Telset.id ā Sebuah studi terhadap jutaan kendaraan di Inggris menunjukkan bahwa mobil listrik mampu bertahan di jalan lebih lama dibandingkan mobil bensin, dan selisihnya semakin melebar seiring bertambahnya jarak tempuh. Studi ini menggunakan data dari jutaan uji MOT tahunan Inggris, yaitu tes kelayakan jalan standar bagi mobil yang beroperasi di jalan raya Inggris.
Uji MOT tersebut berfokus pada suspensi, rem, ban, knalpot, dan emisi kendaraan. Studi ini memeriksa seberapa besar kemungkinan sebuah mobil kembali untuk menjalani uji MOT berikutnya. Jika mobil tidak kembali, artinya kendaraan tersebut sudah tidak beroperasi di jalan, baik karena masalah pada lima kategori tadi maupun persoalan lain.
Temuan ini menjadi relevan karena mobil listrik kerap dianggap teknologi baru, sehingga banyak orang meragukan keandalan jangka panjangnya. Padahal, mobil listrik generasi modern tertua kini sudah hampir dua dekade beroperasi di jalan, sehingga data yang tersedia sudah cukup untuk menilai rekam jejaknya. Hasilnya, menurut studi tersebut, mobil listrik tampil cukup baik.
Perbandingan Keandalan Berdasarkan Jarak Tempuh
Pada awal masa operasional, perbedaan kelayakan jalan antara mobil bensin dan mobil listrik relatif kecil. Mobil listrik justru mengalami sedikit lebih banyak masalah pada tahun-tahun awal kepemilikan, tetapi hal itu terjadi karena mobil listrik cenderung menempuh lebih banyak jarak di awal dibandingkan mobil bensin.
Ketika dibandingkan berdasarkan jarak tempuh, mobil listrik memiliki tingkat kegagalan yang sangat mirip pada tahun-tahun awal, dengan selisih kurang dari satu poin persentase. Perbedaan baru muncul ketika jarak tempuh mencapai angka tinggi, yakni melewati 40.000 mil seumur pakai. Pada titik itu, mobil bensin menjadi kurang andal, dan keandalannya terus menurun seiring waktu.
Saat sebuah mobil bensin mencapai 120.000 mil, kemungkinan gagal uji MOT-nya 7,5% lebih tinggi dibandingkan mobil listrik, yaitu 16% berbanding 23,5%. Pola serupa juga terlihat pada faktor usia: semakin tua kendaraan, mobil listrik tetap lebih andal. Hal ini terjadi meskipun mobil listrik mencatat jarak tempuh tahunan yang lebih tinggi di setiap kelompok usia.
Studi ini juga membandingkan kendaraan yang memiliki versi listrik dan versi bensin secara berdampingan. Pada setiap kasus kecuali VW Golf, hasilnya adalah seri atau kemenangan keandalan bagi BEV (Battery Electric Vehicle).
Baca Juga:
Hasil tersebut dicapai meski desain BEV pada kendaraan multi-powertrain tergolong kompromistis. Sebagian besar kendaraan jenis ini dirancang dengan modifikasi sasis yang terbatas, hanya dengan menambahkan baterai besar, sehingga versi BEV menjadi lebih berat daripada yang dirancang untuk sasisnya. Perbedaan bobot inilah yang menyebabkan keausan ban lebih tinggi pada BEV.
Secara keseluruhan, BEV memang mengalami keausan ban yang jauh lebih tinggi dibandingkan kendaraan bensin. Namun, kendaraan multi-powertrain seperti VW Golf mencatat tingkat keausan ban yang jauh lebih tinggi dibandingkan BEV yang dirancang khusus seperti BMW i3.
Rem dan Suspensi: Keunggulan Mobil Listrik
Meski bobot berpengaruh terhadap keausan ban, bobot tidak berpengaruh terhadap suspensi. Studi tersebut menemukan bahwa BEV mengalami lebih sedikit masalah suspensi dibandingkan kendaraan bensin, terlepas dari jarak tempuhnya.
Rem jelas menjadi penyebab jauh lebih sedikit masalah pada BEV, karena sebagian besar pengereman terjadi melalui regenerative braking pada mobil listrik. Namun, mobil listrik yang sangat tua, yakni berusia lebih dari 10 tahun, justru mengalami lebih banyak masalah rem dibandingkan mobil bensin, kemungkinan besar akibat rem yang jarang digunakan dan korosi.
Karena itu, bagi para pengemudi mobil listrik, disarankan untuk sesekali menggunakan rem gesek (friction brakes) meskipun sebagian besar waktu menggunakan regenerative braking. Selain itu, pantau terus kondisi ban kendaraan.
Temuan ini tidak hanya berlaku untuk kendaraan ringan, tetapi juga untuk van komersial ringan seperti Nissan NV200. Versi BEV-nya tampil lebih baik daripada versi diesel, kecuali pada keausan ban.
Salah satu keterbatasan studi ini adalah tidak melacak kesehatan baterai, karena hal tersebut tidak tercakup dalam uji MOT Inggris. Namun, studi terbesar yang pernah dilakukan mengenai kesehatan baterai baru-baru ini menunjukkan bahwa baterai mobil listrik bertahan lebih lama dari yang diperkirakan banyak orang, umumnya masih menyimpan 90% kapasitas bahkan setelah 90.000 mil operasi.
Bagi pemilik mobil listrik, pengisian daya di rumah dapat dilakukan menggunakan panel surya atap. Untuk itu, diperlukan pemasang panel surya yang andal dan kompetitif. Beberapa penyedia menyediakan pemasang yang telah diverifikasi sebelumnya dan bersaing untuk mendapatkan bisnis pelanggan, dengan klaim penghematan 20-30%. Layanan tersebut gratis, tanpa panggilan penjualan sampai pelanggan memilih pemasang, serta menyediakan perbandingan penawaran surya yang dipersonalisasi secara online dan panduan dari penasihat surya yang tidak memihak.
Artikel ini juga memuat tautan afiliasi otomotif yang menghasilkan pendapatan. Untuk tetap mendapatkan konten terbaru, pembaca dapat berlangganan Electrek di Google News. Electrek dikenal sebagai media yang memberitakan Tesla, kendaraan listrik, dan energi hijau setiap hari. Pembaca dapat mengunjungi beranda Electrek untuk berita terbaru, serta mengikuti Electrek di Twitter, Facebook, dan LinkedIn. Bagi yang belum tahu harus mulai dari mana, tersedia kanal YouTube untuk ulasan terbaru.

Dengan data yang kini tersedia dari jutaan uji MOT, perdebatan soal keandalan mobil listrik versus bensin mendapat pijakan yang lebih faktual. Mobil listrik tidak hanya mencatat tingkat kegagalan yang kompetitif di awal masa pakai, tetapi juga tetap lebih andal saat jarak tempuh dan usia kendaraan bertambah. Catatan pentingnya tetap ada pada keausan ban dan perawatan rem, terutama pada mobil listrik berusia lebih dari satu dekade.





Komentar
Belum ada komentar.