📑 Daftar Isi

Chip Xring D100 buatan Xiaomi untuk sistem mengemudi otonom

Xiaomi Rilis Chip 3nm Xring D100 untuk Mobil Listrik

Penulis:Ida Farida
Terbit:
Diperbarui:
⏱️3 menit membaca
Bagikan:
  • Xiaomi luncurkan chip Xring D100, chip 3nm pertama untuk kendaraan listrik di China
  • Spesifikasi: CPU 20-core, NPU 16-core, dukungan memori 160GB, model hingga 200 miliar parameter
  • Performa diperkirakan 700-1.000 TOPS, setara chip Xpeng Turing dan BYD Xuanji A3
  • Xiaomi bisa hemat biaya BOM dengan menguasai rantai produksi chip hingga software
  • Model yang akan menggunakan chip ini belum diumumkan, diperkirakan pada YU7 tahun depan
  • Xiaomi targetkan pengiriman 550.000 kendaraan pada 2026

Telset.id – Xiaomi resmi memperkenalkan chip kecerdasan buatan (AI) untuk kendaraan otonom bernama Xring D100, yang menjadi chip pertama di China dengan proses fabrikasi 3nm. Pengumuman ini menempatkan Xiaomi sejajar dengan BYD, Nio, Xpeng, dan Li Auto yang lebih dulu mengembangkan chip self-developed untuk mobil listrik mereka.

Chip Xring D100 dirancang khusus untuk mendukung sistem autonomous driving tingkat lanjut. Saat ini, model Xiaomi SU7 dan YU7 series masih mengandalkan chip buatan Nvidia dengan daya komputasi 700 TOPS. Kehadiran chip buatan sendiri ini menandai langkah besar Xiaomi dalam menguasai rantai pasok teknologi kendaraan listriknya.

Spesifikasi Teknis Xring D100

Berdasarkan informasi yang dirilis, Xring D100 memiliki spesifikasi teknis yang impresif. Chip ini mengusung CPU 20-core berperforma tinggi dan NPU 16-core dengan komputasi tinggi. Dukungan memori hingga 160GB memungkinkan chip ini menjalankan model skala besar secara lokal dengan kapasitas hingga 200 miliar parameter.

Chip Xring D100 buatan Xiaomi untuk kendaraan listrik

Dengan mengendalikan seluruh rantai produksi—mulai dari chip, domain controller, hingga perangkat lunak Board Support Package (BSP)—Xiaomi dapat menghilangkan markup pemasok dan menekan biaya Bill of Materials (BOM) seiring meningkatnya skala produksi. Ini menjadi keunggulan kompetitif yang signifikan bagi Xiaomi dalam jangka panjang.

Selain efisiensi biaya, D100 memungkinkan Xiaomi mengoptimalkan model mengemudi cerdas XLA end-to-end secara native. Berbeda dengan chip serbaguna yang memerlukan adaptasi dan kuantisasi ekstensif, D100 dirancang sesuai pola aliran data dan akses memori spesifik Xiaomi.

Perbandingan dengan Kompetitor

Performa Xring D100 diperkirakan mencapai 700 hingga 1.000 TOPS, setara dengan chip Turing milik Xpeng dan Xuanji A3 dari BYD. Namun, chip ini masih harus melalui proses sertifikasi otomotif yang ketat, validasi massal, dan integrasi mendalam dengan model XLA sebelum dapat digunakan secara komersial.

Xiaomi YU7 GT dengan teknologi chip terbaru

Tren pengembangan chip mandiri ini menunjukkan kesenjangan yang semakin lebar di industri otomotif. Produsen dengan volume penjualan tinggi mampu membenarkan investasi miliaran yuan dan ribuan insinyur untuk pengembangan chip. Sementara itu, banyak merek lain kemungkinan akan terus mengandalkan chip komersial dan model open-source demi menjaga kelangsungan ekonomi mereka.

Meski demikian, belum diketahui model mana yang akan menggunakan chip Xring D100 ini. Perkiraan paling optimis dari CarNewsChina adalah chip tersebut akan hadir pada pembaruan YU7 tahun depan. Sebagai perbandingan, tahun lalu Changan meluncurkan Deepal L06 yang menggunakan chip kokpit 3nm pertama di dunia, hasil pengembangan MediaTek.

Kinerja penjualan Xiaomi menunjukkan tren positif. Perusahaan mengirimkan 80.856 unit kendaraan pada kuartal pertama tahun ini dan 104.199 unit pada kuartal kedua. Sebelumnya, Xiaomi menetapkan target pengiriman 550.000 kendaraan sepanjang tahun 2026.

Langkah Xiaomi mengembangkan chip 3nm ini menunjukkan komitmen perusahaan untuk bersaing di segmen kendaraan listrik premium. Dengan kontrol penuh atas teknologi inti, Xiaomi tidak hanya mengejar efisiensi biaya tetapi juga fleksibilitas dalam pengembangan fitur-fitur baru di masa depan.

Kehadiran chip ini juga berpotensi mengubah dinamika persaingan di pasar mobil listrik China yang semakin ketat. Produsen yang mampu mengembangkan teknologi sendiri akan memiliki keunggulan dalam hal inovasi dan harga, sementara yang bergantung pada pemasok eksternal harus siap menghadapi tantangan margin yang lebih tipis.

Untuk pasar Indonesia, perkembangan ini menarik untuk dicermati mengingat persaingan mobil listrik yang semakin kompetitif. Teknologi chip canggih seperti ini pada akhirnya akan mempengaruhi harga dan fitur mobil listrik yang tersedia di berbagai pasar, termasuk Indonesia.

Dengan segala keunggulan yang ditawarkan, Xring D100 menjadi tonggak penting dalam perjalanan Xiaomi di industri otomotif. Keberhasilan implementasi chip ini akan menentukan seberapa jauh Xiaomi dapat bersaing dengan pemain-pemain besar lainnya dalam hal teknologi mengemudi otonom.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.