Qualcomm CEO Cristiano Amon berbicara di IFA 2022 tentang visi 6G dan smart glasses

Qualcomm: 6G Akan Ubah Manusia Jadi Kamera Berjalan

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
ā±ļø6 menit membaca
Bagikan:
  • Qualcomm CEO Cristiano Amon menyatakan 6G akan mengubah manusia menjadi kamera berjalan yang terus merekam lingkungan sekitar
  • Teknologi 6G memungkinkan kecepatan hingga 1Tbps dengan latensi minimal untuk streaming video real-time ke AI
  • Smart glasses menjadi fokus utama dengan kamera yang mengirim data visual dan audio ke asisten AI personal
  • Kolaborasi Meta dan Ray-Ban disebut sebagai contoh smart glasses dengan desain yang lebih diterima
  • Kontroversi privasi masih menjadi hambatan utama adopsi massal smart glasses
  • 6G diperkirakan akan diluncurkan pada tahun 2030-an dengan spektrum sub-terahertz

Telset.id – Qualcomm CEO Cristiano Amon memproyeksikan bahwa teknologi 6G akan mengubah setiap manusia menjadi ā€œkamera berjalanā€ yang terus merekam dunia di sekitarnya. Visi ambisius ini diungkapkan Amon dalam wawancara dengan Fox Business pada Juni 2026, di mana ia menjelaskan bagaimana jaringan generasi keenam akan mentransformasi interaksi manusia dengan kecerdasan buatan.

Menurut Amon, ā€œ6G akan mengubah kita semua menjadi kamera berjalan karena kita memiliki kemampuan untuk mengirimkan semua yang kita lihat ke model AI yang akan berinteraksi dengan kita dan memberikan kecerdasan secara langsung. Dan itu adalah kategori perangkat baru yang menarik.ā€ Pernyataan ini menandai perubahan fundamental dalam cara pandang Qualcomm terhadap masa depan komputasi personal.

Visi Amon berpusat pada adopsi massal smart glasses atau kacamata pintar. Ia meyakini perangkat ini akan menjadi antarmuka utama antara manusia dan AI, dengan kamera yang terus-menerus merekam video dan menangkap data secara real-time, termasuk audio, untuk memberi makan asisten AI personal pengguna. Ini adalah langkah berani dari perusahaan yang telah mendominasi industri chip smartphone selama bertahun-tahun melalui lini prosesor Snapdragon.

Kacamata pintar sendiri bukanlah konsep baru. Google sempat memperkenalkan Google Glass yang dianggap kikuk dan kurang diminati publik. Namun, Amon melihat bahwa kemajuan teknologi layar dan faktor bentuk yang lebih ergonomis kini membuat perangkat ini lebih siap untuk pasar massal. Salah satu contoh sukses adalah kolaborasi antara Meta dan Ray-Ban yang berhasil menciptakan kacamata pintar dengan desain yang lebih diterima secara sosial.

Di sinilah peran 6G menjadi krusial. Teknologi ini memungkinkan kecepatan puncak yang jauh lebih tinggi dibandingkan jaringan 5G saat ini. Secara teoretis, jaringan seluler masa depan dapat mencapai kecepatan 1Tbps dengan memanfaatkan spektrum sub-terahertz. Latensi yang sangat rendah juga menjadi kunci untuk memungkinkan streaming video real-time ke model AI tanpa jeda yang berarti.

Namun, jalan menuju visi ini tidaklah mulus. Fungsi kamera pada kacamata pintar seperti Meta Ray-Ban telah menuai banyak kontroversi. Beberapa pemilik bahkan enggan memakainya di tempat umum karena kekhawatiran privasi. Kampanye penolakan terhadap smart glasses semakin meningkat, dengan selebritas dan aktivis bersatu menentang perangkat yang dianggap mengancam privasi individu.

Keumars Afifi-Sabet, kontributor lepas TechRadar, mencatat bahwa meskipun teknologi 6G mungkin sudah siap secara teknis, masih ada banyak hambatan yang menghalangi adopsi massal smart glasses. Faktor penerimaan sosial dan regulasi privasi menjadi tantangan terbesar yang harus diatasi sebelum visi ā€œmanusia kamera berjalanā€ ini menjadi kenyataan.

Qualcomm sendiri telah menjadi pemain kunci di industri chip selama bertahun-tahun, dengan prosesor Snapdragon yang mendukung smartphone Android sepanjang era 4G dan 5G. Kini, dengan 6G yang diperkirakan akan diluncurkan pada tahun 2030-an, perusahaan ini ingin memposisikan diri sebagai pemimpin dalam transisi menuju komputasi yang didukung AI dan perangkat wearable cerdas.

Visi Amon tentang smart glasses sebagai kategori perangkat baru sejalan dengan tren industri yang lebih luas. Beberapa perusahaan teknologi besar telah berinvestasi besar-besaran dalam teknologi augmented reality (AR) dan mixed reality (MR). Apple dengan Vision Pro-nya, meskipun bukan kacamata pintar ringan, telah membuka jalan bagi adopsi komputasi spasial yang lebih luas.

Namun, pendekatan Qualcomm berbeda. Alih-alih menciptakan perangkat yang sepenuhnya imersif seperti headset VR/AR, Amon membayangkan kacamata pintar yang ringan, tidak mencolok, dan terus-menerus terhubung ke cloud. Perangkat ini akan berfungsi sebagai lensa kedua bagi pengguna, memberikan informasi kontekstual secara real-time tentang apa pun yang dilihat pengguna.

Bayangkan skenario di mana Anda berjalan di jalan asing, dan kacamata pintar Anda secara otomatis menerjemahkan papan nama toko, memberikan ulasan restoran, atau bahkan mengidentifikasi tanaman yang Anda lihat di taman. Semua ini dimungkinkan oleh koneksi 6G berkecepatan tinggi yang mengirimkan data visual ke AI cloud dan mengembalikan hasilnya dalam milidetik.

Dari sisi bisnis, visi ini membuka peluang besar bagi Qualcomm. Perusahaan tidak hanya akan memasok chip untuk smartphone, tetapi juga menjadi pemasok utama untuk prosesor yang mendukung smart glasses, perangkat IoT, dan infrastruktur jaringan 6G. Ini adalah diversifikasi yang cerdas mengingat pasar smartphone yang semakin jenuh.

Namun, pertanyaan tentang privasi tetap menjadi isu sentral. Konsep ā€œkamera berjalanā€ yang terus-menerus merekam lingkungan sekitar jelas menimbulkan kekhawatiran tentang pengawasan massal. Siapa yang memiliki data yang direkam? Bagaimana data tersebut digunakan? Apakah ada jaminan bahwa rekaman tidak akan disalahgunakan oleh pihak ketiga atau pemerintah?

Kontroversi yang mengelilingi Meta Ray-Ban menunjukkan bahwa masyarakat belum sepenuhnya siap dengan perangkat yang terus-menerus merekam. Insiden di mana pemilik kacamata pintar dilarang masuk ke tempat umum atau bahkan diserang secara verbal menunjukkan adanya resistensi sosial yang signifikan.

Selain itu, ada juga tantangan teknis yang harus diatasi. Masa pakai baterai, manajemen panas, dan daya komputasi on-device masih menjadi kendala utama untuk smart glasses yang ringan. Meskipun 6G menjanjikan kecepatan tinggi dan latensi rendah, perangkat tetap membutuhkan daya yang cukup untuk memproses data secara lokal dan berkomunikasi dengan jaringan.

Qualcomm, dengan pengalamannya dalam merancang chip hemat daya untuk perangkat seluler, berada dalam posisi yang baik untuk mengatasi tantangan ini. Prosesor Snapdragon yang efisien dapat diadaptasi untuk smart glasses, sementara modem 6G yang terintegrasi akan memastikan konektivitas yang andal.

Dalam konteks persaingan industri, Qualcomm tidak sendirian. Perusahaan seperti MediaTek, Samsung, dan bahkan Apple dilaporkan mengembangkan chip khusus untuk perangkat AR/VR. Persaingan untuk mendominasi pasar komputasi spasial diperkirakan akan semakin ketat dalam beberapa tahun mendatang.

Visi Amon juga mencerminkan perubahan yang lebih luas dalam cara kita memandang komputasi. Dari era PC desktop, ke laptop, ke smartphone, dan sekarang menuju perangkat wearable yang selalu aktif dan selalu terhubung. Setiap transisi ini telah mengubah cara kita bekerja, berkomunikasi, dan mengakses informasi.

6G sendiri diharapkan tidak hanya membawa kecepatan lebih tinggi, tetapi juga latensi yang hampir tidak terasa, keandalan yang lebih baik, dan kemampuan untuk menghubungkan miliaran perangkat IoT secara simultan. Ini akan memungkinkan aplikasi yang sebelumnya tidak mungkin, seperti telemedisin jarak jauh dengan umpan balik haptic, kendaraan otonom yang berkomunikasi satu sama lain secara real-time, dan tentu saja, smart glasses yang terintegrasi dengan AI.

Namun, implementasi 6G masih membutuhkan waktu. Infrastruktur jaringan saat ini masih didominasi oleh 5G, dengan banyak wilayah di dunia bahkan belum sepenuhnya menikmati manfaat jaringan generasi kelima. Spektrum sub-terahertz yang diperlukan untuk 6G juga membutuhkan investasi besar dalam infrastruktur dan regulasi.

Di sisi lain, optimisme Qualcomm tentang smart glasses mungkin terlalu dini. Sejarah menunjukkan bahwa meskipun teknologi mungkin sudah siap, adopsi konsumen seringkali tertinggal. Google Glass adalah contoh sempurna dari produk yang secara teknis canggih tetapi gagal secara komersial karena masalah penerimaan sosial.

Meta dan Ray-Ban telah belajar dari kesalahan Google dengan merancang kacamata yang terlihat seperti kacamata biasa. Namun, kontroversi privasi tetap mengikutinya. Ini menunjukkan bahwa masalah fundamental tentang pengawasan dan persetujuan belum sepenuhnya terpecahkan.

Untuk mengatasi hal ini, diperlukan kerangka regulasi yang jelas tentang penggunaan kamera pada perangkat wearable. Beberapa negara telah mulai merancang undang-undang yang mewajibkan indikator visual yang jelas ketika kamera sedang merekam, mirip dengan lampu merah pada kamera pengintai.

Dari sudut pandang pengguna, visi ā€œmanusia kamera berjalanā€ mungkin terdengar menarik bagi para early adopter yang selalu ingin menjadi yang pertama mencoba teknologi baru. Namun, bagi pengguna biasa yang peduli dengan privasi, konsep ini mungkin terasa mengancam.

Qualcomm perlu bekerja sama dengan regulator, pembuat kebijakan, dan kelompok advokasi privasi untuk membangun kerangka kepercayaan sebelum smart glasses dapat diadopsi secara luas. Tanpa kepercayaan publik, bahkan teknologi tercanggih sekalipun akan gagal mencapai potensi penuhnya.

Terlepas dari tantangan yang ada, visi Amon memberikan gambaran yang jelas tentang arah industri teknologi dalam dekade mendatang. Perusahaan teknologi besar berlomba-lomba untuk menciptakan antarmuka komputasi baru yang lebih intuitif dan imersif, dan smart glasses yang didukung 6G dan AI adalah salah satu kandidat terkuat.

Seiring dengan perkembangan 6G yang diperkirakan akan dimulai pada awal 2030-an, kita mungkin akan melihat prototipe smart glasses yang benar-benar siap pasar dalam beberapa tahun ke depan. Qualcomm, dengan sumber daya dan keahliannya, berada di posisi yang tepat untuk memimpin transformasi ini.

Namun, pada akhirnya, kesuksesan visi ini akan bergantung pada kemampuan industri untuk mengatasi masalah privasi dan penerimaan sosial. Teknologi tanpa kepercayaan publik adalah teknologi yang gagal, tidak peduli seberapa canggihnya.

Amon mungkin benar bahwa 6G akan membuka kemungkinan baru yang menarik, tetapi apakah masyarakat siap untuk menjadi ā€œkamera berjalanā€ adalah pertanyaan yang masih harus dijawab dalam dekade mendatang.

[CONTENT_END]

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.