Akhir Tragis BioWare, Server Anthem Ditutup EA Secara Permanen Januari 2026

REKOMENDASI
ARTIKEL TERKAIT

Telset.id – Jika Anda pernah menaruh harapan tinggi pada janji manis BioWare tentang dunia terbuka yang dinamis dan pertempuran Javelin yang memukau, bersiaplah untuk mengucapkan selamat tinggal. Kabar yang mungkin sudah diprediksi banyak pihak namun tetap menyisakan rasa pahit akhirnya terkonfirmasi: Electronic Arts (EA) akan mencabut “nyawa” Anthem secara total. Ini bukan sekadar penghentian pembaruan konten, melainkan penutupan server secara permanen yang akan membuat game ini lenyap selamanya dari peradaban digital.

Tanggal eksekusi telah ditetapkan. Pada 12 Januari 2026, lampu-lampu di Fort Tarsis akan padam untuk terakhir kalinya. Bagi sebuah judul yang pernah digadang-gadang sebagai evolusi berikutnya dari genre looter-shooter dan pilar masa depan EA, ini adalah akhir yang sangat tidak mulus. Anthem, yang seharusnya menjadi bukti taring BioWare di luar zona nyaman RPG naratif mereka, kini justru menjadi monumen peringatan tentang betapa kerasnya industri live-service. Kita tidak sedang membicarakan game single-player yang bisa Anda simpan kasetnya di lemari; ini adalah game online-only, yang berarti ketika server mati, game tersebut menjadi tidak lebih dari sekumpulan data tak berguna di hard drive Anda.

Keputusan ini tentu memicu kembali perdebatan panas mengenai preservasi game digital. Ironisnya, pengumuman ini datang di saat komunitas global sedang gencar-gencarnya menyuarakan hak kepemilikan konsumen atas game yang mereka beli. Namun, tampaknya petisi dan teriakan para penggemar setia—yang jumlahnya mungkin sudah tidak banyak namun tetap vokal—tidak cukup untuk meyakinkan raksasa korporasi seperti EA untuk tetap membiarkan server menyala. Kita melihat sebuah pola yang mengkhawatirkan di industri ini, di mana judul-judul besar dengan anggaran fantastis bisa hilang begitu saja tanpa jejak sejarah yang bisa dimainkan kembali.

Kematian Ambisi Live Service

Penutupan server untuk game kelas AAA (Triple-A) seperti Anthem adalah penanda suram dalam siklus hidup produk digital modern. BioWare, studio yang namanya harum berkat waralaba legendaris seperti Mass Effect, Dragon Age, dan Star Wars: Knights of the Old Republic, mencoba mengambil risiko besar di bawah kepemimpinan Casey Hudson. Mereka melangkah keluar dari zona nyaman untuk menciptakan IP (Intellectual Property) yang benar-benar baru. Visi awalnya sangat ambisius: menggabungkan aksi orang ketiga dengan dunia terbuka yang dibagikan secara online, di mana pemain bisa mengenakan baju tempur canggih bernama Javelin.

Sayangnya, realitas pasar berkata lain. Sejak peluncurannya, Anthem gagal memberikan dampak masif yang diharapkan oleh EA maupun BioWare. Meskipun mekanisme terbang dan pertempuran menggunakan Javelin menuai pujian—memberikan sensasi “Iron Man” yang belum pernah ada di game lain—fondasi game ini rapuh. Masalah teknis yang menumpuk, misi yang repetitif, serta aktivitas endgame yang dangkal membuat pengalaman bermain terasa setengah matang. Ini adalah contoh klasik dari produk yang dirilis sebelum waktunya, sebuah tren yang sayangnya makin sering kita lihat, bahkan kasus serupa terjadi ketika Game Live-Service lainnya berguguran sebelum sempat berkembang.

Upaya penyelamatan sebenarnya sempat dilakukan. Pasca-peluncuran yang penuh gejolak, ada rencana besar untuk merombak total game ini, sebuah proyek yang dikenal di kalangan internal dan penggemar sebagai “Anthem NEXT” atau Anthem 2.0. EA bahkan menunjuk Christian Dailey, direktur studio BioWare Austin, untuk memimpin tim kecil guna merealisasikan visi ini. Namun, progres yang lambat dan minimnya pembaruan ke publik membuat harapan itu perlahan sirna. Kurang dari setahun kemudian, EA mengumumkan penghentian seluruh pengembangan masa depan, meski saat itu mereka berjanji server akan tetap didukung untuk “masa mendatang yang dapat diperkirakan”. Kini, kita tahu bahwa masa depan itu berakhir pada 12 Januari 2026.

Isu Preservasi dan Gerakan Konsumen

Tanggal 12 Januari nanti bukan hanya sekadar hari kematian Anthem, tetapi juga menjadi bahan bakar baru bagi para aktivis preservasi game. Topik ini kian memanas dalam beberapa tahun terakhir, terutama karena makin banyaknya judul online-only yang berisiko hilang selamanya. Pada tahun 2024, sebuah gerakan bernama “Stop Killing Games” mulai mendapatkan momentum signifikan. Gerakan ini lahir sebagai respons langsung terhadap keputusan Ubisoft yang menghapus game balap The Crew dari peredaran dan mematikan servernya, membuat game tersebut tidak bisa dimainkan sama sekali oleh mereka yang telah membelinya.

Gerakan ini berhasil meningkatkan kesadaran publik secara masif melalui petisi dan kampanye media sosial. Dampaknya bahkan sampai ke telinga para politisi, termasuk Wakil Presiden Parlemen Eropa, Nicolae Stefanuta, yang memberikan dukungannya. Para aktivis berargumen bahwa konsumen seharusnya memiliki hak untuk tetap memainkan game yang telah mereka beli, setidaknya dalam mode offline atau melalui server pribadi (private server) setelah dukungan resmi berakhir. Fenomena ini juga mengingatkan kita pada kasus ketika Warzone Mobile Ditutup, yang juga memicu kekecewaan mendalam di kalangan basis pemainnya.

Sayangnya, untuk kasus Anthem, tampaknya tidak ada jalan keluar yang mudah. Meskipun ada petisi dari penggemar di tahun 2025 yang mencoba menyelamatkan game ini, keputusan EA tampaknya sudah bulat. Berbeda dengan kasus unik seperti Concord, di mana sekelompok modder berhasil menghidupkan kembali game tersebut melalui server kustom lebih dari setahun setelah penutupannya, struktur teknis Anthem mungkin jauh lebih rumit untuk direkayasa ulang oleh komunitas tanpa dukungan resmi pengembang.

Mustahilnya Mode Offline

Bagi Anda yang berharap bisa menjelajahi dunia Bastion sendirian tanpa koneksi internet setelah tanggal penutupan, harapan itu harus dikubur dalam-dalam. Anthem dirancang dari akarnya sebagai pengalaman online. Arsitektur game ini sangat bergantung pada server untuk hampir semua hal, mulai dari manajemen inventaris, perhitungan loot, hingga logika musuh. Mencabut steker server berarti mematikan otak dari game itu sendiri. Tanpa server, Anthem hanyalah cangkang kosong yang tidak bisa berfungsi.

Mode offline yang sangat diminta oleh penggemar kemungkinan besar tidak akan pernah terjadi. Membuat mode offline untuk game yang didesain online-only bukanlah pekerjaan sepele; hal itu membutuhkan perombakan kode yang masif dan investasi sumber daya yang tidak sedikit—sesuatu yang jelas tidak ingin dikeluarkan oleh EA untuk produk yang sudah dianggap gagal secara komersial. Ini adalah kenyataan pahit dari model bisnis modern yang memprioritaskan konektivitas terus-menerus di atas kepemilikan abadi. Hal ini juga yang sering menyebabkan Kerugian Gamer secara finansial dan emosional ketika investasi waktu mereka lenyap dalam sekejap.

Kini, para penggemar hanya memiliki segelintir hari tersisa untuk menikmati sensasi terbang menggunakan Javelin. Mekanisme terbang di Anthem secara luas diakui sebagai salah satu yang terbaik di industri, memberikan kebebasan vertikalitas yang jarang ditemukan di game shooter lainnya. Belum diketahui apakah EA akan pernah mencoba lagi menggunakan IP ini di masa depan, atau apakah mekanik penerbangan Javelin yang brilian itu akan didaur ulang untuk judul lain. Namun, banyak penggemar yang berharap bahwa setidaknya aspek terbaik dari Anthem tidak ikut mati bersama servernya.

Penutupan Anthem adalah pengingat keras bahwa di era digital, “selamanya” adalah konsep yang sangat relatif. Bagi BioWare, ini adalah akhir dari sebuah bab yang menyakitkan, namun bagi industri game secara keseluruhan, ini adalah pelajaran berharga tentang risiko inovasi tanpa eksekusi yang matang, dan pentingnya memikirkan kelestarian karya seni digital bagi generasi mendatang.

TINGGALKAN KOMENTAR
Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ARTIKEL TERKINI
HARGA DAN SPESIFIKASI