📑 Daftar Isi

Lucid Cosmos EV crossover SUV yang peluncurannya ditunda ke 2027

Lucid Tunda Cosmos EV ke 2027 Demi Hindari Masalah Kualitas

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️4 menit membaca
Bagikan:
  • Lucid Motors menunda peluncuran Cosmos EV ke paruh kedua 2027, mundur hampir satu tahun dari jadwal awal
  • CEO baru Silvio Napoli mengambil langkah ini untuk menghindari masalah kualitas yang membayangi model sebelumnya
  • Cosmos adalah EV termurah Lucid dengan harga di bawah US$50.000 dan dibangun di platform mid-size baru
  • Napoli melakukan PHK 18% pada Juni, menyusul PHK 12% sebelumnya, dan membatalkan shift kedua di pabrik Arizona
  • Target penghematan US$1,4 miliar dikejar dengan perombakan total jajaran C-suite
  • Harga saham Lucid anjlok lebih dari 15% setelah pengumuman penundaan
  • Perusahaan memperingatkan volume produksi dan penjualan tahun ini akan lebih rendah dari prediksi
  • Fokus beralih ke layanan robotaxi dengan Uber dan Nuro yang akan diluncurkan akhir tahun ini
  • Uber memesan 10.000 Gravity SUV dan 25.000 robotaxi berbasis platform mid-size Lucid

Telset.id – Lucid Motors resmi menunda peluncuran crossover SUV terjangkau pertamanya, Cosmos, hingga paruh kedua 2027. Penundaan hampir satu tahun ini merupakan bagian dari upaya CEO baru, Silvio Napoli, untuk menghindari masalah kualitas yang selama ini membayangi kendaraan listrik buatan Lucid.

Keputusan ini menjadi pukulan terbaru bagi perusahaan yang kesulitan memperluas pangsa pasar di luar segmen niche. Padahal, Cosmos sempat dianggap sebagai harapan baru karena dibanderol di bawah US$50.000, jauh lebih murah dibanding model lainnya. Napoli menyebut langkah ini sebagai konsekuensi yang harus diambil agar perusahaan bisa bertahan.

Pengakuan Jujur CEO soal Masalah Eksekusi

Dalam panggilan konferensi laba kuartal kedua, Napoli mengakui kegagalan perusahaan dalam berbagai aspek. “Tidak diragukan lagi Lucid membawa inovasi terdepan dan produk luar biasa ke pasar, namun kami mengecewakan di beberapa sisi, dan sudah terlalu lama,” ujarnya. “Kami tidak konsisten dalam eksekusi. Kami meleset dari komitmen, meluncurkan produk sebelum siap, kurang berinvestasi di layanan, merespons masalah kualitas terlalu lambat, dan membiarkan kompleksitas memperlambat pengambilan keputusan.”

Penilaian blak-blakan ini menjelaskan mengapa Napoli melakukan perombakan besar-besaran sejak resmi menjabat pada 1 Juni. Beberapa eksekutif telah hengkang, termasuk Senior Vice President of Finance Gagan Dhingra yang pengunduran dirinya diungkap dalam laporan keuangan ke SEC pada Selasa. Napoli mengganti para eksekutif tersebut dengan jajaran C-suite yang sepenuhnya baru.

Langkah ini sejalan dengan rencana operational reset yang tengah dijalankan Lucid. Target penghematan yang dikejar mencapai US$1,4 miliar hingga akhir tahun ini.

PHK Massal dan Penurunan Produksi

Napoli telah memangkas 18% tenaga kerja Lucid pada Juni, menyusul PHK 12% yang terjadi awal tahun sebelum ia bergabung. Ia juga membatalkan shift kedua di pabrik Arizona karena permintaan yang lebih rendah untuk EV mereka, termasuk Gravity SUV yang tidak melesat seperti yang diharapkan meski bentuknya lebih populer dibanding sedan Air.

Cosmos seharusnya menjadi kendaraan pertama yang dibangun di atas platform EV “mid-size” generasi baru Lucid, yang lebih kecil dan lebih murah untuk diproduksi. Harga yang jauh lebih rendah diharapkan mampu menarik lebih banyak pelanggan dan meningkatkan volume penjualan. Namun Napoli khawatir keuntungan dari peluncuran Cosmos bisa sia-sia jika kualitasnya tidak tepat sejak awal.

Meski tidak menyebut nama secara eksplisit, Napoli mengatakan ia menunda Cosmos karena tidak ingin menghadapi masalah serupa dengan kendaraan sebelumnya, yang jelas merujuk pada Gravity. Lucid memang telah bergulat dengan masalah kualitas build dan software pada Gravity. Kondisinya sempat memburuk hingga CEO interim sebelumnya, Marc Winterhoff, meminta maaf kepada para pemilik Lucid.

“Kami tidak akan mengulangi kesalahan masa lalu dengan membawa produk ke pasar sebelum siap,” tegas Napoli.

Dampak pada Pemasok dan Kondisi Keuangan

Keputusan menunda Cosmos diperkirakan akan mengecewakan sebagian pelanggan yang berharap membelinya akhir tahun ini. Namun penundaan ini, ditambah penurunan produksi di Arizona, juga berdampak pada rantai pasokan Lucid. Dalam laporan kuartalan ke SEC, perusahaan menulis bahwa “volume produksi atau permintaan yang lebih rendah, atau pengurangan proyeksi volume produksi, telah berdampak negatif dan dapat terus berdampak buruk pada hubungan kami dengan pemasok yang ada, yang mungkin mencari kenaikan harga, mengajukan klaim kontraktual, atau gagal memenuhi kewajiban kontraktual.”

Lucid menyatakan memiliki “likuiditas yang cukup hingga jauh ke 2027.” Namun perusahaan juga memperingatkan analis Wall Street bahwa mereka akan memproduksi dan menjual lebih sedikit kendaraan tahun ini dari prediksi sebelumnya. Akibatnya, harga saham perusahaan anjlok lebih dari 15% pada Rabu.

Dengan tertundanya Cosmos, perhatian kini beralih ke layanan robotaxi yang direncanakan bersama Uber dan Nuro, yang dijadwalkan diluncurkan akhir tahun ini. Napoli menyebutnya sebagai “prioritas utama dan proyek yang harus dimenangkan untuk Lucid.” Sebagai bagian dari kolaborasi ini, Uber telah memesan 10.000 unit Gravity SUV yang akan dipasangi teknologi otonom dari Nuro. Uber juga memesan 25.000 robotaxi berbasis platform mid-size Lucid, meski produksinya baru dimulai akhir 2028.

CEO Uber, Dara Khosrowshahi, menyebut langkah Napoli sebagai “langkah berani untuk kembali ke fundamental” di Lucid. Ia menilai restrukturisasi ini “perlu” dan “positif.” Khosrowshahi juga menyoroti bahwa pemilik mayoritas Lucid, Public Investment Fund Arab Saudi, merupakan investor besar di Uber dan menyebut Kerajaan sebagai “definisi investor fundamental jangka panjang.”

“Kami pikir kombinasi kami, Nuro, dan dukungan Public Investment Fund untuk Lucid, bersama dengan tindakan yang diambil Silvio, adalah formula yang tepat bagi mereka untuk memenuhi komitmen yang kami miliki,” kata Khosrowshahi.

Kabar ini tentu menjadi perhatian bagi para pengamat industri, terutama setelah sebelumnya Lucid Gravity mencetak rekor dunia berkat fitur V2L. Namun kini perusahaan harus bertahan setahun lagi sebelum Cosmos masuk produksi. Dengan strategi baru yang lebih hati-hati, Lucid berharap peluncuran berikutnya tidak lagi dihantui masalah kualitas yang selama ini menjadi momok.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.