šŸ“‘ Daftar Isi

Nio Firefly dengan paket baterai 60 kWh dari CATL

Nio Firefly Kini Bisa Upgrade Baterai 60 kWh

Penulis:Ida Farida
Terbit:
Diperbarui:
ā±ļø4 menit membaca
Bagikan:
  • Nio Firefly hadir dengan baterai baru 60 kWh, naik dari 42,1 kWh
  • Jangkauan meningkat dari 420 km ke 560 km CLTC
  • Pemilik lama bisa upgrade, dilakukan di stasiun penukaran baterai
  • Baterai dari CATL, dimensi sama, kimia berubah ke NCM
  • Biaya upgrade dan detail harga diumumkan 23 Oktober

Telset.id – Nio resmi memperkenalkan paket baterai berkapasitas lebih besar untuk Firefly, city car listriknya, dan yang membedakan, pemilik lama bisa melakukan upgrade ke baterai baru tersebut. Langkah ini memperluas konsep pembaruan perangkat lunak over-the-air ke ranah hardware kendaraan, sesuatu yang belum lazim di industri otomotif.

Firefly sebelumnya dibekali baterai 42,1 kWh dengan daya jelajah 420 km menurut siklus CLTC China. Kini Nio menghadirkan varian dengan baterai 60 kWh yang menawarkan jarak tempuh 560 km CLTC. Informasi ini pertama kali dilaporkan seorang blogger China yang mengutip pernyataan kepala pemasaran merek Firefly dalam sebuah acara pemilik kendaraan.

Yang menarik, baterai anyar ini bersumber dari CATL dan memiliki dimensi fisik yang sama dengan unit lama. Perbedaannya terletak pada kimia sel. Jika paket 42,1 kWh memakai lithium-iron phosphate, paket 60 kWh disebut beralih ke kimia nickel-cobalt-manganese. Perubahan komposisi inilah yang memungkinkan kapasitas bertambah tanpa mengubah ukuran paket baterai.

Upgrade Tanpa Ubah Ukuran Paket

Pendekatan ini menjawab salah satu keterbatasan terbesar kendaraan listrik: kapasitas baterai yang terkunci sejak kendaraan keluar dari pabrik. Pemilik Firefly yang merasa daya jelajah awal tidak memadai kini punya opsi konkret untuk menambah jangkauan tanpa harus mengganti mobil.

Nio sendiri bukan pemain baru dalam soal baterai yang bisa ditukar. Selama bertahun-tahun, pabrikan asal China ini mengoperasikan stasiun penukaran baterai bergaya car wash yang memungkinkan pengisian ulang dalam hitungan menit, bukan setengah jam atau lebih. Layanan berlangganan battery-as-a-service mereka juga membolehkan pemilik memilih paket lebih besar atau lebih kecil di stasiun penukaran sesuai kebutuhan.

Kemampuan upgrade ke paket lebih besar kemungkinan besar dilakukan di stasiun penukaran baterai Nio. Mobil dari sub-merek Firefly baru-baru ini mendapat akses ke stasiun tersebut berkat desain stasiun generasi terbaru. Namun, belum jelas berapa biaya upgrade ini, dan apakah pemilik bisa menyewa paket lebih besar atau harus membelinya secara langsung.

Konsep ini sejatinya bukan hal baru bagi Nio, tetapi penerapannya pada Firefly menunjukkan arah berbeda. Firefly adalah kendaraan yang menyasar segmen lebih terjangkau, bukan mobil mewah. Artinya, upgrade baterai bukan lagi kemewahan eksklusif, melainkan layanan yang bisa dijangkau pemilik city car listrik.

Sebagai pembanding, di pasar Amerika Serikat konsep ini nyaris tidak eksis secara signifikan. Penukaran baterai di sana umumnya menjadi langkah terakhir ketika paket sudah rusak total. Ada masa ketika Tesla menawarkan penggantian baterai berkapasitas lebih besar untuk Roadster, tetapi secara umum kendaraan terkunci pada kapasitas dan jangkauan bawaan, yang keduanya menurun seiring bertambahnya jarak tempuh dan siklus pengisian.

Satu pengecualian di Barat tampaknya adalah Ferrari. Ketika memperkenalkan Luce EV, Ferrari menyebut desain modulnya akan memungkinkan pemilik memanfaatkan kimia dan peningkatan baterai yang lebih baru seiring waktu. Bedanya, Ferrari bukanlah mobil untuk semua orang seperti Firefly.

Detail Harga Masih Menunggu Peluncuran

Sampai saat ini, Nio belum mengungkap berapa biaya upgrade maupun mekanisme pembayarannya. Detail lebih lanjut dilaporkan akan diumumkan pada acara peluncuran 23 Oktober. Informasi tersebut akan menjadi penentu apakah skema ini benar-benar menarik bagi pemilik Firefly eksisting.

Bagi pemilik yang sejak awal merasa jangkauan Firefly kurang, kabar ini jelas disambut positif. Dengan baterai 60 kWh, jarak tempuh melonjak dari 420 km menjadi 560 km pada siklus CLTC, selisih yang cukup besar untuk mengubah pengalaman pemakaian harian. Namun perlu dicatat, angka CLTC dikenal lebih longgar dibanding standar pengujian lain, sehingga jangkauan dunia nyata akan lebih rendah.

Langkah Nio ini juga mempertegas posisi baterai sebagai komponen yang bisa terus berkembang, bukan sekadar part yang menua. Selama bertahun-tahun, Nio juga mencatat pencapaian operasional lewat jaringan penukaran baterainya yang masif. Pendekatan hardware-as-a-service semacam ini menjadi pembeda tersendiri di tengah persaingan kendaraan listrik global yang makin ketat.

Untuk pasar Indonesia, skema serupa belum tentu langsung relevan mengingat infrastruktur penukaran baterai masih terbatas. Namun bagi pengamat industri, langkah Nio menjadi sinyal bahwa model bisnis kendaraan listrik bisa lebih fleksibel daripada sekadar jual-beli unit. Sejumlah inisiatif lokal juga mulai mengadopsi semangat pembaruan berkelanjutan, seperti yang terlihat pada pembaruan fitur di layanan digital sehari-hari maupun fitur baru WhatsApp yang menyasar kenyamanan pengguna.

Yang pasti, Nio menempatkan upgrade baterai sebagai bagian dari layanan purna jual, bukan sekadar spesifikasi teknis di brosur. Bila biayanya masuk akal, Firefly bisa menjadi contoh bagaimana kendaraan listrik berevolusi setelah dijual, bukan hanya sebelum.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.