📑 Daftar Isi

Galaxy Z Fold8 Jadi Foldable Teringan di Dunia dengan Bobot 201 Gram, Intip Evolusinya!

Galaxy Z Fold8 Jadi Foldable Teringan di Dunia dengan Bobot 201 Gram, Intip Evolusinya!

Penulis:Fernando Yehezkiel
Terbit:
Diperbarui:
⏱️4 menit membaca
Bagikan:

Telset.id – Samsung Electronics Indonesia resmi memperkenalkan Galaxy Z Fold8 sebagai smartphone lipat atau foldable teringan di dunia dengan bobot hanya 201 gram. Angka tersebut menandai penurunan signifikan sebesar 52 gram dibandingkan pendahulunya, Galaxy Z Fold5 yang memiliki bobot 253 gram.

Keberhasilan ini menjawab target ambisius yang sempat dilontarkan tim pengembangan Samsung: bisakah smartphone lipat memiliki bobot lebih ringan daripada smartphone flagship bar-type? Saat itu, Galaxy S25 Ultra yang merupakan flagship bar-type memiliki bobot 218 gram, sementara target bobot untuk Galaxy Z Fold7 adalah 215 gram.

Galaxy Z Fold7 berhasil mencapai target tersebut. Kini, Galaxy Z Fold8 melanjutkan inovasi dengan memadukan form factor baru serta pengembangan pada teknologi inti, material, dan arsitektur internal. Dengan ketebalan hanya 9,7 milimeter, perangkat ini sekaligus menegaskan posisinya sebagai foldable paling ringan di pasar global.

Perjalanan pengurangan bobot ini tidak terjadi secara instan. Sejak memperkenalkan Galaxy Fold pertama dengan bobot 276 gram pada 2019, Samsung terus memperluas kemampuan smartphone lipatnya. Galaxy Z Fold5 hadir dengan bobot 253 gram, lalu Galaxy Z Fold6 turun menjadi 239 gram, dan kini Galaxy Z Fold8 mencapai 201 gram.

Semakin Tipis, Semakin Presisi Engineering yang Dibutuhkan

Membuat perangkat foldable menjadi lebih tipis dan ringan menghadirkan tantangan baru dalam hal rekayasa teknologi. Lapisan-lapisan di dalam layar perlu dibuat lebih tipis namun tetap memenuhi standar ketahanan dan keandalan Samsung. Pelat logam yang menopang layar juga harus tetap sangat rata meskipun dibuat semakin tipis.

Salah satu inovasi kuncinya adalah Flex Titanium. Layar pada Galaxy Z Fold8 menggunakan teknologi ini yang dilengkapi Titanium Alloy Film, dirancang khusus untuk struktur layar foldable. Film tersebut hanya memiliki ketebalan puluhan mikrometer, sekitar sepertiga dari lebar rambut manusia.

Pelat logam penopang layar pun diproses hingga ketebalan sekitar 0,2 milimeter, dengan bagian tertipis mencapai 0,15 milimeter. Pada tingkat ketipisan tersebut, logam lebih mudah melengkung atau berubah bentuk selama proses machining. Samsung menyempurnakan urutan machining, tooling, kondisi pendinginan, dan parameter proses untuk mempertahankan presisi.

Engsel juga membutuhkan perhatian yang sama. Selain membuka dan menutup perangkat, engsel harus mampu mendistribusikan gaya dari proses melipat secara berulang ke seluruh perangkat. Samsung merancang engsel untuk setiap form factor dengan menyeimbangkan distribusi beban, kekuatan, ketahanan, ruang internal, dan bobot.

Lebih Ringan tapi Tetap Tangguh, Dimulai dari Material

Inovasi material menjadi area kedua yang menentukan. Samsung memilih dan mengembangkan material berdasarkan kebutuhan spesifik setiap komponen. Untuk bagian eksterior, Samsung menggunakan Advanced Armor Aluminum yang memberikan kekuatan dalam frame yang tipis dan ringan.

Material juga berperan penting dalam pengelolaan suhu. Semakin tipis perangkat, semakin terbatas ruang untuk mengelola panas. Samsung menggunakan grafit dengan performa termal yang ditingkatkan serta menerapkan Clad Metal di bagian dalam sisi belakang perangkat untuk mengurangi bobot sekaligus memberikan performa termal yang dibutuhkan.

Inovasi teknologi dan material saja tidak cukup. Para engineer Samsung meninjau sekitar 270 komponen dan lebih dari 180 jenis bagian pendukung. Proses ini mencakup layar, engsel, kamera, hingga circuit board, antena, bracket, tape, dan fastener dengan presisi hingga pengurangan 0,1 gram dan 0,1 milimeter.

Printed Circuit Board atau PCB didesain ulang dengan menghilangkan sirkuit yang tidak diperlukan. Antena MFC juga dirancang ulang untuk mengurangi overlap dan interferensi. Dari lebih dari 180 jenis bagian pendukung, sekitar 15 jenis berhasil dihilangkan, sementara 170 jenis lainnya dioptimalkan dimensinya. Beberapa pengurangan bobot dilakukan hingga hanya 0,001 gram.

Pendekatan rekayasa serupa juga diterapkan pada Galaxy Z Fold8 Ultra. Perangkat ini memiliki dimensi serupa dengan Galaxy Z Fold7 dan sama-sama berbobot 215 gram, namun berhasil meningkatkan kapasitas baterai dari 4.400 mAh menjadi 5.000 mAh. Baterai yang lebih besar menambah bobot sekitar 6 gram, sehingga tim harus menemukan kembali 6 gram tersebut dari seluruh komponen perangkat.

Galaxy Z Fold8 Ultra juga dilengkapi kamera utama 200 MP dan menjadi perangkat Galaxy Z Fold pertama dengan kamera Ultra-Wide 50 MP. Volume lapisan grafit untuk pembuangan panasnya ditingkatkan sekitar 7 persen dibandingkan Galaxy Z Fold7.

Perjalanan dari 253 gram menjadi 201 gram membuktikan bahwa tidak ada satu material atau komponen tunggal yang memungkinkan transformasi tersebut. Delapan generasi engineering mewujudkannya melalui pengembangan teknologi fundamental, penggunaan material baru, serta peninjauan kembali seluruh perangkat.

Hasilnya, penghematan bobot dan ruang dialihkan untuk menghadirkan baterai, kamera, sistem termal, serta berbagai pengalaman flagship lain yang paling bernilai bagi pengguna. Galaxy Z Fold8 tidak hanya menjadi foldable teringan di dunia, tetapi juga mempertahankan kualitas yang diharapkan dari sebuah smartphone flagship.

Bagi yang tertarik dengan perkembangan rekayasa teknologi lainnya, drone MICH 2000 juga menjadi contoh bagaimana rekayasa balik dapat mengubah industri pertahanan. Sementara itu, teknologi nosel F-16 menunjukkan bahwa inovasi tidak selalu harus berasal dari hal yang baru.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.