Robot humanoid Unitree yang dimodifikasi beroperasi secara otonom menggunakan sistem AI dari Flexion Robotics

Flexion Robotics Kembangkan AI untuk Latih Robot Humanoid Secara Otonom

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
ā±ļø3 menit membaca
Bagikan:
  • Flexion Robotics, startup Swiss yang didirikan mantan peneliti Nvidia, kembangkan AI untuk latih robot humanoid secara otonom
  • Sistem ini melatih robot di dalam simulasi dan dengan instruksi manusia terbatas, berbeda dari metode teleoperasi konvensional
  • Robot mampu melakukan tugas kompleks seperti membuka pintu, menaiki tangga, membawa kotak, dan menggunakan elevator
  • Kunci teknologi ini adalah penggunaan ekstensif reinforcement learning di setiap lapisan perangkat lunak
  • Model AI utama belajar dari video manusia, lalu mencocokkan keterampilan dari simulasi untuk dieksekusi di dunia nyata
  • ABI Research perkirakan pasar robot foundation models bisa bernilai USD 150 miliar pada 2036
  • Flexion berkolaborasi dengan sejumlah perusahaan robotika dan sistemnya kompatibel dengan berbagai bentuk humanoid

Telset.id – Swiss startup Flexion Robotics, yang didirikan oleh mantan peneliti robotika Nvidia, mengembangkan pendekatan baru untuk melatih robot humanoid. Sistem ini memungkinkan robot melakukan tugas kompleks seperti membuka pintu, menaiki tangga, dan membawa kotak secara otonom, tanpa perlu dikendalikan manusia dari jarak jauh.

Pendekatan konvensional dalam melatih robot humanoid selama ini mengandalkan teleoperasi, yaitu seorang operator manusia yang mengendalikan gerakan robot dari belakang layar. Metode ini terbukti tidak efektif ketika robot ditempatkan di lingkungan yang tidak dikenalnya. Flexion menawarkan solusi berbeda dengan melatih robot di dalam simulasi dan dengan instruksi manusia yang terbatas.

Dalam video demonstrasi yang dirilis, robot humanoid Unitree yang telah dimodifikasi mampu beroperasi secara otonom setelah menerima perintah: ā€œSebuah paket berisi camilan telah dikirim untuk Flexion. Ambil menggunakan tangga dan naik menggunakan elevator. Kemudian buka bungkusnya dan tempatkan barang-barang ke dalam laci kosong di rak area camilan.ā€ Robot tersebut berhasil menjalankan rangkaian perintah kompleks itu tanpa campur tangan manusia.

Sistem Flexion menggabungkan beberapa sistem kecerdasan buatan (AI) yang berbeda. Model AI utama mampu memahami cara melakukan tugasnya dengan mencerna video manusia yang melakukan berbagai aktivitas. Perangkat lunak kemudian mencocokkan keterampilan yang telah dipelajari—yang diperoleh dari simulasi—dengan video tersebut dan mengeksekusinya di dunia nyata.

Untuk mencapai ruang surat di sebuah kantor, misalnya, model AI harus belajar bahwa ia perlu membuka pintu tertentu dan menggunakan elevator. Sistem ini juga mengendalikan motor robot, memungkinkannya untuk berjalan, menggerakkan anggota tubuh, dan menjaga keseimbangan.

Nikita Rudin, salah satu pendiri dan CEO Flexion yang juga mantan ilmuwan riset robotika di Nvidia, mengungkapkan bahwa ā€œbahan rahasiaā€ dari perangkat lunak ini adalah penggunaan ekstensif reinforcement learning. Pendekatan ini melatih komputer untuk menguasai tugas melalui proses trial and error. Setiap lapisan perangkat lunak, mulai dari model AI utama hingga simulasi dan kontrol motor, menggunakan metode ini.

Para pemimpin industri teknologi seperti Elon Musk dan Jensen Huang berpendapat bahwa robot humanoid akan berdampak besar pada ekonomi karena berpotensi menggantikan sebagian besar tenaga kerja manusia. Namun, demonstrasi Flexion mencerminkan fakta bahwa memberdayakan humanoid membutuhkan kemajuan fundamental dalam AI.

ā€œHumanoid itu sendiri bukanlah hal yang menarik dan revolusioner, melainkan model AI yang mendukungnya,ā€ ujar George Chowdhury, analis ABI Research yang mengikuti pasar humanoid.

ABI Research memperkirakan bahwa pasar untuk model fondasi robot (robot foundation models) bisa bernilai USD 150 miliar pada tahun 2036. Rudin mengatakan bahwa Flexion saat ini berkolaborasi dengan sejumlah perusahaan robotika dan mencatat bahwa sistem mereka bekerja di berbagai bentuk humanoid yang berbeda.

Mengingat banyaknya sistem yang ada di pasar, hal ini bisa membuat perangkat lunak Flexion menjadi lebih bernilai secara komersial. Chowdhury menambahkan bahwa Flexion perlu bekerja sama erat dengan produsen perangkat keras untuk sukses dan akan menghadapi persaingan yang ketat. Namun, tanpa kemampuan untuk memprogram humanoid seperti yang ditunjukkan Flexion, menurutnya, ā€œtidak akan ada pasar di sini.ā€

Pendekatan Flexion ini menjadi angin segar di tengah perdebatan tentang efektivitas robot humanoid. Selama ini, banyak demo robot humanoid hanya menunjukkan kemampuan spesifik seperti melipat baju atau mengisi rak, yang dilatih secara khusus. Flexion membuktikan bahwa dengan AI yang tepat, robot bisa lebih adaptif.

Keunggulan utama sistem Flexion terletak pada kemampuannya untuk menggabungkan pembelajaran dari simulasi dengan pemahaman dari video dunia nyata. Ini memungkinkan robot untuk menggeneralisasi keterampilan yang telah dipelajari ke situasi baru, sesuatu yang sulit dicapai dengan metode teleoperasi tradisional.

Jika teknologi ini terus berkembang, bukan tidak mungkin di masa depan kita akan melihat robot humanoid yang benar-benar mandiri, mampu bekerja di gudang, kantor, atau bahkan rumah tanpa perlu diawasi manusia secara konstan. Ini tentu akan menjadi lompatan besar dalam dunia robotika dan AI.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.