šŸ“‘ Daftar Isi

Apple ingin membeli DRAM dari CXMT dengan harga murah namun ditolak

Apple Kekurangan DRAM, Nego CXMT Gagal Demi iPhone 18

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
ā±ļø4 menit membaca
Bagikan:
  • Apple dilaporkan kekurangan pasokan DRAM menjelang peluncuran iPhone 18
  • Apple meminta izin ke pemerintah AS untuk membeli DRAM dari CXMT yang masuk daftar hitam
  • Negosiasi gagal karena CXMT menolak menurunkan harga untuk Apple
  • CXMT mematok harga yang sama dengan pemasok utama Apple: Micron, SK Hynix, dan Samsung
  • CXMT memiliki posisi tawar kuat karena sudah punya kontrak dengan Xiaomi dan Huawei
  • Apple harus membayar lebih dari yang diinginkan jika tetap ingin membeli dari CXMT
  • Kekurangan DRAM bisa berdampak pada produksi dan peluncuran iPhone 18
  • Situasi ini menyoroti pergeseran kekuatan di industri semikonduktor global

Telset.id – Apple dilaporkan mengalami kekurangan pasokan DRAM hanya beberapa minggu menjelang peluncuran iPhone 18. Untuk mengatasi masalah ini, raksasa teknologi asal Cupertino itu disebut-sebut mencoba mencari tambahan stok dari produsen memori asal China, CXMT. Namun, upaya tersebut menemui jalan buntu karena perbedaan harga yang menjadi penghambat utama.

Apple harus meminta izin khusus kepada Pemerintah Federal Amerika Serikat untuk dapat membeli DRAM dari CXMT. Pasalnya, perusahaan memori asal China tersebut masuk dalam daftar hitam (blacklist) pemerintah AS. Perusahaan-perusahaan Amerika membutuhkan izin eksplisit untuk dapat menjalin bisnis dengan CXMT, yang selama ini memasok memori ke Xiaomi dan sejumlah perusahaan China lainnya.

Setelah mendapatkan izin, Apple disebut telah meminta harga yang lebih rendah untuk DRAM dari CXMT. Permintaan inilah yang akhirnya menjadi penghambat kesepakatan. CXMT dilaporkan bersedia menjalin kerja sama dengan Apple, namun mereka mematok harga yang sama dengan yang dibayarkan Apple kepada pemasok DRAM utamanya, yaitu Micron, SK Hynix, dan Samsung.

Apple wants to get Chinese DRAM on the cheap, CXMT says no

Strategi yang diambil CXMT ini dinilai cukup masuk akal. Dalam situasi ini, CXMT memegang posisi tawar yang kuat. Apple membutuhkan DRAM untuk perangkat iPhone 18 mendatang, termasuk ponsel lipat pertamanya yang dirumorkan bernama iPhone Ultra. Sementara itu, CXMT sudah memiliki kontrak jangka panjang dengan nama-nama besar lain seperti Xiaomi dan Huawei untuk pasokan DRAM.

Negosiasi Gagal karena Harga

Kegagalan negosiasi ini menempatkan Apple pada posisi yang sulit. Perusahaan harus terlebih dahulu mendapatkan izin dari pemerintah AS untuk membeli dari CXMT, dan kemudian harus membayar lebih dari yang mereka inginkan. Kondisi ini jelas tidak menguntungkan bagi Apple yang terbiasa memiliki daya tawar kuat terhadap pemasok komponennya.

Keputusan CXMT untuk tidak memberikan diskon kepada Apple menunjukkan kepercayaan diri perusahaan China tersebut terhadap posisi pasarnya. Dengan kontrak yang sudah aman bersama Xiaomi dan Huawei, CXMT tidak perlu mengorbankan margin keuntungannya hanya untuk mengakomodasi permintaan Apple. Ini menjadi sinyal bahwa keseimbangan kekuatan dalam industri semikonduktor global sedang bergeser.

Kekurangan pasokan DRAM ini bisa berdampak pada jadwal produksi dan peluncuran iPhone 18. Meskipun Apple dikenal memiliki manajemen rantai pasokan yang sangat baik, situasi ini menunjukkan bahwa bahkan perusahaan sebesar Apple pun tidak kebal terhadap tantangan geopolitik dan dinamika pasar komponen global.

Apple selama ini sangat bergantung pada Micron, SK Hynix, dan Samsung untuk kebutuhan DRAM-nya. Ketergantungan pada pemasok-pemasok tersebut membuat Apple rentan terhadap fluktuasi harga dan pasokan. Upaya untuk mendiversifikasi sumber pasokan dengan menjajaki CXMT merupakan langkah yang logis, namun terganjal oleh regulasi politik dan perbedaan harga.

Situasi ini juga menjadi pengingat bahwa industri teknologi global tidak bisa lepas dari dinamika politik dan ekonomi. Kebijakan pemerintah AS yang membatasi kerja sama dengan perusahaan China tertentu telah mempersempit opsi Apple dalam mencari alternatif pemasok. Pada saat yang sama, perusahaan China seperti CXMT semakin percaya diri untuk bersaing di pasar global.

Bagi konsumen yang menantikan iPhone 18, situasi ini mungkin tidak akan langsung berdampak pada harga atau ketersediaan produk. Namun, dalam jangka panjang, kekurangan pasokan komponen bisa mempengaruhi volume produksi dan waktu pengiriman. Apple biasanya mampu mengelola rantai pasokannya dengan baik, tetapi tantangan kali ini cukup unik karena melibatkan faktor politik.

Sejauh ini, belum ada pernyataan resmi dari Apple maupun CXMT mengenai perkembangan negosiasi ini. Kedua perusahaan tampaknya masih merahasiakan detail pembicaraan mereka. Yang jelas, kegagalan mencapai kesepakatan harga menunjukkan bahwa Apple tidak selalu bisa mendapatkan apa yang diinginkannya di pasar komponen global.

Apple kini dihadapkan pada dua pilihan: memenuhi permintaan harga CXMT atau mencari alternatif lain untuk memenuhi kebutuhan DRAM-nya. Opsi lain yang tersedia antara lain meningkatkan volume pembelian dari pemasok yang sudah ada atau menunggu hingga pasar membaik. Namun, dengan waktu yang semakin dekat ke peluncuran iPhone 18, Apple tidak memiliki banyak ruang untuk menunda keputusan.

Keputusan CXMT untuk tidak menurunkan harga juga menunjukkan bahwa perusahaan China tersebut tidak lagi berada dalam posisi yang membutuhkan kontrak dari perusahaan Amerika. Dengan basis pelanggan yang solid di pasar domestik China, CXMT dapat memilih mitra bisnis yang memberikan keuntungan terbaik bagi mereka tanpa harus tunduk pada tekanan politik.

Kasus ini juga menyoroti bagaimana kebijakan pemerintah AS terhadap perusahaan teknologi China telah membentuk ulang lanskap bisnis global. Perusahaan-perusahaan Amerika kini harus berpikir dua kali sebelum menjalin kerja sama dengan entitas yang masuk daftar hitam, bahkan ketika kerja sama tersebut secara teknis dan ekonomi masuk akal.

Bagi industri, situasi ini menjadi pelajaran penting tentang pentingnya diversifikasi rantai pasokan. Ketergantungan pada sejumlah kecil pemasok untuk komponen kritis seperti DRAM dapat menjadi risiko besar ketika terjadi gangguan geopolitik atau pasar. Perusahaan-perusahaan teknologi mungkin perlu mempertimbangkan untuk membangun hubungan dengan lebih banyak pemasok di berbagai wilayah.

Dengan waktu yang semakin sempit menuju peluncuran iPhone 18, semua mata akan tertuju pada langkah selanjutnya yang diambil Apple. Apakah perusahaan akan mengalah dan membayar harga yang diminta CXMT, atau mencari solusi alternatif untuk mengatasi kekurangan pasokan DRAM ini? Jawabannya akan menentukan tidak hanya kelancaran peluncuran iPhone 18, tetapi juga strategi jangka panjang Apple dalam mengelola rantai pasokan komponennya.

Terlepas dari hasil negosiasi ini, satu hal yang pasti: industri semikonduktor global sedang mengalami perubahan besar. Posisi tawar yang semakin kuat dari perusahaan-perusahaan China seperti CXMT akan terus membentuk dinamika pasar di masa depan, dan perusahaan-perusahaan teknologi global harus beradaptasi dengan realitas baru ini. Apple, dengan segala pengaruhnya, juga tidak terkecuali.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.