📑 Daftar Isi

Fairphone Gen 6+ smartphone modular dengan warna Cobalt Blue yang mudah diperbaiki

Fairphone Gen 6+ Resmi Masuk Pasar AS, Harga Mulai Rp 10 Jutaan

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️4 menit membaca
Bagikan:
  • Fairphone (Gen 6+) resmi masuk pasar AS, pertama kalinya perusahaan menjual smartphone flagship di Amerika
  • Harga USD 650 dengan layar pengganti hanya USD 90, port USB-C USD 20, dan baterai USD 40
  • Memiliki 12 elemen modular, skor repairability 10/10 dari iFixit, garansi 5 tahun, dan update software hingga 2033
  • Upgrade dari Gen 6: prosesor Snapdragon 7s Gen 4 dan RAM 12 GB, varian warna baru Cobalt Blue
  • Sertifikasi resmi untuk jaringan T-Mobile dan AT&T, tersedia di Amazon dan Fairphone.com
  • Pertumbuhan pengiriman 74 persen di paruh pertama 2026, 80 persen pembeli adalah pelanggan baru

Telset.id – Fairphone resmi membawa smartphone Android modularnya, Fairphone (Gen 6+), ke pasar Amerika Serikat. Langkah ini menjadi pertama kalinya perusahaan asal Belanda tersebut menjual produk flagship-nya di Negeri Paman Sam, menawarkan alternatif perbaikan mandiri yang jauh lebih murah dibandingkan merek mainstream.

Kehadiran Fairphone (Gen 6+) di AS menjadi angin segar bagi konsumen yang lelah dengan biaya perbaikan tinggi. Sebagai perbandingan, penggantian layar iPhone 17 langsung dari Apple memakan biaya sekitar USD 329. Sementara itu, layar pengganti Fairphone (Gen 6+) hanya dibanderol USD 90, port USB-C baru seharga USD 20, dan baterai baru USD 40.

Fairphone (Gen 6+) memiliki 12 elemen modular yang bisa ditukar sendiri oleh pengguna. Setiap unit bahkan dilengkapi obeng. Seri ini menjadi satu-satunya lini smartphone dengan skor repairability 10/10 dari iFixit, garansi 5 tahun, dan pembaruan software hingga 2033.

Spesifikasi dan Harga Fairphone (Gen 6+)

Fairphone (Gen 6+) merupakan peningkatan kecil dari Gen 6 yang diluncurkan tahun lalu. Perbedaan utamanya terletak pada prosesor Qualcomm Snapdragon 7s Gen 4 yang lebih baru dan RAM yang digandakan menjadi 12 GB. Selain itu, perangkat ini secara umum sama dengan pendahulunya, sesuai dengan penamaan “plus” pada produk ini.

Varian warna baru Cobalt Blue turut diperkenalkan. Warna ini merupakan penghormatan kepada para penambang yang mengekstraksi kobalt untuk baterai ponsel, sejalan dengan upaya Fairphone memperbaiki kondisi kerja di tambang-tambang Republik Demokratik Kongo.

Fairphone (Gen 6+) dijual dengan harga USD 650 dan tersedia di Amazon serta Fairphone.com. Perangkat ini telah resmi tersertifikasi untuk bekerja di jaringan T-Mobile dan AT&T.

Ekspansi Fairphone dan Tantangan Pasar AS

Ekspansi Fairphone ke AS sebenarnya sudah dimulai tahun lalu melalui produk earbuds dan headphone yang dapat diperbaiki. Perusahaan juga tengah menyiapkan Fairbuds 2, earbuds nirkabel generasi berikutnya yang akan diluncurkan tahun ini dan disebut-sebut menetapkan “standar baru untuk repairability dan performa.”

Fairphone telah menjual smartphone ramah lingkungannya di Eropa selama lebih dari satu dekade. Gen 6+, misalnya, dibuat dengan lebih dari 50 persen material fair-trade atau daur ulang. Perusahaan mendukung upah layak bagi pekerja pabrik di rantai pasokannya, dan perakitannya menggunakan energi terbarukan serta 100 persen netral limbah elektronik. Fairphone juga merupakan Certified B Corp dengan rating platinum EcoVadis.

CEO Fairphone, Raymond van Eck, menyatakan produknya menjadi alternatif baik bagi konsumen yang merasakan tekanan ekonomi saat ini. “Jika Anda melihat pasar AS, pasar ini sangat duopolistik dengan pilihan konsumen yang sangat sedikit,” ujar van Eck kepada WIRED. “Orang Amerika lelah dengan planned obsolescence, ekosistem kotak tertutup, dan upgrade tahunan yang mahal.”

Pasar AS memang sulit ditembus karena dominasi duopoli Apple dan Samsung. Operator seluler menggerakkan hingga 66 persen penjualan smartphone berdasarkan laporan International Data Corporation 2025. Kondisi ini memaksa banyak merek hengkang, termasuk OnePlus yang baru-baru ini mengumumkan keluar dari pasar Amerika Utara, menyusul HMD Mobile, Sony, dan LG Mobile.

Untuk melawan narasi tersebut, van Eck mengatakan Fairphone sedang berdiskusi dengan operator besar dan mobile virtual network operator (MVNO) untuk menjual perangkatnya melalui toko mereka.

Fairphone (Gen 6+) memiliki fitur khas, termasuk sakelar fisik untuk mengaktifkan Fairphone Moments, antarmuka minimal yang dirancang mengurangi distraksi digital. Van Eck berharap peningkatan performa di Gen 6+ membantu mendukung fitur software lebih canggih, seperti kemampuan bertenaga AI yang membutuhkan lebih banyak RAM.

Mengenai krisis memori global, van Eck mengatakan Fairphone tidak kebal, tetapi “hubungan mendalam” dengan pemasok sangat membantu perusahaan mengamankan komponen. “Kami tidak memandang kodependensi pada teknologi AS sebagai kompromi atau kekurangan, tetapi sebagai sinergi yang kuat,” jelasnya. “Anda bisa bilang kami mengambil inovasi terbaik AS yang mendorong performa industri, dan membungkusnya dengan kepedulian Eropa terhadap planet dan manusia.”

Perusahaan akhirnya menunjukkan pertumbuhan berkat strategi pemasaran baru yang fokus pada kualitas produk, bukan misi etis perusahaan. Fairphone mencatat pertumbuhan year-over-year selama empat kuartal berturut-turut, dengan pengiriman ponsel melonjak 74 persen pada paruh pertama 2026 dibandingkan tahun sebelumnya. Van Eck menyebut 80 persen pembeli Fairphone Gen 6 adalah pelanggan baru.

“Kami benar-benar berkembang menuju khalayak yang lebih mainstream,” kata van Eck. “Ini sangat membantu kami dan memberi kepercayaan diri bahwa kami berada di jalur yang tepat.”

Meski Gen 6+ hadir hanya setahun setelah Gen 6, van Eck menegaskan perusahaan tetap berpegang pada irama peluncuran generasi baru setiap 2 tahun, tidak beralih ke peluncuran tahunan seperti kompetitor besar.

Nathan Proctor, pemimpin kampanye Right to Repair di US Public Interest Research Group, menyambut baik masuknya Fairphone ke AS dan berharap ini mendorong Big Tech meningkatkan kemampuan perbaikan perangkat mereka. “Ini bukti bahwa hal itu bisa dilakukan—jika perusahaan ingin membuat produk modular yang mudah diperbaiki, mereka bisa,” ujar Proctor. “Tidak ada alasan teknologi mengapa mereka tidak bisa melakukannya; ini benar-benar keputusan mereka. Ini memunculkan pertanyaan: Mengapa lebih banyak teknologi kita tidak mudah diperbaiki? … Orang-orang akan mulai menganggap smartphone sebagai investasi jangka panjang, terutama karena harga ponsel semakin naik.”

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.