Telset.id – Penjualan buruk Mercedes-Benz CLA listrik di China menimbulkan keraguan serius terhadap prospek peluncuran Mercedes-Benz GLC EV yang akan datang. Data terbaru menunjukkan model andalan entry-level tersebut gagal menarik minat konsumen, memicu spekulasi penghentian produksi di tengah tekanan persaingan pasar.
Sejak November 2025, Mercedes-Benz mengandalkan CLA listrik sebagai garda terdepan elektrifikasi. Mobil ini diposisikan sebagai model “paling efisien dan cerdas” dengan arsitektur MB.OS yang terintegrasi dengan model bahasa besar Doubao milik ByteDance serta sistem pilot-assist hasil kerja sama dengan Momenta. Strategi pemasaran agresif pun dijalankan, termasuk uji jalan jarak jauh dan penempatan di turnamen tenis China Open.
Namun, hasilnya jauh dari harapan. Data penjualan bulanan dari Februari hingga Mei 2026 hanya mencapai 21, 358, 52, dan 161 unit. Total penjualan sejak peluncuran bahkan belum menyentuh angka 5.000 unit. Angka ini sangat kontras dengan target awal Mercedes-Benz yang optimistis terhadap pasar kendaraan listrik China, pasar otomotif terbesar di dunia.
Kondisi ini mendorong manajemen untuk mempertimbangkan langkah drastis. Sumber internal yang dikutip Jiemian News mengungkapkan bahwa Mercedes-Benz telah mendiskusikan penghentian produksi CLA listrik untuk mengelola stok yang membengkak dan mengalihkan kapasitas ke model yang lebih prospektif, yaitu GLC listrik.
GLC Listrik: Harapan Baru di Tengah Badai
Mercedes-Benz kini menggantungkan harapan besar pada GLC EV, yang menjadi model pertama yang dibangun di atas platform MB.EA khusus listrik. Mobil ini telah debut di Beijing Auto Show pada April 2026 dan dijadwalkan meluncur secara resmi pada 8 Juli 2026, dengan harga pra-pemesanan mulai dari 349.000 yuan (sekitar 51.300 dolar AS).
Spesifikasi teknis GLC EV cukup menjanjikan. Mobil ini mengusung platform 800V dan sistem penggerak eATS 2.0 yang tersedia dalam varian penggerak roda belakang (RWD) motor tunggal dan penggerak semua roda (AWD) motor ganda. Dari segi interior, GLC EV dibekali layar hyperscreen MBUX terintegrasi 39,1 inci, asisten suara bertenaga AI, dan kemampuan mengemudi otonom bersyarat level L3. Dimensi wheelbase juga diperpanjang hingga 3.027 mm untuk kenyamanan kabin.

Sayangnya, prospek GLC EV tidak secerah spesifikasinya. Pasar otomotif China sedang mengalami koreksi signifikan. China Passenger Car Association (CPCA) merevisi proyeksi penjualan tahunan dari penurunan 1% menjadi penurunan 11%—setara dengan berkurangnya hampir 2,6 juta kendaraan. Dalam konteks ini, GLC EV akan bersaing ketat dengan BMW iX3 yang berbasis platform Neue Klasse dan Audi Q6L e-tron yang dilengkapi sistem mengemudi cerdas Qiankun buatan Huawei.
Persaingan dari pabrikan domestik pun tak kalah sengit. Model-model dari Aito, Li Auto, Nio, Leapmotor, dan Xpeng terus mencatatkan volume pesanan yang kuat. Hal ini menunjukkan bahwa konsumen China semakin beralih ke merek lokal yang menawarkan teknologi dan harga lebih kompetitif.
Baca Juga:
Kinerja Keseluruhan Merosot Tajam
Masalah penjualan CLA listrik bukan satu-satunya tantangan. Secara keseluruhan, Mercedes-Benz yang masih sangat bergantung pada penjualan kendaraan bermesin pembakaran internal (ICE) mengalami penurunan penjualan bulanan yang signifikan di China. Pada Mei 2026, merek ini hanya menjual 25.699 unit, turun 34,9% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Penurunan ini terutama disebabkan oleh merosotnya permintaan mobil ICE di tengah peralihan cepat ke kendaraan listrik.
Sejak Februari 2025, Mercedes-Benz telah melakukan dua putaran PHK di China akibat menurunnya laba dari penjualan yang menyusut. Upaya manajemen untuk memanfaatkan strategi lokalisasi dan meningkatkan daya saing produk belum membuahkan hasil yang memuaskan. Teknologi ChatGPT yang diintegrasikan ke dalam sistem infotainment juga belum cukup menjadi pembeda di pasar yang sangat kompetitif.
Kegagalan CLA listrik menjadi sinyal peringatan bagi strategi elektrifikasi Mercedes-Benz di China. Dengan total penjualan yang masih jauh dari target, perusahaan terpaksa mempertimbangkan realokasi sumber daya. Jika GLC EV juga gagal bersaing, posisi Mercedes-Benz di pasar kendaraan listrik China bisa semakin terpinggirkan oleh pemain lokal yang lebih agresif dan inovatif.
Situasi ini menunjukkan bahwa keunggulan merek premium tidak lagi cukup untuk menjamin kesuksesan di China. Konsumen di negara tersebut semakin cerdas dan menuntut nilai lebih, baik dari segi teknologi, harga, maupun pengalaman pengguna. Mercedes-Benz harus segera mengevaluasi pendekatannya jika ingin tetap relevan di era elektrifikasi.

Dengan peluncuran GLC EV yang tinggal menghitung hari, semua mata tertuju pada apakah model ini bisa menjadi penyelamat atau justru menambah daftar panjang kegagalan. Sementara itu, BMW dan Audi juga bersiap meluncurkan model listrik baru mereka, membuat persaingan di segmen SUV listrik premium semakin panas. Motor Axial Flux untuk AMG GT juga menunjukkan bahwa Mercedes masih punya inovasi, namun apakah cukup untuk membalikkan keadaan di China?





Komentar
Belum ada komentar.