
POCO X8 Pro Max
Kelebihan dan Kekurangan
POCO X8 Pro Max
- Baterai 8500 mAh raksasa dengan Si-Carbon, tahan hingga ~80 jam pemakaian normal, jauh di atas rata-rata flagship 2026.
- Performa mentah gila-gilaan: Skor AnTuTu 3.08 juta berkat Dimensity 9500s 3nm, cocok untuk gaming berat dan multitasking ekstrem.
- Layar AMOLED 6.83 inci QHD+ dengan kecerahan puncak 3500 nits dan PWM 3840 Hz, nyaman di mata dan luar biasa di luar ruangan.
- Ketahanan IP68/IP69 dan sertifikasi drop resistance 180 jatuh tanpa cacat, bikin si 'kasar' ini jadi pilihan tangguh.
- Dukungan software 5 tahun (OS + security) dari Android 16, menjanjikan umur pakai panjang dengan update terbaru.
- Konektivitas super lengkap: WiFi 7, Bluetooth 6.0, eSIM, NFC, dan Infrared, siap untuk kebutuhan masa depan.
- Kamera utama 'biasa aja' dengan sensor 50MP dan kamera ultrawide 8MP yang kurang kompetitif di kelasnya, hasil fotonya standar.
- Bobot 219 gram terasa seperti membawa batu bata kecil di saku, kurang ergonomis untuk penggunaan satu tangan.
- Desain material fiberglass dan aluminium terasa premium, tapi pilihan warna terbatas dan agak membosankan.
- Kamera selfie 20MP dengan aperture f/2.2 kurang impresif, hasil foto selfie di low-light biasa saja.
- Tidak ada audio jack 3.5mm dan radio FM, mungkin mengecewakan bagi audiophile yang suka kabel.
Motorola Edge 60 Pro
- Kamera serbaguna dengan triple 50MP: wide (OIS), telephoto 3x optical zoom (OIS), dan ultrawide 120°, plus validasi warna Pantone untuk akurasi warna profesional.
- Desain sangat ringan dan tipis: hanya 186 gram dan 8.2 mm, dengan bahan eco leather yang premium dan nyaman digenggam.
- Layar P-OLED 6.7 inci dengan kecerahan puncak 4500 nits dan refresh rate 120Hz, sangat cerah dan responsif untuk konten HDR.
- Baterai 6000 mAh dengan Si/C Li-Ion, ditambah fast charging 90W dan wireless charging 15W, memberikan fleksibilitas pengisian daya yang baik.
- Kamera selfie 50MP yang sangat mumpuni, mampu merekam 4K, cocok untuk vlogger dan content creator.
- Software Android 15 dengan jaminan 3 tahun upgrade, antarmuka near-stock yang bersih dan bebas bloatware.
- Performa chipset Dimensity 8350 Extreme (4nm) kalah jauh dari Dimensity 9500s, skor AnTuTu diperkirakan di bawah 1.5 juta, kurang greget untuk gaming maksimal.
- Baterai 6000 mAh lebih kecil dibanding POCO, dan daya tahan ~80 jam dari POCO membuat Motorola terlihat 'biasa saja' dalam hal stamina.
- Layar hanya resolusi 1220 x 2712 piksel (kurang dari QHD+), densitas sedikit lebih rendah (444 vs 447 ppi), meski secara kasat mata hampir sama.
- Tidak ada dukungan WiFi 7 (hanya WiFi 6E) dan Bluetooth versi tidak disebutkan, kalah canggih dalam konektivitas masa depan.
- Harga peluncuran sekitar Rp 7 juta, cukup tinggi untuk spesifikasi yang tidak terlalu 'ekstrem' di sektor performa.
- Dukungan software hanya 3 tahun, lebih pendek dari POCO yang 5 tahun, sehingga umur pakai jangka panjang kurang optimal.
Rekomendasi
POCO X8 Pro Max memenangkan perbandingan ini karena menawarkan proposisi nilai yang lebih kuat untuk pengguna yang menginginkan performa absolut dan daya tahan baterai luar biasa. Dengan skor AnTuTu 3.08 juta dari chipset Dimensity 9500s 3nm, ia menghancurkan Motorola Edge 60 Pro dalam tugas berat seperti gaming dan rendering. Baterai 8500 mAh Si-Carbon adalah monster yang mampu bertahan hingga 80 jam, jauh melampaui 6000 mAh milik Motorola. Ditambah lagi, layar QHD+ 6.83 inci dengan kecerahan 3500 nits, sertifikasi IP68/IP69, dan dukungan software 5 tahun menjadikannya investasi jangka panjang yang lebih baik. Meskipun kamera Motorola lebih unggul, POCO unggul dalam aspek-aspek krusial yang paling dicari oleh pengguna power-user. Skor akhir 85.


