Telset.id â Penjualan mobil listrik baterai (BEV) di Inggris mencapai 30% pangsa pasar pada Agustus 2026, mengungguli semua jenis powertrain lainnya dan melampaui laju yang dibutuhkan untuk memenuhi target kendaraan emisi nol (ZEV Mandate). Capaian ini memunculkan pertanyaan kritis: mengapa pemerintah Inggris justru mempertimbangkan untuk melonggarkan target yang sebenarnya sedang mereka lampaui?
Data dari New AutoMotive, sebuah kelompok advokasi kendaraan listrik Inggris, menunjukkan bahwa penjualan BEV naik 30% year over year pada Agustus lalu. Angka ini nyaris menyalip hybrid konvensional yang menguasai 29% pasar, dan jauh mengungguli kendaraan bensin non-hybrid yang hanya mencapai 27%. Dengan demikian, kendaraan plug-inâgabungan BEV dan PHEVâmenguasai 44% pasar Inggris, hampir mencapai mayoritas.
Kinerja BEV vs Target Pemerintah
Pencapaian ini bukan kebetulan. Pada akhir 2025, angka penjualan EV Inggris sudah cukup tinggi untuk memenuhi target 2026. Data Agustus menunjukkan bulan lain di mana penjualan BEV melampaui target, dan ini bukan pertama kalinya BEV mengalahkan semua powertrain lain. Namun, yang menarik adalah kemenangan ini biasanya terjadi pada Desember, ketika ada lonjakan besar pembelian EV di akhir tahun.
PHEV menjadi powertrain paling populer keempat dengan 14% pangsa pasar dan mencatat pertumbuhan terbesar dibanding tahun lalu, naik 44%. Namun, perlu dicatat bahwa PHEV jarang diisi dayanya, dan jika tidak diisi, kinerjanya tidak lebih baik dari hybrid konvensional yang sepenuhnya bergantung pada bahan bakar fosil.
Pemerintah Inggris sebenarnya menargetkan 33% penjualan EV pada akhir tahun ini. Namun, jika memperhitungkan kredit tambahan dari berbagai sumber, New AutoMotive memperkirakan target âriilâ saat ini hanya 24,6%. Dengan realisasi 30% di Agustus, pasar jelas berada di jalur yang tepat untuk melampaui ekspektasi.
Meski demikian, pemerintah baru-baru ini meluncurkan konsultasi yang telah lama dirumorkan mengenai aturan EV mereka, mencari masukan apakah target saat ini perlu dipertahankan. Implikasinya, pemerintah sedang mempertimbangkan untuk memundurkan target, bukan memajukannyaâsebuah langkah yang kontradiktif mengingat data pasar yang ada.
Konsultasi ini diluncurkan di tengah kebakaran hutan yang tidak biasa melanda negara yang terkenal hujan tersebut, sebuah bencana akibat perubahan iklim yang dipicu oleh kendaraan berbahan bakar bensin yang justru diizinkan berpolusi lebih lama oleh kebijakan yang sedang dipertimbangkan.
Baca Juga:
Faktor Pendorong dan Aktor Utama Pasar
Ada sejumlah faktor yang menjelaskan mengapa Inggris âdemam EV.â Pertama, ZEV Mandate yang bertujuan menghapus mesin pembakaran sepenuhnya pada 2035. Target ini bertingkat: EV harus mencapai 33% penjualan mobil baru pada 2026, 80% pada 2030, dan 100% pada 2035. Produsen yang menjual cukup EV untuk mencapai target mendapatkan kredit, sementara yang gagal harus membayar penalti. Ini mendorong produsen mobil untuk mengembangkan dan menjual model EV.
Kedua, Inggris memiliki subsidi langsung untuk pembeli EV dan banyak Zona Udara Bersih yang mengenakan biaya bagi kendaraan yang terlalu banyak polusi. Mobil yang patuh terhadap udara bersih, seperti EV, tidak perlu membayar biaya tersebut. Terakhir, kenaikan harga bahan bakar akibat perang Iran turut mendorong penjualan EV di seluruh Eropa.
Di tengah dinamika ini, Tesla tetap menjadi merek EV paling populer di Inggris dengan 8,8% pangsa pasar sepanjang tahun ini. Kia berada di posisi kedua, dengan 45% penjualan mobil barunya sepenuhnya listrik pada bulan lalu. Inggris juga menjadi pasar penting bagi merek China; BYD berada di posisi ketiga dengan sekitar 6,3% pangsa pasar EV Inggris, dan registrasinya naik sekitar 60% sepanjang tahun ini. Model seperti BYD Dolphin Surf, Atto 2, dan Jaecoo E5 turut berkontribusi pada angka tersebut.
Tata, yang menaungi Jaguar dan Land Rover, telah menjual 43.000 unit tahun ini, tetapi tidak satu pun di antaranya adalah EV. Angka ini mungkin akan berubah ketika Range Rover Electric dan Jaguar Type 01 mulai dijual. Di sisi lain, kenaikan harga minyak global yang dipicu konflik geopolitik menunjukkan betapa rentannya Inggris terhadap fluktuasi harga energi internasional, memperkuat argumen untuk beralih dari ketergantungan minyak ke pasokan energi domestik dari industri angin dan surya yang sedang berkembang pesat.
Tanya Sinclair, CEO Electric Vehicles UK, menyoroti paradoks ini: âSementara politisi berdebat tentang apakah Inggris siap untuk mobil listrik, pengemudi hanya terus membelinya. EV adalah jenis bahan bakar terbesar pada bulan Agustus, dan pasar sudah berada di depan target ZEV Mandate. Jadi mengapa mengganggunya?â
Pernyataan Sinclair menegaskan bahwa pasar telah memberikan jawaban yang jelas. Alih-alih melonggarkan target, data Agustus menunjukkan bahwa Inggris seharusnya semakin percaya diri untuk mempertahankanâatau bahkan memperketatâkomitmen iklimnya. Keputusan pemerintah dalam konsultasi ini akan menjadi penentu arah kebijakan transportasi Inggris ke depan, sekaligus sinyal bagi industri otomotif global tentang konsistensi komitmen dekarbonisasi negara tersebut.





Komentar
Belum ada komentar.