šŸ“‘ Daftar Isi

Robot humanoid dan quadruped mengikuti demonstrasi menuntut regulasi pengembangan kecerdasan buatan di Warsawa, Polandia

Protes Robot Humanoid di Polandia Tuntut Regulasi AI yang Lebih Ketat

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
ā±ļø3 menit membaca
Bagikan:
  • Kelompok Democratism menggelar demonstrasi anti-AI di depan Kementerian Urusan Digital Polandia di Warsawa menggunakan sekitar 30 robot humanoid
  • Aksi ini menjadi demonstrasi politik pertama yang diketahui menggunakan robot humanoid
  • Penyelenggara menyampaikan pernyataan melalui robot Agibot A3 dengan kemampuan voice-recognition terintegrasi LLM
  • Grzegorz Kuliś, pengorganisir aksi, ternyata juga pemilik perusahaan Delta Robots, menimbulkan pertanyaan konflik kepentingan
  • Isu utama yang diangkat adalah potensi penggantian pekerja manusia oleh AI dan robot dalam pekerjaan kognitif
  • Aksi ini menyoroti kekhawatiran global tentang PHK akibat AI dan otomatisasi

Telset.id – Sekelompok pengunjuk rasa di Polandia menggelar aksi demonstrasi anti-AI dengan cara yang tidak biasa, yakni menerjunkan puluhan robot humanoid di depan kantor Kementerian Urusan Digital di Warsawa. Aksi yang pertama kali dilaporkan oleh Agence France-Presse ini digelar untuk menuntut regulasi AI yang lebih cepat dan ketat.

Organisasi bernama Democratism ini menurunkan sekitar 30 robot yang membawa bendera serta spanduk ajakan untuk segera mengatur kecerdasan buatan. Aksi ini menjadi demonstrasi politik pertama yang diketahui menggunakan robot humanoid, menandai babak baru dalam cara masyarakat menyuarakan kekhawatiran terhadap perkembangan teknologi.

Humanoid and quadruped robots attend a demonstration calling for the regulation of artificial intelligence development in Warsaw.

Robot Jadi Alat Demonstrasi

Para penyelenggara dari kelompok Democratism menyatakan kepada wartawan bahwa penggunaan robot dalam demonstrasi ini bertujuan untuk menunjukkan kondisi terkini teknologi robotika dan AI. Meskipun robot humanoid masih dalam tahap awal pengembangan, kehadiran puluhan robot yang berkumpul bersama berhasil menciptakan pemandangan yang menarik perhatian publik.

Melalui salah satu robot Agibot A3 yang memiliki kemampuan pengenalan suara terintegrasi dengan model bahasa besar, para penyelenggara menyampaikan pernyataan resmi mereka kepada AFP.

ā€œRobot-robot yang hadir di sini dimaksudkan untuk menunjukkan bahwa teknologi ini sudah menjadi kenyataan,ā€ ujar penyelenggara melalui robot tersebut.

ā€œKami secara khusus ingin menyoroti isu potensi penggantian manusia, baik oleh robot humanoid maupun oleh kecerdasan buatan dalam pekerjaan kognitif,ā€ ungkap Grzegorz Kuliś, pengorganisir Democratism, kepada kantor berita tersebut.

Kuliś menambahkan, ā€œJika kita tidak bereaksi sekarang, kita mungkin akan segera menghadapi masalah… robot-robot ini sudah bisa bergerak bebas, mereka sudah ā€˜berprotes’.ā€

Konflik Kepentingan di Balik Aksi

Menariknya, Grzegorz Kuliś ternyata juga menjabat sebagai chief information officer sekaligus pemilik perusahaan bernama Delta Robots. Hal ini berarti demonstrasi tersebut sekaligus berfungsi sebagai ajang promosi untuk kepentingan komersial pribadinya.

Terlepas dari motivasi altruistik Kuliś, sejumlah laboratorium AI besar seperti Anthropic dan OpenAI juga telah menggunakan taktik menakut-nakuti untuk mempromosikan kemampuan produk mereka sendiri, sambil menyerukan regulasi yang lebih ketat bagi industri mereka.

Implikasi bagi Masa Depan Tenaga Kerja

Aksi demonstrasi ini menyoroti kekhawatiran yang semakin meluas mengenai dampak AI dan robotika terhadap lapangan pekerjaan. Isu penggantian tenaga kerja manusia oleh mesin dalam pekerjaan kognitif menjadi perhatian utama yang diangkat oleh para pengunjuk rasa.

Kekhawatiran ini sejalan dengan berbagai pemberitaan tentang PHK yang disebabkan oleh AI dan otomatisasi yang tengah mewarnai pemberitaan global. Kelompok Democratism berupaya memicu perdebatan publik mengenai bagaimana AI dan robot dapat menggantikan pekerja manusia di berbagai sektor.

Demonstrasi ini juga menjadi pengingat bahwa pengembangan AI tidak hanya menjadi perdebatan di kalangan perusahaan teknologi besar, tetapi juga menjadi isu sosial yang memengaruhi masyarakat luas. Berbagai pihak kini mulai menyadari pentingnya keterlibatan publik dalam menentukan arah kebijakan terkait kecerdasan buatan.

Pertanyaan Seputar Motivasi di Balik Aksi

Apakah Kuliś mengikuti jejak Sam Altman yang dinilai self-serving dalam kampanye regulasi industrinya sendiri, masih menjadi pertanyaan yang belum terjawab. Namun yang jelas, aksi ini menandai penggunaan pertama robot humanoid untuk demonstrasi politik yang diketahui publik.

Perkembangan ini menunjukkan bahwa isu regulasi AI semakin kompleks, melibatkan berbagai pemangku kepentingan dengan motivasi yang beragam. Di satu sisi ada kekhawatiran tulus tentang masa depan pekerjaan manusia, namun di sisi lain juga ada kepentingan komersial yang melekat pada industri robotika dan AI itu sendiri.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.