Telset.id – Remedy Entertainment resmi mengenalkan Control Resonant, sekuel dari game tahun 2019 yang legendaris. Dalam sesi pratayang eksklusif di kantor Annapurna Pictures, terungkap bahwa game ini mengusung pendekatan berani dengan fokus pada protagonis baru dan dunia terbuka yang aneh.
Game ini mengambil latar tujuh tahun setelah peristiwa Control pertama. Hiss berhasil keluar dari The Oldest House dan menginvasi Manhattan. Jesse Faden hilang, FBC tercerai-berai. Kini, Dylan Faden, saudara Jesse yang merupakan entitas supernatural kuat, meninggalkan The Oldest House untuk pertama kalinya. Ia harus menghadapi dunia yang bermusuhan dan bertekad menemukan saudarinya dengan mendorong kemampuan supernaturalnya hingga batas maksimal.
Perubahan Besar dari Pendahulunya
Salah satu perubahan paling mencolok adalah transisi dari genre action-shooter menjadi action-RPG dengan fokus pada pertarungan jarak dekat. Senjata utama Dylan adalah Aberrant, sebuah Object-of-Power berbentuk alat konstruksi yang bisa berubah menjadi berbagai senjata seperti pedang kembar, sarung tangan, sabit, dan palu besar. Sistem ini memungkinkan pemain untuk menyesuaikan alur serangan primer, sekunder, dan kombo finisher.
Dalam sesi pratayang, jurnalis Alessandro Fillari merasakan langsung bagaimana sistem pertarungan ini bekerja. “Ketika semua elemen bekerja, pertarungan sangat sengit dan intens,” tulisnya. Ia juga mengakui butuh waktu untuk menguasai sistem skill tree dan berbagai perlengkapan yang tersedia, namun semuanya terbayar saat memasuki area yang disebut The Sinkhole.
New York yang Terdistorsi dan Mirip Backrooms
Salah satu daya tarik utama Control Resonant adalah interpretasi Remedy atas New York City. Art director Elmeri Raitanen menyatakan bahwa tujuan mereka adalah memberikan sentuhan khas Remedy pada latar yang familiar. Hasilnya, Manhattan terasa seperti perpaduan film Inception dan Everything Everywhere All at Once, dengan jalan-jalan ikonik yang berubah menjadi lanskap alien yang hidup.
Bagian paling mengesankan dalam pratayang adalah saat Dylan memasuki kompleks apartemen bawah tanah yang berubah menjadi mega-kompleks ala Backrooms. Momen ini mengingatkan pada level Ashtry Maze yang legendaris dari game pertama, menunjukkan bahwa Remedy masih setia pada akar surealisme mereka.
Baca Juga:
Cerita yang Lebih Dalam dan Emosional
Meskipun fokus pada pertarungan, momen-momen berbasis cerita justru menjadi favorit dalam sesi pratayang. Dylan yang belajar memahami dunianya di luar The Oldest House memberikan dimensi baru yang emosional. Gaya bercerita yang terinspirasi Neon Genesis Evangelion membuat narasi terasa segar namun tetap khas Remedy.
Namun, tidak semua perubahan disambut tanpa kritik. Banyak penggemar mungkin kecewa karena Jesse Faden tidak lagi menjadi protagonis. Karakternya yang karismatik dan personal memang sulit digantikan. Meski demikian, perspektif Dylan sebagai seseorang yang dipaksa menghadapi dunia yang lebih keras dan belajar menemukan kembali kemanusiaannya menjadi tulang punggung narasi yang menarik.
Kesimpulan dan Implikasi
Control Resonant jelas merupakan langkah berani Remedy. Dengan mengubah genre, protagonis, dan latar secara fundamental, game ini berisiko kehilangan sebagian basis penggemar setia. Namun, dari apa yang terlihat dalam pratayang, pendekatan open-ended RPG dengan pertarungan ala Devil May Cry atau Nier Automata ini menawarkan pengalaman yang sangat berbeda namun tetap terasa sebagai bagian dari alam semesta Remedy.
Game ini akan menjadi salah satu judul paling menarik untuk diikuti, terutama bagi mereka yang menyukai evolusi gameplay yang berani. Apakah Dylan mampu mengisi kekosongan yang ditinggalkan Jesse? Jawabannya akan diketahui saat game ini dirilis nanti.






Komentar
Belum ada komentar.