📑 Daftar Isi

Mobil Tesla dengan sistem Full Self-Driving di jalan raya

Prancis Tolak FSD Tesla, Desak Regulasi Uni Eropa

Penulis:Ida Farida
Terbit:
Diperbarui:
⏱️4 menit membaca
Bagikan:
  • Prancis menolak mengesahkan FSD Tesla karena dua masalah keamanan: sistem memungkinkan kecepatan berlebih dan tidak menjaga kewaspadaan pengemudi di perkotaan.
  • Menteri Transportasi Prancis menekankan FSD bukan sistem self-driving dan menunggu regulasi seragam Uni Eropa.
  • Tesla mendapat persetujuan dari Belanda pada April lalu, namun Prancis menolak mengikuti keputusan sepihak tersebut.
  • Swedia juga meminta UE menolak FSD kecuali Tesla menghilangkan fitur kecepatan berlebih.
  • Prancis mendukung teknologi otonom tetapi mengutamakan keselamatan jalan raya.

Telset.id – Prancis secara resmi menolak mengesahkan sistem Full Self-Driving (Supervised) milik Tesla di jalanannya dalam bentuk saat ini. Menteri Transportasi Prancis, Philippe Tabarot, menyebut dua masalah keamanan utama: sistem tersebut memungkinkan pengemudi melaju melebihi batas kecepatan dan tidak cukup menjaga kewaspadaan pengemudi di perkotaan.

Keputusan ini bukanlah penolakan total terhadap Tesla, melainkan penolakan Prancis untuk sekadar mengesahkan persetujuan nasional Belanda. Prancis bersikeras menunggu persetujuan resmi dari seluruh Uni Eropa sebelum memberikan lampu hijau.

Dua Alasan Keamanan dari Prancis

Dalam pernyataan video, Tabarot menjelaskan posisi Prancis dengan jelas. “Kompromi keamanan belum cukup untuk mengotorisasinya dalam bentuk saat ini,” ujarnya. Ia menekankan bahwa sistem tersebut “bukanlah sistem self-driving,” sebuah poin yang selama ini menjadi inti perdebatan di Eropa.

Ia memberikan dua alasan konkret. Pertama, masalah kecepatan. “Kami menemukan bahwa sistem ini memungkinkan pengemudi melaju melebihi batas kecepatan,” kata Tabarot. Kedua, perhatian pengemudi. Menurut data Prancis, FSD “tidak menjamin tingkat perhatian pengemudi yang optimal di lingkungan perkotaan dan selama manuver paling kompleks, seperti perubahan jalur, persimpangan, atau bundaran.”

Langkah Selanjutnya dan Sikap Prancis

Prancis menyatakan masih terus mengupayakan solusi. Tabarot mengatakan negaranya melanjutkan diskusi teknis dengan Belanda, negara-negara Eropa lainnya, dan Tesla. Seorang perwakilan Kementerian Transportasi bahkan telah berkunjung ke Belanda pekan lalu untuk mendalami data yang ada.

Musim gugur ini, Tabarot berencana mengumpulkan ekosistem kendaraan otonom Prancis untuk menetapkan arah kebijakan. Nada pernyataannya penting untuk dicatat: ini bukanlah serangan terhadap Tesla. “Prancis mendukung teknologi ini,” kata Tabarot, membingkai penundaan sebagai masalah kepercayaan dan data, bukan oposisi. “Kami memiliki kartu yang bisa dimainkan, dan kami siap memainkannya, tetapi tidak pernah dengan mengorbankan keselamatan di jalan kami.”

Mengapa Prancis Tidak Sekadar Mengikuti Belanda

Ada bagian penting yang sering terlewatkan. Prancis tidak memblokir FSD di Eropa—ia tidak bisa. Prancis menolak mengaktifkannya di jalan Prancis berdasarkan keputusan negara lain.

Tesla mendapatkan persetujuan FSD Supervised di Belanda pada April lalu melalui RDW (otoritas kendaraan Belanda), menjadikannya negara Uni Eropa pertama. Sejak itu, sistem tersebut diluncurkan secara bertahap, dengan Denmark menjadi negara keempat pada Juni lalu. RDW terus mendorong agar pengecualian nasionalnya berubah menjadi persetujuan tipe di seluruh Uni Eropa melalui Komisi Eropa dan UNECE.

Prancis tidak mau memvalidasi FSD atas dasar itu. Mereka menginginkan kerangka kerja Eropa yang harmonis dengan protokol pengujian bersama sebelum memberikan persetujuan, bukan sistem tambal sulam yang dibangun berdasarkan keputusan satu regulator nasional. Ini adalah jalur yang lebih lambat, tetapi dapat dipertahankan. Seperti inti pesan Tabarot: Prancis akan bergabung ketika Eropa bergerak bersama.

Prancis bukan satu-satunya yang skeptis. Pada Juni lalu, Swedia meminta UE untuk menolak FSD kecuali Tesla menghilangkan perilaku Fitur Terbaru yang memungkinkan kecepatan berlebih. Regulator Eropa telah menyuarakan kekhawatiran yang sama sejak musim semi.

Masalah Kecepatan yang Nyata

Keluhan pertama Tabarot bukanlah teoritis. FSD Tesla selama ini memang memungkinkan pengemudi mengatur sistem untuk melebihi batas kecepatan yang ditetapkan. Baru-baru ini, sebuah laporan mengungkapkan bahwa FSD menyebabkan tilang karena Tesla menghapus perbaikan yang sebelumnya membatasi kelebihan kecepatan.

Situasi ini tidak membantu kasus Tesla di Eropa, terutama setelah perusahaan tersebut menyajikan data keamanan FSD yang menyesatkan kepada regulator. Otoritas Prancis sebelumnya sudah pernah berselisih dengan Tesla mengenai hal ini.

Analisis: Penundaan dengan Syarat

Prancis bermain aman, dan sulit untuk membantah logika di balik keputusan ini. Jika membaca transkrip pernyataan Tabarot, bukanlah penolakan. Ini adalah penundaan dengan syarat yang spesifik dan bisa diperbaiki: hentikan mobil untuk melaju kencang, dan buktikan bahwa sistem pemantauan pengemudi berfungsi di lalu lintas perkotaan yang padat.

Tabarot secara eksplisit menyatakan Prancis mendukung teknologi tersebut. Ia tidak berusaha menjauhkan Tesla. Ia hanya menolak untuk mewarisi pekerjaan rumah Belanda tanpa memeriksanya terlebih dahulu.

Keputusan Prancis ini menjadi preseden penting bagi adopsi teknologi otonom di Eropa. Dengan pendekatan yang mengutamakan Kewaspadaan dan Validasi, Prancis menegaskan bahwa keselamatan jalan raya tidak bisa dikompromikan demi kecepatan adopsi teknologi. Langkah ini juga menjadi sinyal bagi produsen mobil lain bahwa regulasi Harga Terbaru dari kepatuhan adalah standarisasi yang ketat.

Tesla Full Self-Driving Beta Hero

Implikasinya jelas: Tesla harus berbenah jika ingin FSD diterima di pasar Eropa. Dua syarat dari Prancis—menghilangkan potensi kecepatan berlebih dan meningkatkan sistem pemantauan pengemudi—adalah masalah teknis yang bisa diselesaikan. Namun, tanpa kerangka regulasi yang seragam di tingkat Uni Eropa, persetujuan nasional seperti dari Belanda mungkin tidak akan cukup untuk membuka pasar sebesar Prancis.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.