πŸ“‘ Daftar Isi

MacBook Neo tampak depan dengan desain tipis dan minimalis

Apple Geber Produksi MacBook Neo, Harga Bakal Naik?

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️3 menit membaca
Bagikan:
  • Apple lipatgandakan target produksi MacBook Neo dari 5 juta menjadi 10 juta unit
  • Laptop entry-level seharga USD 600 (Rp 9,7 jutaan) terjual 1,1 juta unit dalam 3 minggu
  • Ancaman krisis komponen global dan kelangkaan RAM berpotensi naikkan harga
  • Prosesor iPhone daur ulang sebagai kunci harga murah mulai menipis
  • Produsen Windows seperti Dell, Asus, HP bersiap serangan balik dengan laptop di bawah USD 600
  • Mayoritas pengguna masih lebih suka AI berbasis cloud dibanding on-device

Telset.id – Apple melipatgandakan target produksi MacBook Neo dari 5 juta menjadi 10 juta unit setelah ledakan permintaan pasar, namun keputusan ini diambil di tengah ancaman krisis komponen global yang bisa memicu kenaikan harga. Laptop entry-level seharga USD 600 (sekitar Rp 9,7 jutaan) ini terbukti menjadi magnet bagi konsumen yang selama ini menanti perangkat Apple dengan harga terjangkau.

Menurut laporan analis kenamaan Ming-Chi Kuo, Apple telah merevisi target pengiriman internal MacBook Neo untuk tahun ini secara dramatis. Data terbaru dari IDC menunjukkan bahwa laptop ini berhasil terjual sekitar 1,1 juta unit hanya dalam waktu kurang dari tiga minggu pada kuartal lalu. Angka tersebut secara mengejutkan berhasil menyalip penjualan saudaranya yang lebih premium, yakni MacBook Air dan MacBook Pro.

Daya tarik laptop Apple di bawah harga Rp 10 jutaan tampaknya terlalu menggoda. Konsumen bahkan rela memaklumi spesifikasi β€œseadanya” dari MacBook Neo, yang diketahui hanya menggunakan chip prosesor daur ulang dari iPhone serta kapasitas RAM bawaan yang cuma 8GB. Model bisnis ini mirip dengan strategi yang dibahas dalam artikel iPhone Ultra yang mengungkap bagaimana Apple sering memanfaatkan komponen lama untuk menekan biaya.

Dihantui Krisis Pasokan dan Ancaman Harga Naik

Namun, melipatgandakan produksi di situasi industri saat ini bukanlah perkara mudah. Saat pabrikan lain terpaksa menaikkan harga laptop akibat kelangkaan RAM, Apple juga dihadapkan pada masalah serupa. Pasokan memori (DRAM dan NAND) global saat ini tengah tersedot habis-habisan untuk kebutuhan pusat data AI.

Masalah lain muncul dari dapur pacu itu sendiri. Prosesor iPhone daur ulang yang menjadi rahasia di balik harga murah MacBook Neo mungkin akan segera habis karena penjualannya melampaui prediksi awal. Di sisi lain, kapasitas produksi pabrik chip TSMC untuk fabrikasi 3-nanometer saat ini sudah penuh sesak. Imbasnya, Apple mungkin akan kesulitan mempertahankan harga miring USD 599 untuk produk cetakan baru, atau bahkan harus mencari cara lain agar margin keuntungannya tidak merugi.

Baca Juga:

Serangan Balik Windows

Kesuksesan gila-gilaan MacBook Neo ini rupanya membuat para produsen laptop Windows panik. Mereka kini bersiap meluncurkan serangan balik untuk merebut kembali pasar laptop kelas budget. Mengandalkan jajaran prosesor Intel Wildcat Lake terbaru, pabrikan raksasa seperti Asus, HP, dan Dell mulai membanjiri pasar dengan laptop seharga di bawah USD 600.

Dell bahkan langsung menantang Apple secara head-to-head dengan menghidupkan kembali lini XPS 13 versi murah. Lucunya, layaknya MacBook Neo, Dell XPS 13 versi murah ini juga hanya dibekali RAM 8GB. Padahal, mayoritas pakar teknologi sangat merekomendasikan RAM minimal 16GB agar sistem operasi Windows 11 bisa berjalan mulus. Persaingan di segmen chip laptop ini semakin menarik, terutama dengan kehadiran Nvidia RTX Spark yang siap memanaskan persaingan.

Dalam laporan yang sama, Kuo juga sempat menyinggung soal tren AI lokal melalui peluncuran chip Nvidia RTX Spark. Namun, Kuo mencatat bahwa meski industri gencar mempromosikan pemrosesan AI langsung di perangkat (on-device), faktanya mayoritas pengguna saat ini masih lebih suka menggunakan AI berbasis cloud, demikian dikutip detikINET dari Techspot, Senin (8/6/2026). Situasi ini mengingatkan pada momentum krusial yang dihadapi Apple di WWDC 2026 dalam mengintegrasikan AI ke ekosistem mereka.

Komentar

Belum ada komentar.