📑 Daftar Isi

Game Build the Wall mirip Tetris yang dihapus dari situs White House

Game Mirip Tetris ‘Build the Wall’ Dihapus dari Situs White House

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️5 menit membaca
Bagikan:
  • Game "Build the Wall" dihapus dari situs White House setelah keluhan The Tetris Company
  • The Tetris Company menegaskan tidak terlibat dalam pembuatan game tersebut
  • Gameplay "Build the Wall" disebut mirip Tetris dengan tujuan membangun tembok melawan zombie
  • Game ini menuai kritik luas karena dianggap mengandung unsur rasis
  • Halaman game kini menampilkan error 404, Kotaku pertama kali mendeteksi penghapusan
  • Game lain "Rio Run" yang bertema deportasi imigran masih tersedia di situs White House

Telset.id – Game video berjudul “Build the Wall” yang sempat diposting di situs resmi pemerintahan Trump dan menuai kontroversi karena diduga meniru gameplay Tetris, kini telah resmi dihapus. Penghapusan ini terjadi setelah The Tetris Company, pemegang hak cipta game Tetris asli, mengajukan keluhan resmi terkait pelanggaran hak cipta.

Game “Build the Wall” menjadi sorotan publik setelah muncul di situs White House dalam kumpulan game bergaya arcade. Gameplay-nya disebut-sebut sangat mirip dengan Tetris, di mana pemain ditugaskan untuk menumpuk balok dengan berbagai bentuk dan ukuran. Namun, yang membuat game ini kontroversial adalah tujuannya yang dinilai rasis, yaitu membangun tembok untuk menghalau “kepungan zombie” di perbatasan.

Setelah keberadaan “Build the Wall” menjadi publik, The Tetris Company dengan cepat angkat bicara. Dalam sebuah unggahan di Instagram, perusahaan tersebut menegaskan bahwa mereka tidak memiliki peran apa pun dalam pembuatan game tersebut. “The Tetris Company tidak terlibat dalam pembuatan ‘Build the Wall’,” demikian pernyataan resmi mereka, seraya menambahkan bahwa mereka sangat serius menangani pelanggaran hak cipta.

Kontroversi dan Kritik Publik

Game “Build the Wall” tidak hanya bermasalah dari sisi hak cipta, tetapi juga menuai kritik luas karena dianggap mengandung unsur rasis. Konsep game yang mengharuskan pemain membangun tembok untuk menahan serangan zombie di perbatasan dinilai sebagai representasi yang tidak pantas dari isu imigrasi. Kritik ini muncul seiring dengan kebijakan imigrasi kontroversial yang diusung pemerintahan Trump saat itu.

Kehadiran game-game arcade di situs resmi White House sendiri merupakan langkah yang tidak biasa. Pemerintahan Trump dikabarkan memposting sejumlah game bergaya arcade ke situsnya, dan “Build the Wall” menjadi salah satu yang paling memicu perdebatan. Publik mempertanyakan kelayakan konten semacam itu dimuat di situs resmi pemerintahan.

Menariknya, kasus ini bukanlah yang pertama kali melibatkan White House dan isu teknis. Sebelumnya, aplikasi White House senilai $1,4 juta pernah menjadi sorotan karena menggunakan kode buatan Rusia. Hal ini menunjukkan adanya serangkaian masalah terkait pengelolaan aset digital di lingkungan pemerintahan.

Halaman untuk game “Build the Wall” kini menampilkan error 404, yang berarti halaman tersebut sudah tidak lagi diakses. Kotaku menjadi media yang pertama kali mendeteksi bahwa game tersebut tidak lagi terlihat di situs White House. Sementara itu, TechCrunch telah menghubungi pemerintahan Trump untuk meminta komentar terkait penghapusan ini.

Game Lain yang Masih Tersedia

Meskipun “Build the Wall” telah dihapus, masih ada game lain yang bisa diakses di situs pemerintahan tersebut. Salah satunya adalah game bernama “Rio Run”, di mana pemain mengendalikan karakter pria kulit putih dengan tujuan mendeportasi sebanyak mungkin karakter imigran. Keberadaan game ini juga berpotensi memicu kontroversi serupa.

Langkah The Tetris Company untuk melindungi hak cipta mereka patut diapresiasi. Mereka dengan tegas menyatakan tidak terlibat dalam pembuatan “Build the Wall” dan mengambil sikap serius terhadap pelanggaran hak cipta. Tindakan ini menunjukkan bahwa pemegang hak cipta game legendaris tidak segan-segan bertindak ketika properti mereka digunakan tanpa izin.

Penghapusan game ini juga menjadi pelajaran penting tentang bagaimana konten yang tidak pantas atau melanggar hukum dapat dengan cepat ditarik setelah mendapat tekanan publik dan pemegang hak cipta. Kecepatan respon The Tetris Company dalam mengeluarkan pernyataan dan dihapusnya game tersebut menunjukkan efektivitas mekanisme perlindungan hak cipta.

Kasus “Build the Wall” juga mengingatkan kita pada isu-isu lain yang melibatkan White House dan teknologi. Sebelumnya, White House juga menghapus data center dari daftar teknologi kritis AS, sebuah keputusan yang menuai pertanyaan dari para pengamat industri. Hal ini menunjukkan bahwa pengelolaan kebijakan teknologi oleh pemerintahan seringkali menjadi sorotan publik.

Dari perspektif industri game, kasus ini menunjukkan betapa pentingnya orisinalitas dalam pengembangan game. Mengambil inspirasi dari game terkenal memang hal yang lumrah, tetapi meniru secara persis mekanisme gameplay dari game yang masih dilindungi hak cipta adalah langkah yang berisiko tinggi. Pengembang game harus selalu memastikan bahwa karya mereka tidak melanggar hak kekayaan intelektual pihak lain.

Pemerintahan Trump sendiri belum memberikan komentar resmi terkait penghapusan “Build the Wall” dari situs mereka. Namun, respons cepat The Tetris Company dan penghapusan game tersebut menunjukkan bahwa tekanan dari pemegang hak cipta dan publik dapat mempengaruhi keputusan pemerintah dalam mengelola konten di situs resminya.

Kasus ini juga menyoroti pentingnya pengawasan konten di situs-situs pemerintahan. Sebagai platform resmi yang mewakili institusi negara, situs White House seharusnya memuat konten yang profesional dan tidak kontroversial. Namun, kenyataannya, game-game seperti “Build the Wall” dan “Rio Run” justru memicu perdebatan publik yang tidak perlu.

Ke depannya, diharapkan pengelola situs pemerintahan lebih berhati-hati dalam memilih konten yang akan dipublikasikan. Pertimbangan etika, legalitas, dan dampak sosial harus menjadi prioritas utama sebelum memutuskan untuk memuat konten tertentu di platform resmi pemerintahan.

Bagi para pengamat industri, kasus ini menjadi studi kasus menarik tentang bagaimana hak cipta dapat ditegakkan bahkan ketika pelanggarannya dilakukan oleh institusi pemerintahan. The Tetris Company telah menunjukkan bahwa mereka tidak segan untuk menegakkan hak mereka, terlepas dari siapa pelanggarnya.

Penghapusan “Build the Wall” dari situs White House menjadi bukti bahwa mekanisme perlindungan hak cipta dapat berjalan efektif, bahkan ketika menghadapi institusi sekuat pemerintahan. Kasus ini juga menjadi pengingat bahwa konten yang tidak pantas atau melanggar hukum akan selalu menghadapi konsekuensi, tidak peduli seberapa besar atau berkuasanya pihak yang mempublikasikannya.

Meskipun game tersebut telah dihapus, pertanyaan tentang bagaimana game semacam itu bisa lolos proses kurasi di situs resmi pemerintahan masih menggantung. Publik tentu berharap agar kejadian serupa tidak terulang di masa mendatang, dan bahwa situs-situs pemerintahan akan lebih selektif dalam memilih konten yang mereka publikasikan.

Kasus ini juga menunjukkan bahwa isu-isu terkait pemerintahan dan teknologi selalu menarik untuk diikuti. Dari kebijakan teknologi kritis hingga pengelolaan aplikasi dan konten digital, setiap keputusan pemerintah selalu berdampak pada publik dan industri secara luas.

Sementara itu, industri game terus berkembang dengan berbagai inovasi baru. Namun, kasus “Build the Wall” mengingatkan kita bahwa inovasi harus selalu dibarengi dengan penghormatan terhadap hak kekayaan intelektual. Pengembang game, baik indie maupun besar, harus selalu memastikan bahwa karya mereka orisinal dan tidak melanggar hak cipta pihak lain.

Kisah “Build the Wall” akhirnya menjadi pelajaran berharga tentang batas-batas kreativitas, etika, dan legalitas dalam pengembangan game. Meskipun kontroversi ini telah berakhir dengan penghapusan game tersebut, diskusi tentang bagaimana seharusnya konten digital dikelola di platform pemerintahan kemungkinan akan terus berlanjut.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.