Telset.id β Seorang pemilik Tesla di Quebec, Kanada, mendapatkan tilang setelah mobilnya yang menggunakan mode Full Self-Driving (FSD) melaju hingga 78 km/jam di zona 50 km/jam. Insiden ini memicu kritik terhadap keputusan Tesla yang menghapus fitur penyesuaian offset kecepatan pada pembaruan perangkat lunak FSD v14.
Kejadian bermula saat pengemudi tersebut menunjukkan fitur FSD kepada dua orang teman yang belum pernah mencobanya. Baru dua menit setelah mengaktifkan sistem, sebuah mobil polisi dari arah berlawanan mendeteksi kecepatan mobilnya melalui radar dan langsung menghentikannya. Pengemudi mengaku bertanggung jawab penuh dan akan membayar denda, namun ia menyoroti bahwa Tesla sebenarnya pernah memiliki fitur yang bisa mencegah hal ini, tetapi malah dihapus tanpa alasan yang jelas.
Menurut laporan dari Electrek yang dikutip Telset.id, masalah utamanya bukanlah bahwa FSD bisa melampaui batas kecepatan. Banyak pengemudi yang sesekali berkendara di atas batas, dan sistem otonom seharusnya bisa melakukan hal yang sama. Namun, masalahnya adalah Tesla menghilangkan kemampuan pengemudi untuk menentukan seberapa jauh mereka nyaman melampaui batas tersebut.
Hilangnya Kontrol Offset Kecepatan
Sebelum pembaruan v14 yang dirilis pada Oktober 2025, FSD memungkinkan pengemudi untuk mengatur sendiri offset kecepatan di atas batas yang ditentukan. Pengemudi bisa memilih angka, misalnya 10 km/jam di atas batas, dan mobil akan mematuhinya. Fitur ini dinilai sangat berguna dan memberikan kontrol penuh kepada pengemudi.
Namun, sejak v14, fitur tersebut digantikan oleh serangkaian profil berkendara tetap: Sloth, Chill, Standard, Hurry, dan Mad Max. Sayangnya, preset ini tidak memberikan fleksibilitas yang sama. Pengemudi yang mengalami insiden tersebut menggunakan mode Standard, yang ternyata memutuskan kecepatan 78 km/jam di jalan 50 km/jam adalah hal yang wajar. Padahal, selisih 28 km/jam di atas batas sudah masuk dalam kategori pelanggaran berat yang berujung tilang.
Jika fitur offset kecepatan masih tersedia, pengemudi tersebut bisa menyetel batas maksimal 15 km/jam di atas batas, sehingga mobil akan melaju di sekitar 65 km/jam dan kemungkinan besar tidak akan ditilang. βLima preset, dan tidak satu pun yang mengizinkan saya memilih angka sendiri,β keluhnya.
Pengemudi tersebut menjelaskan bahwa di Quebec, pengemudi biasanya bisa melaju 10 hingga 20 km/jam di atas batas tanpa diganggu polisi, selama tidak berkendara secara berbahaya. Namun, selisih 28 km/jam sudah pasti masuk wilayah tilang. Ia menambahkan bahwa mode Standard di jalan raya (highway) memang nyaman karena melaju di 111 km/jam, namun di jalan lokal dengan batas 50 km/jam, mode tersebut terlalu agresif.
Yang lebih menarik, Tesla sebenarnya sudah memiliki fitur peringatan kecepatan, tetapi fitur tersebut hanya berfungsi sebagai peringatan, bukan sebagai batas keras (hard limit) seperti yang dulu ada. Pengemudi menyarankan agar Tesla cukup menambahkan toggle untuk memilih apakah peringatan tersebut berfungsi sebagai peringatan saja atau sebagai batas keras pada FSD, seperti yang dulu pernah ada.
Dampak pada Penggunaan FSD
Akibat hilangnya fitur ini, pengemudi tersebut mengaku semakin jarang menggunakan FSD di jalan biasa (non-highway). Ia hanya mengaktifkannya saat ingin menunjukkan fitur tersebut kepada teman-temannya. Di jalan raya, FSD masih terasa aman, tetapi di jalan lokal dengan batas kecepatan rendah, risiko mendapatkan tilang menjadi sangat tinggi.
Kasus ini menjadi contoh lain dari pola yang sering terlihat pada Tesla: menghilangkan kontrol yang berguna karena perusahaan percaya sistemnya bisa menangani semuanya sendiri, padahal nyatanya tidak. Kecepatan adalah keputusan yang membutuhkan penilaian manusia, tergantung pada kondisi jalan, lalu lintas, penegakan hukum setempat, dan toleransi risiko pribadi. Preset mode tidak bisa mengetahui semua faktor tersebut.
βJika Tesla ingin saya bertanggung jawab atas kecepatan, berikan saya alat untuk mengaturnya. Kembalikan offset kecepatan kustom,β tegasnya. Sampai fitur tersebut kembali, ia memilih untuk menggunakan FSD hanya di jalan raya dan mengemudi sendiri di jalan-jalan kecil.
Kasus ini juga mengingatkan pada temuan lembaga keselamatan transportasi AS (NTSB) yang mengonfirmasi bahwa pengemudi Tesla kerap mengoverride FSD dalam situasi tertentu, yang menunjukkan bahwa sistem otonom masih membutuhkan pengawasan dan kontrol penuh dari manusia. Sementara itu, ekspansi Tesla ke pasar baru seperti Latvia dan Uruguay menunjukkan bahwa perusahaan terus berupaya memperluas jangkauan teknologi otonomnya.
Kesimpulannya, insiden tilang ini bukan sekadar masalah pelanggaran lalu lintas biasa, melainkan cerminan dari kegagalan desain antarmuka pengguna (UI) yang mengutamakan penyederhanaan berlebihan dibandingkan kontrol pengguna. Tesla dianggap mengambil langkah mundur dengan mengganti fitur offset kecepatan yang sangat berguna dengan serangkaian preset yang kaku dan tidak responsif terhadap kebutuhan pengemudi di dunia nyata.





Komentar
Belum ada komentar.