Telset.id – Mulai pekan ini, seluruh mobil baru yang didaftarkan di Uni Eropa wajib dilengkapi sistem Advanced Driver Distraction Warning (ADDW). Kebijakan ini merupakan perluasan dari General Safety Regulation untuk menekan angka kecelakaan lalu lintas yang masih tinggi.
Keputusan Komisi Eropa ini mewajibkan pabrikan mobil memasang kamera yang terus-menerus memantau mata dan ekspresi wajah pengemudi. Sistem akan memberikan peringatan suara jika mendeteksi pengemudi terlalu lama mengalihkan pandangan dari jalan.
Meski bertujuan meningkatkan keselamatan, kebijakan ini langsung menuai kritik dari berbagai pihak. Kekhawatiran utama adalah potensi penyalahgunaan data pribadi yang dikumpulkan oleh sistem pemantauan tersebut.
Teknologi ADDW sebenarnya sudah banyak diterapkan pada mobil modern. Kamera kecil dipasang di belakang kemudi atau di atas layar infotainment di dasbor. Sistem ini aktif secara konstan dan dapat memberikan peringatan berupa bunyi atau notifikasi keselamatan di layar.

Pada beberapa model, sistem bahkan bisa menonaktifkan fitur cruise control otomatis jika mendeteksi pengemudi tidak fokus. Ini menunjukkan bahwa teknologi tersebut tidak hanya bersifat pasif, tetapi juga dapat mengambil alih kendali kendaraan dalam situasi tertentu.
European Conservative mengkritik langkah ini sebagai bentuk overregulasi Uni Eropa yang mengganggu. Mereka juga menyoroti kurangnya kejelasan tentang bagaimana data dari sistem ADDW akan dikelola dan dilindungi.
Sesuai aturan, sistem ADDW seharusnya beroperasi dalam closed-loop system, di mana semua data diproses secara lokal di mobil dan tidak pernah diunggah ke server pihak ketiga. Namun, kekhawatiran muncul karena sejak April 2018, semua mobil penumpang baru di EU sudah diwajibkan memiliki sistem eCall yang secara otomatis menghubungi layanan darurat saat terjadi kecelakaan.
Ditambah lagi, firma konsultan McKinsey memprediksi bahwa 95% kendaraan akan terhubung ke internet pada tahun 2030. Hal ini membuat banyak pihak khawatir bahwa data pemantauan pengemudi pada akhirnya bisa bocor keluar dari kendaraan.

Analisis yang dilakukan Mozilla pada tahun 2023 mengungkapkan temuan mengejutkan. Setelah meneliti kebijakan privasi dari 25 merek mobil, Mozilla menyimpulkan bahwa mobil adalah “kategori produk terburuk yang pernah kami ulas untuk privasi.” Setiap merek yang diteliti gagal memenuhi standar privasi dan keamanan mereka sendiri.
Pada tahun 2024, Jaksa Agung Texas membuka penyelidikan terhadap beberapa pabrikan mobil setelah laporan yang menyebutkan bahwa mereka telah mengumpulkan data pengemudi dalam jumlah besar dan menjualnya ke pihak ketiga. Ini menjadi preseden buruk bagi implementasi ADDW di masa depan.
European Conservative juga menyoroti minimnya kejelasan dari Uni Eropa tentang bagaimana data pengemudi ditangani. Tanpa regulasi yang jelas, data dari sistem ADDW berpotensi digunakan untuk menentukan premi asuransi atau bahkan menjadi alat bukti di pengadilan.
Selain masalah privasi, efektivitas teknologi ADDW juga dipertanyakan. Sistem yang diimplementasikan dengan buruk justru bisa menjadi sumber distraksi baru bagi pengemudi. Banyak pengemudi mengeluh bahwa peringatan dari sistem ini sering muncul saat mereka hanya mencoba mencari fungsi sederhana di layar sentuh yang rumit.
Di satu sisi, Euro NCAP mengatakan akan menargetkan teknologi keselamatan yang “mengganggu.” Namun di sisi lain, Uni Eropa justru mewajibkan ketergantungan yang lebih besar pada sistem-sistem ini. Kontradiksi ini membuat banyak pengemudi bingung menghadapi era baru regulasi keselamatan kendaraan.
Meskipun bertujuan mulia untuk mengurangi angka kecelakaan, implementasi ADDW menimbulkan dilema antara keselamatan dan privasi. Di satu sisi, teknologi ini bisa menyelamatkan nyawa. Di sisi lain, potensi penyalahgunaan data sangat nyata dan mengkhawatirkan.
Komisi Eropa beralasan bahwa angka kematian dan cedera akibat kecelakaan lalu lintas masih terlalu tinggi, meskipun jalan-jalan di Eropa termasuk yang teraman di dunia. Perluasan General Safety Regulation ini juga mencakup persyaratan lain seperti sistem pengereman darurat yang mendeteksi pejalan kaki dan pengendara sepeda, serta visi ke depan yang lebih baik.
Bagi konsumen yang peduli dengan privasi data, situasi ini menjadi pengingat penting. Teknologi keselamatan di mobil modern tidak hanya mengumpulkan data tentang cara Anda mengemudi, tetapi juga data biometrik seperti gerakan mata dan ekspresi wajah.
Untuk mengantisipasi risiko ini, pengguna dapat mulai mempelajari kebijakan privasi dari pabrikan mobil mereka. Memahami bagaimana data dikumpulkan, diproses, dan dibagikan adalah langkah pertama untuk melindungi privasi di era kendaraan yang semakin terhubung.
Kekhawatiran serupa juga muncul di industri teknologi lainnya. Google Akuisisi Fitbit sebelumnya juga menuai kekhawatiran tentang bagaimana data kesehatan pengguna akan dikelola. Ini menunjukkan bahwa masalah privasi data bukan hanya terjadi di industri otomotif, tetapi juga di sektor teknologi secara luas.
Di sisi lain, kekhawatiran tentang penggantian peran manusia oleh teknologi juga semakin marak. Pekerja Khawatir Digantikan Robot di berbagai negara menunjukkan bahwa otomatisasi dan teknologi pemantauan menimbulkan kecemasan baru di kalangan tenaga kerja.
Kembali ke masalah ADDW, sistem ini menggunakan kamera kecil yang dipasang di belakang kemudi atau di atas sistem infotainment. Kamera aktif secara konstan dan memonitor mata serta ekspresi wajah pengemudi. Sistem akan mengintervensi jika mendeteksi pengemudi terlalu lama melihat ke arah lain.
Sistem dari berbagai pabrikan saat ini bervariasi, mulai dari bunyi bip dan notifikasi keselamatan di layar hingga penonaktifan cruise control otomatis. Semakin canggih sistemnya, semakin besar pula data yang dikumpulkan tentang perilaku pengemudi.

Kritikus menekankan bahwa ADDW seharusnya beroperasi secara tertutup. Semua data harus diproses secara lokal di mobil dan tidak pernah diunggah ke server pihak ketiga. Namun, dengan adanya sistem eCall dan prediksi bahwa 95% kendaraan akan terhubung ke internet pada 2030, kekhawatiran ini sulit diabaikan.
Analisis Mozilla pada 2023 menemukan bahwa 25 merek mobil gagal memenuhi standar privasi mereka sendiri. Ini menjadi peringatan keras bagi konsumen bahwa data mereka mungkin tidak seaman yang dijanjikan.
Penyelidikan Jaksa Agung Texas pada 2024 terhadap beberapa pabrikan mobil menambah daftar panjang masalah privasi di industri ini. Data pengemudi yang dikumpulkan dalam jumlah besar dan dijual ke pihak ketiga adalah skenario yang sangat mungkin terjadi.
Kurangnya kejelasan dari Uni Eropa tentang penanganan data membuat potensi penyalahgunaan semakin besar. Data ADDW bisa digunakan untuk menentukan premi asuransi atau menjadi alat bukti di pengadilan tanpa sepengetahuan atau persetujuan pengemudi.
Selain itu, implementasi ADDW yang buruk bisa menjadi sumber distraksi baru. Banyak pengemudi mengeluh bahwa sistem memberikan peringatan saat mereka hanya mencoba mencari fungsi di layar sentuh. Ironisnya, teknologi yang seharusnya meningkatkan fokus justru bisa mengalihkan perhatian.
Euro NCAP berjanji akan menargetkan teknologi keselamatan yang “mengganggu,” tetapi Uni Eropa justru mewajibkan ketergantungan yang lebih besar pada sistem ini. Kontradiksi ini menciptakan kebingungan di kalangan pengemudi dan industri otomotif.
Pada akhirnya, kebijakan ADDW di Uni Eropa adalah langkah maju dalam keselamatan berkendara, tetapi juga membuka pintu bagi potensi pelanggaran privasi yang serius. Konsumen perlu waspada dan proaktif dalam melindungi data mereka.
Bagi pengemudi di Indonesia, kebijakan ini mungkin belum berlaku langsung. Namun, tren global menuju kendaraan yang lebih terhubung dan dipantau pasti akan sampai ke pasar domestik. Memahami risiko dan cara melindungi privasi adalah langkah bijak yang bisa dilakukan sejak sekarang.





Komentar
Belum ada komentar.