📑 Daftar Isi

Ilustrasi karakter animasi AR pada kacamata augmented reality untuk peringatan keselamatan berkendara

Studi Ungkap Karakter Animasi AR Efektif Tingkatkan Kewaspadaan Pengemudi

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️4 menit membaca
Bagikan:
  • Studi University of Glasgow menguji karakter animasi AR untuk menarik perhatian pengemudi yang terganggu
  • 48 relawan diuji dengan simulator berkendara dan game mixed reality yang mengganggu konsentrasi
  • Kombinasi sorotan merah dengan bilah warna atau kepala robot berhasil menutup celah perhatian
  • Kedua gaya peringatan membantu pengemudi mengenali bahaya sekitar 80 persen
  • Karakter dengan tanda stres seperti gemetar dan berkeringat justru menjadi distraksi baru
  • Profesor Stephen Brewster menyoroti risiko over-reliance pada sistem peringatan
  • Peneliti berencana menambahkan suara dan percakapan pada fase penelitian berikutnya

Telset.id – Studi terbaru dari University of Glasgow mengungkapkan bahwa karakter animasi kecil pada kacamata augmented reality (AR) dapat menjadi solusi efektif untuk menarik kembali perhatian pengemudi yang terganggu. Penelitian ini menjawab masalah klasik keselamatan berkendara: bagaimana cara cepat mengalihkan pandangan pengemudi dari ponsel atau laptop kembali ke jalan saat ada bahaya.

Tim peneliti yang dipimpin oleh kandidat PhD Thomas Goodge menemukan bahwa karakter animasi yang melihat dan menunjuk ke arah bahaya, layaknya manusia, mampu menutup celah perhatian pengemudi secara signifikan. Temuan ini dipublikasikan setelah melalui serangkaian uji coba melibatkan 48 relawan dalam simulator berkendara.

Metode Penelitian dan Temuan Utama

Dalam eksperimen tersebut, para peserta diminta memakai kacamata AR sambil memainkan game mixed reality yang mengganggu konsentrasi. Di depan mereka, rekaman dashcam dari skenario berkendara nyata diputar untuk meniru kondisi pengemudi yang sibuk dengan email atau permainan. Sistem kemudian memberikan peringatan saat ada bahaya mendekat, tepat sebelum video terputus, dan peneliti menanyakan apa yang dilihat oleh pengemudi.

Hasil putaran pertama menunjukkan bahwa peserta yang terganggu lebih sering melewatkan bahaya dibandingkan kelompok kontrol yang menonton tanpa bermain game. Hal ini berlaku baik saat peringatan berupa bilah berwarna maupun kepala robot animasi yang menoleh ke arah bahaya. Namun, penambahan lapisan kedua berupa sorotan merah yang dipadukan dengan bilah berwarna atau kepala robot berhasil menutup celah perhatian tersebut sepenuhnya.

Kedua gaya peringatan terbukti membantu pengemudi yang terganggu mengenali bahaya dengan benar sekitar 80 persen dari waktu, menyamai peserta yang tidak terganggu sama sekali. Angka ini menunjukkan bahwa kombinasi isyarat visual berlapis jauh lebih efektif daripada peringatan tunggal.

Penelitian ini sejalan dengan perkembangan teknologi wearable yang semakin pesat. Sebelumnya, kipas leher wearable juga terbukti efektif dalam penggunaannya sehari-hari, menunjukkan bahwa perangkat yang dikenakan di tubuh memiliki potensi besar untuk membantu aktivitas manusia.

Meski hasilnya menjanjikan, para peneliti menemukan batasan pada tingkat kepribadian karakter animasi tersebut. Ketika robot diberi tanda stres yang terlihat, seperti gemetar dan berkeringat, peserta justru terganggu karena mencoba membaca kondisi emosionalnya dan akhirnya melewatkan lebih banyak bahaya.

Profesor Stephen Brewster, yang ikut menulis makalah penelitian ini, juga menyoroti risiko yang lebih halus. Beberapa pengemudi cenderung sepenuhnya mengandalkan sistem peringatan daripada memperhatikan jalan sendiri. Fenomena over-reliance ini juga telah muncul pada sistem seperti Cadillac’s Super Cruise, yang melacak mata pengemudi dan menepikan mobil jika pengemudi berhenti merespons.

Implikasi untuk Keselamatan Berkendara

Temuan ini membuka peluang baru dalam pengembangan sistem keselamatan kendaraan. Alih-alih hanya mengandalkan suara atau lampu berkedip, sistem peringatan masa depan dapat menggunakan karakter animasi yang lebih intuitif dan menyerupai interaksi manusia. Pendekatan ini dinilai lebih efektif dalam menarik perhatian pengemudi karena manusia secara alami merespons isyarat sosial dari figur yang menyerupai manusia.

Namun, penelitian juga menegaskan pentingnya keseimbangan dalam desain sistem peringatan. Karakter yang terlalu ekspresif justru dapat menjadi sumber distraksi baru. Desain yang tepat harus mampu menarik perhatian tanpa membuat pengemudi penasaran dengan kondisi emosional karakter tersebut.

Para peneliti berencana melanjutkan studi ini dengan menambahkan elemen suara dan percakapan pada fase berikutnya. Mereka ingin melihat bagaimana respons pengemudi terhadap sistem peringatan yang dapat berbicara kembali, yang berpotensi menjadi terobosan baru dalam interaksi manusia dan teknologi keselamatan kendaraan.

Dalam konteks yang lebih luas, penelitian ini juga relevan dengan pengembangan teknologi AI untuk pendidikan dan produktivitas. Sebagaimana fitur AI baru yang membantu proses belajar, teknologi peringatan adaptif seperti ini menunjukkan bagaimana kecerdasan buatan dapat diterapkan untuk meningkatkan keselamatan pengguna.

Riset ini memberikan kontribusi penting bagi industri otomotif yang terus berupaya mengurangi angka kecelakaan akibat distraksi pengemudi. Dengan kombinasi isyarat visual yang tepat dan desain yang tidak berlebihan, sistem peringatan berbasis AR berpotensi menjadi standar baru dalam fitur keselamatan kendaraan modern.

Meskipun masih diperlukan penelitian lebih lanjut sebelum teknologi ini dapat diterapkan secara komersial, temuan awal ini menunjukkan arah yang jelas: masa depan keselamatan berkendara mungkin tidak hanya bergantung pada sensor dan algoritma, tetapi juga pada kemampuan sistem untuk berkomunikasi dengan pengemudi secara lebih manusiawi.

Ke depannya, integrasi teknologi AR dalam kendaraan diprediksi akan semakin meluas seiring dengan perkembangan industri. Para pengemudi yang sering terganggu oleh perangkat digital saat berkendara akan menjadi pihak yang paling diuntungkan dari inovasi ini, selama sistem dirancang dengan mempertimbangkan risiko over-reliance yang telah diidentifikasi dalam penelitian.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.