📑 Daftar Isi

Konsol Xbox Series X dengan logo hijau khas Microsoft

Xbox Tutup Tiga Studio, Negosiasi Pembelian Mandiri

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️4 menit membaca
Bagikan:
  • Xbox dikabarkan akan menutup atau menjual Double Fine, Ninja Theory, dan Compulsion Games
  • Ninja Theory cari pembeli setelah diumumkan penutupan pada 15 Juni 2026
  • Double Fine dan Compulsion Games negosiasi beli mandiri dari Xbox
  • Restrukturisasi terjadi usai akuisisi besar Activision Blizzard senilai $69 miliar
  • CEO Xbox Phil Spencer mundur, digantikan Asha Sharma
  • Kepala Xbox Game Studios Craig Duncan juga hengkang
  • Karyawan Xbox bersiap hadapi PHK 2026 usai memo internal mencemaskan

Telset.id – Xbox dikabarkan bersiap menutup atau menjual setidaknya tiga studio game miliknya, yaitu Double Fine, Ninja Theory, dan Compulsion Games. Kabar ini muncul dari laporan The Verge dan Bloomberg pada Senin (15/6/2026), menandai babak baru dalam restrukturisasi divisi gaming Microsoft yang terus bergulir sejak awal tahun.

Menurut laporan The Verge, karyawan Ninja Theory telah diberi tahu pada hari yang sama bahwa studio mereka akan ditutup. Namun, tim pengembang di balik seri Hellblade ini tengah berupaya mencari pembeli agar tetap bisa beroperasi. Langkah ini menjadi ironis mengingat Ninja Theory baru saja tampil dalam ajang Xbox Summer Game Fest dengan mengumumkan entry terbaru yang dijadwalkan rilis pada 2027.

Sementara itu, Double Fine, studio legendaris di balik game Psychonauts, Brütal Legend, dan Broken Age, berada dalam situasi yang sedikit berbeda. Bloomberg melaporkan bahwa para pemimpin Double Fine sedang dalam negosiasi aktif untuk membeli kembali studio mereka dari Xbox daripada harus ditutup sepenuhnya. Studio yang didirikan oleh Tim Schafer pada tahun 2000 ini memiliki sejarah panjang dalam industri game.

Compulsion Games, pengembang South of Midnight yang baru dirilis pada April 2025, juga berada dalam posisi serupa. Studio yang berbasis di Montreal ini ikut dalam daftar studio yang terancam ditutup atau dijual. Bloomberg bahkan menambahkan bahwa beberapa studio lain di bawah naungan Xbox Game Studios juga tengah bernegosiasi untuk masa depan mereka dan berisiko ditutup.

Situasi ini terjadi di tengah gelombang restrukturisasi besar-besaran di tubuh Microsoft. Seperti yang kami laporkan sebelumnya dalam artikel tentang Krisis Xbox, perusahaan telah melakukan berbagai langkah efisiensi yang berdampak luas pada divisi gaming mereka.

Dampak Akuisisi Besar-besaran

Kabar penutupan studio ini menjadi ironi tersendiri mengingat sejarah akuisisi Microsoft yang agresif. Raksasa teknologi itu memulai rentetan akuisisi studio game pada 2018 dengan membeli Undead Labs, Playground Games, Ninja Theory, dan Compulsion Games, serta membentuk The Initiative. Momentum ini terus berlanjut pada 2020 dan 2021 ketika Xbox mengakuisisi delapan studio tambahan di bawah ZeniMax Media, termasuk Arkane, Bethesda, dan id Software.

Puncaknya terjadi pada 2022 ketika Microsoft mengumumkan rencana pembelian Activision Blizzard senilai $69 miliar, yang merupakan akuisisi terbesar dalam sejarah industri video game. Kesepakatan itu akhirnya terealisasi pada akhir 2023 setelah melalui pertarungan panjang dengan regulator di berbagai negara.

Sejak akuisisi tersebut, Microsoft telah melakukan beberapa putaran PHK massal yang mempengaruhi ribuan karyawan di divisi gaming-nya. Beberapa studio terkenal juga telah ditutup, termasuk The Initiative. Kini, Double Fine, Ninja Theory, Compulsion, dan studio lainnya bergabung dalam daftar panjang studio yang bernasib kurang beruntung.

Perubahan Kepemimpinan dan Masa Depan Xbox

Kabar penutupan studio ini muncul di tengah perubahan besar di jajaran eksekutif Xbox. Phil Spencer, yang telah lama memimpin divisi Xbox, mengundurkan diri tahun ini dan digantikan oleh CEO baru, Asha Sharma. Perubahan ini juga diikuti dengan pergantian di level eksekutif lainnya.

Pada hari yang sama dengan laporan penutupan studio, Craig Duncan, kepala Xbox Game Studios, juga meninggalkan perusahaan. Duncan baru menjabat posisi tersebut sejak Oktober 2024. Kepergiannya menambah daftar panjang perubahan di tubuh manajemen Xbox.

Karyawan di seluruh divisi Xbox kini bersiap menghadapi lebih banyak PHK pada 2026 setelah memo internal yang mencemaskan dari Sharma dirilis pada pertengahan Juni. Memo tersebut muncul tepat setelah gemerlap Summer Game Feast benar-benar meredup, memberikan gambaran suram tentang masa depan divisi gaming Microsoft.

Seperti yang dianalisis dalam artikel tentang dampak strategi Xbox, perubahan haluan kebijakan eksklusivitas dan restrukturisasi internal telah menimbulkan ketidakpastian di kalangan pengembang dan gamer.

Hingga saat ini, payung Xbox Game Studios secara resmi mencakup puluhan studio, termasuk Arkane, Bethesda, Halo Studios, id Software, Obsidian, Playground Games, ZeniMax, dan Activision Blizzard King. Namun, laporan tentang negosiasi pembelian mandiri oleh beberapa studio menunjukkan bahwa struktur ini mungkin akan berubah secara signifikan dalam waktu dekat.

Telset.id telah menghubungi Xbox untuk klarifikasi lebih lanjut mengenai laporan penutupan studio dan negosiasi pembelian tersebut. Namun, hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari pihak Microsoft mengenai nasib ketiga studio tersebut.

Yang jelas, gelombang restrukturisasi ini menimbulkan pertanyaan besar tentang strategi jangka panjang Xbox di industri game. Apakah Microsoft akan terus mempertahankan model akuisisi besar-besaran, atau justru akan mulai melepas aset yang dianggap tidak lagi sesuai dengan visi perusahaan? Jawabannya mungkin akan terungkap dalam beberapa bulan ke depan seiring dengan berlanjutnya negosiasi antara para pemimpin studio dengan manajemen Xbox.

Sementara itu, para penggemar game dari studio-studio yang terancam tutup hanya bisa berharap bahwa negosiasi pembelian mandiri oleh tim pengembang akan berhasil. Jika tidak, industri game akan kehilangan beberapa studio kreatif yang telah menghasilkan berbagai judul ikonik selama bertahun-tahun.

Informasi lebih lanjut tentang penurunan pelanggan Xbox Game Pass juga menjadi konteks penting dalam memahami tekanan finansial yang dihadapi divisi gaming Microsoft saat ini.

Keputusan Xbox untuk menutup atau menjual studio-studio ini menandai perubahan signifikan dalam strategi konten first-party mereka. Setelah bertahun-tahun mengakuisisi studio dengan harga mahal, kini Microsoft tampaknya mulai mengevaluasi portofolio mereka dengan lebih ketat. Pertanyaannya, apakah langkah ini akan memperkuat atau justru melemahkan posisi Xbox di industri game yang semakin kompetitif?

Yang jelas, para pengembang di Double Fine, Ninja Theory, dan Compulsion Games kini berada dalam masa transisi yang penuh ketidakpastian. Nasib mereka kini bergantung pada kemampuan pemimpin studio untuk menemukan pembeli atau bernegosiasi dengan Microsoft untuk membeli kembali studio mereka. Ini adalah momen krusial yang akan menentukan arah industri game ke depannya.

Komentar

Belum ada komentar.