Telset.id – Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan keterbukaan terhadap merek mobil China yang ingin membangun pabrik dan menjual kendaraan di pasar AS. Pernyataan itu disampaikan Trump dalam wawancara di program Ingraham Angle di Fox News pada Jumat pekan lalu. “Jika China ingin masuk dan membuka pabrik untuk membangun mobil mereka di sini, saya tidak masalah dengan itu,” ujar Trump. Namun di saat yang sama, tarif 100 persen untuk mobil buatan China dan larangan kendaraan yang memakai perangkat lunak serta perangkat keras hasil pengembangan China masih tetap berlaku.
Pernyataan Trump ini menjadi anomali di tengah sikap bipartisan AS yang selama ini menolak kehadiran mobil China, bahkan jika diproduksi di dalam negeri. Trump menegaskan satu syarat utama: perusahaan China harus mempekerjakan pekerja Amerika. “Jepang melakukannya, tapi mereka mempekerjakan orang kami. Yang paling penting adalah mereka mempekerjakan orang kami,” kata Trump. Ia juga tidak setuju jika merek China memakai Meksiko sebagai basis produksi lalu mengirim mobilnya ke AS untuk menghindari aturan perdagangan.
Tekanan Politik dan Aturan yang Masih Mengunci
Keterbukaan Trump langsung menuai reaksi dari kalangan politikus. Senator Michigan Elissa Slotkin menyuarakan kekhawatiran bahwa akan ada paket kesepakatan yang menerima mobil China di AS sebagai bagian dari perjanjian dengan China. Slotkin merupakan salah satu sponsor RUU yang ingin melarang total penjualan mobil China di AS. Kekhawatiran itu menguat karena Presiden China Xi Jinping dijadwalkan mengunjungi AS dan bertemu Trump pada akhir bulan ini.
Tekanan juga datang dari dalam pemerintahan sendiri. Menteri Transportasi Sean Duffy secara eksplisit menyerang Ford, yang memiliki perjanjian lisensi dengan produsen baterai China CATL untuk fasilitasnya di Michigan. Pabrik baterai Ford di AS mempekerjakan pekerja Amerika untuk memproduksi baterai menggunakan desain dan keahlian yang dilisensikan dari CATL. Meski demikian, surat tajam Duffy tetap menyerang keterlibatan Ford dengan China.
Selain tarif, ada penghalang yang lebih struktural. Departemen Perdagangan AS memberlakukan larangan yang lebih halus namun efektif: jika sebuah mobil memakai perangkat keras atau perangkat lunak yang dikembangkan perusahaan China, mobil itu tidak boleh dijual di AS. Aturan ini mulai berlaku pada 2027 untuk perangkat lunak dan 2030 untuk perangkat keras. Aturan tersebut bukan sekadar formalitas. Inilah alasan Polestar dilarang di AS, dan mengapa Mercedes-Benz berpotensi terlibat pertarungan dengan pemerintah AS.
Baca Juga:
Infrastruktur Regulasi Belum Mendukung
Terlepas dari pernyataan Trump, infrastruktur regulasi yang ada saat ini tidak memungkinkan mobil China masuk ke AS. Tarif membuat impor tidak kompetitif, sementara larangan perangkat lunak dan perangkat keras untuk apa pun yang dikembangkan di China membuat penjualan tidak layak secara praktis. Hubungan AS-China memang sedang dingin, dan tidak terlihat akan membaik dalam waktu dekat.
Di sisi lain, Trump secara terbuka berbicara tentang keinginannya membangun hubungan yang lebih baik dengan China. Ia memang sering membahas defisit perdagangan, spionase, atau peran China dalam perang Iran. Namun dalam napas yang sama, ia pernah memuji Presiden Xi di masa lalu. Komentar Trump soal mobil China pun bukan hal baru. Pada 2024 selama kampanyenya, Trump sudah terbuka terhadap gagasan mobil China dijual di AS asalkan dibuat di AS.
Pertanyaan soal apakah mobil China akan benar-benar masuk ke AS kemungkinan terjawab dalam beberapa pekan ke depan. Sebagian janji Trump yang terdengar di luar kebiasaan pada akhirnya terwujud. Resistensi politik terhadap mobil China mungkin besar, tetapi jika Trump memberikan lampu hijau, bukan hal mustahil AS tiba-tiba mengizinkannya masuk.
Bagi penggemar industri otomotif dan teknologi, dinamika ini menarik untuk dicermati karena menyentuh langsung persinggungan antara kebijakan perdagangan, keamanan teknologi, dan kepentingan manufaktur domestik. Regulasi ketat yang menyasar perangkat lunak dan perangkat keras China juga mencerminkan tren global yang lebih luas, di mana negara-negara semakin ketat mengawasi asal teknologi dalam produk yang beredar di pasar mereka. Perkembangan serupa terlihat pada upaya otomatisasi AI yang tengah diuji di jaringan telekomunikasi, memperlihatkan bagaimana teknologi asing dan domestik saling bersinggungan dalam ekosistem digital.
Kisah mobil China di AS juga menjadi cermin bagaimana keputusan politik di level tertinggi bisa mengubah peta industri secara dramatis. Jika Trump benar-benar membuka pintu, produsen China perlu menyiapkan strategi manufaktur lokal yang memenuhi syarat ketenagakerjaan dan kepatuhan teknologi. Jika pintu tetap tertutup, tarif dan larangan perangkat lunak akan terus menjadi tembok yang sulit ditembus. Apapun hasilnya, beberapa pekan ke depan akan menjadi momen penentu bagi arah kebijakan otomotif AS terhadap China.





Komentar
Belum ada komentar.