Seseorang dengan cahaya biru terang meletakkan router Wi-Fi di atas meja.

FCC Larang Router Impor, Pasar Router AS Kacau

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
ā±ļø4 menit membaca
Bagikan:
  • FCC melarang semua router internet rumah tangga buatan luar negeri di AS.
  • Tidak ada satu pun router Wi-Fi konsumen yang 100% buatan Amerika.
  • Larangan dipicu kekhawatiran backdoor untuk spionase dan serangan siber.
  • T.P. Link kuasai 35% pasar router AS, turun dari 60% pada 2024.
  • Merek AS seperti Google, Netgear, dan Amazon juga bergantung pada produksi luar negeri.
  • FCC beri keringanan pada 11 perusahaan termasuk Netgear, Amazon Eero, dan Nokia.
  • Kritikus nilai larangan justru tingkatkan risiko keamanan karena hentikan update software.

Telset.id – Pemerintah Amerika Serikat melalui Federal Communications Commission (FCC) resmi melarang semua router internet rumah tangga buatan luar negeri beredar di pasarnya. Kebijakan ini langsung mengacaukan pasar router AS karena faktanya tidak ada satu pun router Wi-Fi konsumen yang 100% buatan Amerika.

Larangan ini merupakan bagian dari strategi nasional yang lebih luas. Dalam dokumen National Security Strategy 2025, pemerintahan Trump menekankan pentingnya rantai pasokan yang mandiri dan aman. Pemerintah AS memperingatkan bahwa mereka ā€œtidak boleh bergantung pada kekuatan luar mana pun untuk komponen inti.ā€

Alasan keamanan siber menjadi pemicu utama larangan ini. FCC merujuk pada sejumlah serangan siber besar seperti Salt Typhoon, Volt, dan Flax. FCC berargumen bahwa perusahaan manufaktur router dapat menyisipkan pintu belakang (backdoor) ke dalam produk mereka, yang bisa dimanfaatkan oleh badan intelijen asing dan peretas.

Larangan yang diumumkan pada Maret 2026 ini menyasar semua router yang komponen, perakitan, atau desainnya dikerjakan di luar negeri. Meskipun perusahaan masih diizinkan menjual router yang sudah ada di pasar, FCC melarang mereka memberikan pembaruan perangkat lunak kepada pelanggan yang sudah ada setelah tahun 2027.

Namun, kebijakan ini langsung menemui hambatan besar. Pada Mei 2026, FCC mengeluarkan pemberitahuan publik bahwa router boleh ā€œterus menerima pembaruan perangkat lunak dan firmware yang mengurangi risiko bagi konsumen ASā€ setidaknya hingga 1 Januari 2029. Kelonggaran ini diberikan setelah National Consumer Technology Association mendorong FCC untuk melonggarkan aturannya, dengan alasan kekurangan rantai pasokan ā€œpada material substrat kritis dan modul memoriā€ yang dapat menyebabkan ā€œgangguan pada layanan broadband jutaan warga Amerika.ā€

Kritikus menilai revisi ini sebagai bukti kontradiksi yang melekat dalam pembatasan tersebut. Mereka mencatat bahwa melarang pembaruan perangkat lunak justru dapat menimbulkan lebih banyak masalah keamanan daripada yang dipecahkan.

Router TP-Link hitam tergeletak di atas meja hitam.

Pasar router AS sangat bergantung pada mitra asing, terutama dari Asia Tenggara, untuk memasok dan mendesain produknya. Perusahaan terbesar di pasar ini, raksasa router China T.P. Link, telah lama menjadi sasaran FCC. Pemerintah AS sempat berusaha melarang produk populer perusahaan ini pada tahun 2025. Saat ini, T.P. Link memproduksi sekitar 35% router rumah tangga AS, turun dari lebih dari 60% pada tahun 2024.

Perusahaan internasional populer lainnya seperti ASUS yang berbasis di Taiwan, serta Synology dan D-Link yang juga berbasis di Taiwan, semuanya terkena dampak pembatasan FCC. Bahkan merek domestik AS pun tidak memenuhi standar manufaktur dalam negeri yang ketat ini. Google, misalnya, membuat router Nest-nya di Vietnam dan China. Netgear membagi operasinya antara Vietnam dan Taiwan. Ubiquiti dan Amazon juga bergantung pada mitra internasional. Linksys, yang berbasis di Irvine, California, dimiliki oleh raksasa Taiwan Foxconn dan memproduksi produknya di Vietnam.

Menanggapi situasi ini, T.P. Link mengadakan pertemuan dengan FCC untuk mengamankan persetujuan bersyarat bagi routernya. Dalam pertemuan tersebut, pabrikan China itu berargumen bahwa mereka ā€œmenginvestasikan ratusan juta dolar untuk membawa manufaktur serta penelitian dan pengembangan router konsumennya ke ASā€ melalui anak perusahaannya yang berbasis di Irvine, California.

Namun, solusi bagi perusahaan internasional seperti T.P. Link dan ASUS tidak sesederhana memindahkan pabrik mereka ke AS. Secara kritis, penegakan FCC berlaku untuk semua produk yang proses desainnya terjadi secara internasional. Berdasarkan aturan tersebut, perusahaan harus memindahkan seluruh operasi mereka ke Amerika Serikat atau mencari keringanan (waiver) dari FCC.

Seorang pria berambut gelap dengan kemeja dan dasi mengangkat bahu sambil memegang router Wi-Fi yang tidak terhubung.

Beberapa pihak menunjuk pada sistem Starlink milik SpaceX sebagai cetak biru pasar router buatan Amerika. Dilaporkan, perusahaan yang berbasis di Austin itu membangun routernya di Bastrop, Texas. Namun, SpaceX pun belum tentu lepas dari jangkauan aturan FCC, karena perusahaan tersebut telah mengandalkan mitra Vietnam untuk komponen routernya sejak setidaknya tahun 2024.

Masa depan pasar router AS masih belum jelas. Hingga saat ini, setidaknya 11 perusahaan telah menerima keringanan untuk menjual router mereka di AS hingga tahun 2027. FCC memberikan keringanan kepada perusahaan router Amerika populer Netgear untuk menjual router mesh, mobile, dan standalone konsumennya. Persetujuan ini meluas ke lini Nighthawk dan Orbi, serta sistem kabel CAX dan Cable CM. Amazon Eero dan Nokia adalah dua merek besar lainnya yang mendapatkan keringanan serupa. Arcadyan Technology, yang memproduksi router untuk T-Mobile, AT&T, dan Verizon, juga mendapatkan keringanan pada bulan Juni.

Dengan FCC yang terus mengeluarkan persetujuan untuk perusahaan seperti Hitron Technologies dan Vantiva, pemerintah tampaknya bersedia untuk terus melonggarkan pembatasannya.

Para kritikus terus mempertanyakan logika di balik tindakan keras router ini. Para advokat mencatat bahwa larangan tersebut tidak banyak melindungi konsumen yang sudah memiliki router buatan luar negeri. Lebih jauh lagi, penghentian dukungan perangkat lunak kemungkinan hanya akan meningkatkan kekhawatiran keamanan, membuatnya lebih mudah bagi peretas dan badan intelijen asing untuk meretas kerangka keamanan siber negara tersebut.

Menurut Electronic Frontier Foundation, kurangnya penegakan yang ditargetkan dan kemampuan untuk mencari persetujuan bersyarat kemungkinan akan memperkuat tren bermasalah di pasar router konsumen. Mereka berargumen bahwa hal ini ā€œmengukuhkan pemain yang sudah ada dan memperdalam pengaturan timbal balik yang bermasalah.ā€

Mengingat ketergantungan pasar pada komponen internasional, kemungkinan besar FCC akan terus menghadapi tentangan. Dengan memberikan pengecualian ad-hoc terhadap larangan menyeluruh, pemerintah memblokir pesaing China dari pasar sambil memaksa produsen untuk tetap berada di pihak yang baik. Proses persetujuan yang tidak transparan semakin mengaburkan situasi, dengan konsumen menerima sedikit detail mengenai logika di balik pengecualian ini.

Kebijakan larangan router impor AS ini menjadi contoh nyata bagaimana regulasi keamanan siber yang ketat dapat berbenturan dengan realitas rantai pasokan global. Konsumen AS kini harus menghadapi ketidakpastian mengenai merek router mana yang akan bertahan dan mendapatkan persetujuan dari regulator.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.