, GPU terkecil dunia, berhasil beroperasi setelah chip silikon diterima dari komunitas Tiny Tapeout
  • GPU open-source ini mampu menampilkan hingga 1.000 segitiga dengan fitur flat shading, backface culling, dan affine texture mapping
  • Chip mengemas sekitar 240.000 transistor dengan double buffer 4-bit dan depth buffer 8-bit pada QSPI RAM
  • Frame rate demo berkisar 7,5-15 FPS, tidak lebih cepat dari pengujian FPGA sebelumnya
  • TinyGPU v3.0 dengan programmable pixel shader terinspirasi DirectX 8 PS 1.1 dijadwalkan rilis Desember 2026 atau Januari 2027
  • Pixel shader baru mendukung SIMD 4 piksel paralel, 31 instruksi per shader, dan branching via masked execution
  • Demo awal v3.0 menampilkan bunglon sebagai penghormatan kepada Nvidia GeForce 3 yang diluncurkan Februari 2001

Telset.id – ASIC TinyGPU v2.0, GPU terkecil di dunia yang sempat dikabarkan akan diproduksi, kini resmi beroperasi setelah desainernya, Pongsagon Vichit, menerima chip silikon jadi dari komunitas Tiny Tapeout. Kabar ini menandai tonggak penting dalam pengembangan GPU open-source berskala sangat kecil.

Vichit, seorang desainer ASIC/FPGA amatir, mengumumkan keberhasilan ini melalui media sosial dengan pernyataan “ASIC TinyGPU v2.0 is alive and working!!!” Chip tersebut merupakan bagian dari shuttle SKY 25b yang diproduksi oleh komunitas Tiny Tapeout. Desain GPU ini sepenuhnya open-source dan dapat diakses publik melalui GitHub.

Dalam demonstrasi awal, TinyGPU v2.0 menampilkan model poligon rendah yang dapat dimanipulasi secara real-time menggunakan game controller. Demo kedua yang lebih impresif menampilkan globe Bumi berwarna yang dapat diperbesar dan diputar. Meskipun frame rate-nya tidak terlihat lebih mulus dibanding pengujian FPGA sebelumnya, chip ini berhasil membuktikan kemampuannya beroperasi sebagai GPU standalone.

Spesifikasi Teknis TinyGPU v2.0

Menurut dokumentasi di GitHub, TinyGPU v2.0 mampu melakukan transformasi & pencahayaan (transformation & lighting) serta rasterisasi dengan maksimal 1.000 segitiga di layar. GPU ini juga dilengkapi satu dynamic directional light, flat shading, backface culling, dan affine texture mapping.

Chip silikon mungil ini mengemas sekitar 240.000 transistor. TinyGPU v2.0 juga menawarkan double buffer 4-bit dan depth buffer 8-bit yang disimpan pada QSPI RAM. Dalam pengujian sebelumnya menggunakan host FPGA Basys3, GPU ini hanya mampu mencapai frame rate antara 7,5 hingga 15 FPS.

TinyGPU v2.0

Vichit sebelumnya mengindikasikan bahwa silicon Tiny Tapeout tidak akan berjalan lebih cepat daripada FPGA, dan aksi di layar memang tidak terlihat lebih mulus. Namun, keberhasilan chip ini beroperasi merupakan pencapaian signifikan bagi proyek open-source berskala kecil.

TinyGPU v3.0 dengan Pixel Shader Terprogram

Antusiasme kini beralih ke TinyGPU v3.0 yang sudah disubmit ke run Tiny Tapeout berikutnya sebelum v2.0 diterima dan diuji Vichit. “Tapi kita semua tahu bahwa bisnis GPU itu kejam — harus merilis model baru dengan cepat,” canda sang desainer.

Fitur baru yang signifikan di TinyGPU v3.0 adalah programmable pixel shader. Vichit mengungkapkan spesifikasi pixel shader yang terinspirasi dari DirectX 8 PS 1.1 ringan, dengan SIMD (4 piksel paralel), 31 instruksi per shader, set instruksi 26-op, branching via masked execution, dan 4x register temp 8-bit.

Dengan pixel shader baru yang bekerja paralel dengan akses Z-buffer, near/far plane culling, dan guard band clipping, peningkatan kualitas grafis besar dijanjikan. Model yang jauh lebih detail, bertekstur, dan animatif diharapkan hadir dengan dampak performa minimal.

Salah satu demo awal TinyGPU v3 menampilkan bunglon sebagai penghormatan kepada Nvidia GeForce 3, yang dikenal sebagai GPU terprogram pertama untuk konsumen. GPU tersebut diluncurkan 25 tahun lalu pada Februari 2001. Informasi terbaru menyebutkan bahwa ASIC TinyGPU v3.0 akan dikirim pada Desember 2026 atau Januari 2027.

Proyek TinyGPU menunjukkan bahwa pengembangan GPU tidak selalu harus melibatkan perusahaan raksasa dengan sumber daya besar. Dengan komunitas open-source seperti Tiny Tapeout, inovasi di bidang ini tetap bisa berjalan. Perkembangan ini juga menarik untuk dicermati para penggemar teknologi yang mengikuti tren harga game global dan industri grafis secara umum.

Keberadaan GPU sekecil ini membuka peluang penggunaan di perangkat IoT, mainan, atau aplikasi lain yang membutuhkan pemrosesan grafis ringan. Meskipun performanya jauh di bawah GPU komersial modern, proyek ini membuktikan bahwa desain GPU dapat dilakukan secara terbuka dan kolaboratif.

Keberhasilan TinyGPU v2.0 dan rencana v3.0 menunjukkan momentum positif bagi pengembangan hardware open-source. Komunitas Tiny Tapeout terus mendukung para desainer amatir untuk mewujudkan ide-ide mereka menjadi chip silikon nyata.

Dengan jadwal pengiriman yang sudah diumumkan, para pengamat teknologi akan menantikan apakah TinyGPU v3.0 dapat memenuhi janji peningkatan kualitas grafisnya. Proyek ini juga menjadi bukti bahwa inovasi di bidang semikonduktor tidak selalu identik dengan skala produksi massal.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.