Berkat Samsung, TV Bisa Dikendalikan Gelombang Otak

Telset.id, Jakarta – Samsung dikabarkan tengah mengembangkan fitur terbaru untuk perangkat Smart TV besutannya. Perusahaan asal Korea Selatan ini menyiapkan perangat lunak seperti remote TV yang memungkinkan pengguna bisa mengatur kondisi TV melalui gelombang otak.

Dilansir Telset.id dari CNET pada Jumat (09/11), penelitian yang bernama Project Pontis ini berusaha agar para penyandang cacat fisik seperti pengidap Quadriplegia bisa mengubah saluran TV dan volume suara di Samsung Smart TV dengan otak mereka.

Pihak Samsung yang ada di Swiss memulai proyek ini sekitar tiga bulan lalu. Mereka bekerja sama dengan Pusat Neuroprosthetics dari Ecole Polytechnique Fédérale de Lausanne (EPFL) di Swiss.

Hasil penelitian tersebut mereka presentasikan di acara Samsung Developer Conference yang ada di San Francisco, Amerika Serikat. Pada acara pengenalan tersebut Ricardo Chavarriaga selaku ilmuwan dari EPFL mengatakan jika fitur yang mirip remote TV adalah untuk mereka yang menyandang disabilitas.

“Bagaimana kami dapat menyediakan aksesbilitas kepada orang-orang yang tidak dapat bergerak atau memiliki keterbatasan ekstrim pada gerakan mereka,” ucap Ricardo.

Ricardo pun menjelaskan mengenai proses pengembangannya. Ketika itu mereka mengumpulkan sampel terkait bagaimana otak berperilaku ketika pengguna ingin melakukan sesuatu seperti memilih film.

Kemudian Samsung dan EPFL menganalisa prilaku otak tersebut untuk menciptakan model pembelajaran mesin dimana pengguna dapat memilih tayangan dengan gerakan mata dan gelombang otak.

Dalam mengumpulkan gelombang otak ke dalam prototipe smart TV, pengguna memakai headset dengan 64 sensor yang bisa menerima gelombang otak dan melacak kondisi mata.

Sedangkan bagi yang tidak dapat menggerakan mata atau organ tubuh lainnya, Samsung dan EPFL mengatakan jika remote TV ini bisa tetap digunakan dengan menerima gelombang otak dari pengguna.

“Satu hal yang harus kita perhitungkan adalah semua orang berbeda. Saat ini, teknologi harus disesuaikan untuk setiap orang karena variasi otak,” kata Ricardo lagi.

CEO SpaceX dan Tesla, Elon Musk pada Maret 2017 meluncurkan Neuralink, sebuah perusahaan yang didedikasikan untuk menciptakan “neural lace” yakni pemasangan elektroda kecil di otak untuk memantau fungsi otak dan mengirimkan pesan di otak tanpa harus menggunakan media seperti mulut atau panca indera lainnya.

Sayangnya Samsung mengakui jika remote TV mereka masih memiliki kelemahan sehingga mereka belum berencana untuk mengembangkan fitur tersebut di semua perangkat perusahaan.

“Terlalu dini untuk mengatakan apakah kita semua akan mengendalikan perangkat kita dengan gelombang otak kita,” ucap Martin Kathriner, selaku kepala urusan publik untuk Samsung Electronics Switzerland GmbH.

Kemudian Martin juga menilai jika helm sensor yang dipakai membutuhkan lapisan gel yang dioleskan di kepala yang terlalu menyulitkan pengguna di rumah.

“Bagi kami itu ide aksesibilitas,” ucapnya.

Samsung pun berencana untuk memulai uji coba pada sebuah rumah sakit yang ada di Swiss. “Di mana kami mulai mengeksplorasi bagaimana situasi ini, saat ini prototipe, … dirasakan oleh pasien,” kata Kathriner. [NM/IF]

Previous articleDukung Implementasi IoT, Kominfo Siap Gelar RIoT 2018
Next articleKursi Roda dan Tesis Stephen Hawking Terjual Rp15 Miliar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here