Telset.id – Krisis RAM yang berkepanjangan diprediksi akan berlanjut hingga 2027 dan berpotensi menunda peluncuran konsol generasi berikutnya. Namun, keyakinan berbeda datang dari salah satu bos CD Projekt Red (CDPR), Michal Nowakowski, yang menegaskan bahwa konsol akan mampu bertahan menghadapi badai krisis ini.
Kekhawatiran akan kelangkaan RAM semakin nyata di industri hardware. Tiga produsen chip memori terbesar dunia—Samsung, SK Hynix, dan Micron—diproyeksikan meningkatkan total belanja modal hingga hampir 340% dari tahun 2024 hingga 2027. Angka ini menunjukkan bahwa masalah pasokan tidak akan mereda dalam waktu dekat.
Meski demikian, Nowakowski tidak gentar. Dalam wawancaranya dengan The Game Business yang dilaporkan oleh IGN, ia menyuarakan keyakinannya bahwa konsol generasi berikutnya akan selamat dari krisis RAM, meskipun harga diperkirakan akan tetap tinggi.

“Konsol masih diperlukan untuk memperluas audiens di level kasual atau semi-kasual. Penting untuk memiliki perangkat yang mudah dicolok dan langsung bisa dinikmati untuk bermain game,” ujar Nowakowski. Baginya, konsol tetap menjadi jembatan penting bagi para gamer yang menginginkan kemudahan tanpa harus merakit PC gaming.
Konsol Diyakini Mampu Bertahan di Tengah Krisis RAM
Nowakowski menegaskan keyakinannya terhadap masa depan konsol di tengah situasi yang tidak menentu. “Saya sangat percaya bahwa mereka [konsol] akan mampu bertahan menghadapi badai ini. Harga adalah tantangan yang objektif. Dan rumor-rumor yang kami dengar tentang penundaan konsol generasi berikutnya—saya tidak tahu apakah itu benar,” jelasnya.
Pernyataan ini muncul di tengah proyeksi para analis industri yang memperkirakan kelangkaan RAM akan semakin parah pada 2027 dan seterusnya. Kenaikan harga komponen ini tidak hanya berdampak pada konsol, tetapi juga pada PC maker dan berbagai perangkat hardware lainnya.
Jika konsol generasi berikutnya benar-benar tertunda, CDPR memiliki rencana adaptasi yang jelas. “Jika generasi berikutnya tertunda, bisa saja beberapa ide [untuk game] disimpan untuk masa depan. Kami harus menyesuaikan diri. Kami tidak khawatir dari sisi komersial. Konsol akan tetap ada,” tegas Nowakowski.
Krisis RAM bukan satu-satunya masalah yang dihadapi industri konsol saat ini. Kenaikan harga komponen juga berdampak pada berbagai produk lain. Sebelumnya, harga konsol di berbagai wilayah juga mengalami penyesuaian akibat tekanan biaya produksi yang meningkat.
Sony Hadapi Tantangan Ganda di Tengah Krisis
Selain krisis RAM yang mendorong kenaikan harga dan berpotensi menunda peluncuran konsol, Sony khususnya menghadapi tantangan berat lainnya. Keputusan perusahaan untuk menghentikan produksi disc game fisik untuk konsol PlayStation, mulai Januari 2028, telah memicu protes dari para gamer di ekosistem mereka.

Masa depan all-digital berarti segala bentuk kepemilikan game akan hilang, karena konten digital secara teoretis dapat diambil dari para gamer kapan saja. Hal ini memicu reaksi keras dari komunitas konsol yang merasa hak kepemilikan mereka terancam.
Meskipun The Game Business tidak menanyakan langsung kepada Nowakowski tentang kepemilikan game fisik, mereka menggali lebih dalam tentang dampak penundaan konsol generasi berikutnya. Nowakowski pun memperjelas sikap CDPR bahwa mereka siap beradaptasi dengan kondisi apa pun.
Penilaian Nowakowski dianggap sebagai sikap yang realistis. Bahkan dengan penghentian disc game fisik oleh Sony, hal ini tidak akan menyebabkan runtuhnya popularitas konsol secara total. Namun, Sony mungkin tidak membuat segalanya mudah bagi dirinya sendiri dan penerbit seperti CDPR.

Mulai 2028, ketika disc game dihapus dari ekosistem PlayStation, dampak terhadap penjualan game sangat mungkin terjadi—terutama jika melihat reaksi balik yang terus berlanjut dari para gamer. Situasi ini menjadi pengingat bahwa transisi digital harus dikelola dengan hati-hati agar tidak mengasingkan basis pengguna setia.
Bagi para pengamat industri, pernyataan Nowakowski memberikan sinyal bahwa pengembang game besar tetap optimistis terhadap masa depan konsol. Namun, kombinasi antara krisis RAM yang berkepanjangan, potensi penundaan peluncuran konsol baru, dan kebijakan kontroversial seperti penghentian disc fisik, menciptakan lanskap yang penuh ketidakpastian bagi industri game ke depannya.
Krisis RAM sendiri diperkirakan akan terus menjadi isu utama yang memengaruhi harga hardware hingga beberapa tahun ke depan. Para analis memperkirakan kelangkaan akan berlanjut hingga 2027 bahkan berpotensi melampaui tahun 2030 jika tidak ada solusi jangka panjang dari para produsen chip memori.
Bagi konsumen, situasi ini berarti harus lebih bijak dalam merencanakan pembelian hardware. Sementara bagi para pengembang dan penerbit game, fleksibilitas dan kemampuan beradaptasi menjadi kunci untuk bertahan di tengah ketidakpastian industri yang sedang bergejolak ini.
Keyakinan Nowakowski bahwa konsol akan tetap bertahan memberikan sedikit angin segar di tengah kabar buruk yang mendominasi industri. Namun, waktu yang akan menjawab apakah optimisme tersebut sejalan dengan realitas pasar yang terus berubah.
Perkembangan industri konsol ke depan akan sangat bergantung pada bagaimana para pemain kunci seperti Sony, Microsoft, dan Nintendo merespons tekanan ekonomi global ini. Sementara itu, para gamer hanya bisa berharap bahwa semua pihak dapat menemukan solusi terbaik agar industri game tetap sehat dan berkelanjutan.





Komentar
Belum ada komentar.