Telset.id – Sony secara resmi menghentikan produksi disc fisik PlayStation pada 2028, memicu gelombang protes besar dari para gamer di seluruh dunia. Keputusan ini dinilai sebagai langkah kontroversial yang mengancam kebiasaan bermain game dan kepemilikan fisik atas judul-judul favorit mereka.
Keputusan Sony untuk beralih sepenuhnya ke digital telah menimbulkan kekhawatiran serius di kalangan komunitas gaming. Banyak pemilik PlayStation yang menyuarakan kemarahan mereka di media sosial, bahkan ada yang berjanji akan memboikot PlayStation Store, membatalkan langganan PlayStation Plus, dan tidak akan membeli produk PlayStation lagi. Situasi ini menjadi mimpi buruk PR bagi Sony, di mana hampir setiap konten PlayStation online menjadi ajang protes.

Protes ini mengingatkan pada respons pelanggan terhadap Sonos yang memperkenalkan aplikasi baru yang sangat bermasalah. Sonos mengakui kesalahan tersebut dan kini tengah berupaya membangun kembali kepercayaan pelanggan. Pertanyaannya, apakah Sony bisa belajar dari pengalaman Sonos?
Menurut laporan dari TechRadar, analis mengatakan bahwa ‘digital is just too lucrative’ bagi Sony dan bahwa PlayStation ‘will not reverse’ keputusannya untuk mengakhiri produksi disc fisik, bahkan di tengah aksi pembatalan langganan PS Plus oleh para penggemar. Kekhawatiran utama para gamer terbagi dalam tiga hal: biaya, jual-beli game bekas, dan kepemilikan.
Pertama, soal biaya. PlayStation Store terkenal sangat mahal. Contohnya, game Spider-Man 2 yang sudah berusia tiga tahun masih dibanderol £69.99 secara digital di Inggris. Sementara itu, persaingan antar pengecer membuat harga disc-nya hanya sekitar £37. Kedua, soal game bekas. Banyak gamer yang membeli game bekas atau menjual game yang sudah selesai dimainkan. Pembelian digital tidak memungkinkan aktivitas ini, sehingga gamer kehilangan opsi untuk mendapatkan game dengan harga lebih murah.
Ketiga, soal kepemilikan. Pengumuman Sony tentang penghentian disc ini terjadi tak lama setelah mereka menghapus lebih dari 500 film yang sudah dibeli pelanggan. Hal ini memperjelas bahwa membeli secara digital tidak berarti memiliki selamanya. Kekhawatiran ini semakin besar mengingat harga game yang mencapai £69.99.
Baca Juga:
Sonos CEO Tom Conrad, dalam wawancara dengan TechRadar, menyatakan bahwa untuk membuat pelanggan yang marah kembali senang, perusahaan harus “menunjukkan diri dengan kerendahan hati dan bekerja keras mendapatkan kembali kepercayaan mereka melalui eksekusi yang hebat, produk yang hebat, perangkat lunak yang hebat, pengalaman yang hebat, dan jangan pernah melupakan apa yang telah Anda lalui pada orang-orang.”

Namun, sejauh ini Sony tidak melakukan hal serupa. Alih-alih menanggapi kekhawatiran gamer, Sony justru bungkam dan tetap diam tentang langkahnya menuju digital-only. Padahal, ada alasan kuat bagi gamer untuk khawatir. Untuk bisa meniru Sonos, Sony harus mau mendengarkan masukan pelanggan, membahas kekhawatiran tersebut, dan mungkin memikirkan cara mengatasinya.
Misalnya, Sony bisa mengumumkan bahwa kode digital akan tetap dijual melalui banyak pengecer, seperti yang dilakukan Nintendo dengan kartu kuncinya, atau bahwa pemain bisa menjual kembali game digital mereka. Namun, kenyataannya, untuk perusahaan sebesar Sony, bahkan protes besar seperti petisi dengan 246.586 tanda tangan hanyalah sebagian kecil dari 125 juta pelanggan PlayStation Plus-nya.
Petisi PlayStation Disc 2028 yang mencapai 172.000 tanda tangan menunjukkan betapa seriusnya kekhawatiran para gamer. Meski demikian, Sony mungkin merasa bisa mengabaikannya. Ini adalah sebuah pertaruhan. Microsoft, misalnya, pernah mengalami hal serupa ketika kenaikan harga Game Pass membuat pelanggannya kabur lebih banyak dari yang diperkirakan.
Menurut laporan, Microsoft kehilangan 4 juta dari 34 juta pelanggan Game Pass saat mengharapkan pertumbuhan besar, sehingga memaksa mereka melakukan pembalikan sebagian. Namun, bisnis game Sony jauh lebih besar, sehingga bisa membuat banyak pelanggan kecewa tanpa merasakan dampak yang signifikan.
Menariknya, dua hari setelah pengumuman digital-only, dengan pelanggan yang marah di media sosial, CEO Sony Hiroki Totoki menjual lebih dari setengah saham Sony miliknya dan chief strategy officer Sony juga menjual sejumlah besar saham Sony. Langkah ini semakin memperkuat kekhawatiran akan masa depan game fisik di platform PlayStation.

Keputusan Sony untuk menghentikan produksi disc fisik pada 2028 adalah langkah besar yang akan mengubah lanskap industri game. Meskipun Sony mungkin bisa bertahan dari badai protes ini, pelajaran dari Sonos menunjukkan bahwa membangun kembali kepercayaan pelanggan adalah proses yang panjang dan sulit. Sony Izinkan Cetak Ulang Disc Fisik PlayStation untuk game rilisan sebelum 2028, namun itu mungkin tidak cukup untuk meredam kemarahan para gamer.





Komentar
Belum ada komentar.